Anggota DPRD Bulukumba Diduga Aniaya ASN
PLUZ.ID, MAKASSAR – Seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Bulukumba, Andi Awal Nurhadi, melapor Polres Bulukumba telah menjadi korban penganiayaan yang diduga dilakukan oknum anggota DPRD Kabupaten Bulukumba.
Korban mengalami luka di bagian leher diduga bekas cengkeraman dan goresan kuku.
Pelaksana Harian (PL) Kasatreskrim Polres Bulukumba, Ipda Muhammad Dasri, membenarkan laporan Andi Awal.
“Rekan-rekan penyidik sudah menerima laporannya, untuk sementara dikenakan 351, pasal penganiayaan,” katanya.
Andi Awal menceritakan kronologis kejadian yang terjadi, Rabu (9/8/2020).
Menurutnya, saat itu ada rapat evaluasi triwulan kedua antara DPRD Bulukumba dan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) di Kantor DPRD Bulukumba.
Rapat berlangsung alot dan berujung Insiden. Statemen anggota DPRD, Andi Bakti yang menyebut TAPD “Pencuri Berjemaah” memicu keresahan anggota TAPD yang ada di ruangan tersebut.
“Saat rapat berlangsung, Pak Bakti mengeluarkan statemen bahwa TAPD pencuri berjemaah. Saat rapat diskorsing, karena memasuki waktu salat lohor, saya berusaha meminta penjelasan dari Pak Bakti. Saya dekati beliau untuk mempertanyakan maksud dari ucapannya,” beber Andi Awal.
Andi Awal menjelaskan, ia bertanya baik-baik. “Saya pegang lengannya, tanya baik-baik, dari mana dasarnya dia bilang organisasi pemerintah ini pencuri berjemaah, apa maksudnya,” ujar Andi Awal.
Tapi menurut Andi Awal, pertanyaannya ditanggapi dengan emosi. “Dia bilang saya melawan. Dan menendang kursinya ke belakang lalu menyerang saya,” jelas Kabid Aset di BPKD ini, usai melengkapi laporannya di Polres Bulukumba.
Insiden tersebut terjadi sekira pukul 12.00 WITA. Dari versi korban, oknum berdiri dari kursinya kemudian menyerang korban yang mundur selangkah dari posisi awalnya. Kerah baju korban diangkat, dan dicekik, bahkan kuku oknum mencederai leher korban. Usai kejadian Andi Awal langsung melakukan visum di RSUD Andi Sultan Dg Raja sebagai bukti penganiayaan.
Ketua DPRD Bulukumba, H Andi Rijal, mengatakan, insiden yang melibatkan dua lembaga hanya miskomunikasi. Berawal dari kedua instansi, yakni Dinas Kesehatan dan RSUD yang dinilai banyak masalah yang menjadi pemantik awal.
“Seperti diketahui Pak Bakti memang keras melihat persoalan tersebut,” katanya.
Sementara, Bakti kepada wartawan, mengatakan, ia hanya mempertanyakan anggaran pemeriksaan kesehatan jemaah haji di puskesmas yang harusnya dikembalikan sebesar Rp56 juta, namun di laporan terealisasi masih Rp2 juta dan post anggaran lainnya yang belum jelas bagi legislatif.
“Di sini awal permasalahannya. Saya hanya bertanya ke mana sisanya, apakah dicuri,” jelasnya.
Saat skorsing, aku Bakti, ia dihampiri dan dirangkul saat sedang mengobrol bersama Andi Irma yang menjabat sebagai Kabid Anggaran di DPKD untuk mengklarifikasi alur penggunaan anggaran.
Di tengah perbincangan keduanya, Andi Awal datang mempertanyakan maksud dari statemennya terkait pencuri berjamaah.
“Tapi Pak Bakti bilang tunggu dulu, saya selesaikan dulu sama Andi Irma, tapi Andi Awal masih bertanya sehingga terjadilah insiden itu. Tapi kita harap ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan karena ini antara legislatif dan eksekutif,” tambah H Rijal yang mendengarkan langsung penjelasan politisi dari Fraksi Gerindra itu. (***)