Tajerimin Kunjungi Ponpes AGH Sanusi Baco
PLUZ.ID, MAROS – Komitmen menerapkan standar protokol kesehatan dalam setiap kegiatan dibuktikan Andi Tajerimin di Ponpes Nadhlatul Ulum, Soreang, Maros, Jumat (25/9/2020).
Komitmen yang kali ini cukup mudah dilakukan sebab para santri memang sudah terbiasa dengan standar itu sejak pandemi melanda.
Makanya, Tajerimin mengaku, bahagia mengucapkan terima kasih karena telah diajak bersilaturahmi dengan para santri.
“Tadi waktu masuk, saya langsung teringat ketika menginisiasi pesantren pertama di Timika. Pesantren yang kami beri nama DDI setelah meminta izin pada pimpinan pusat DDI Mangkoso,” ujarnya di hadapan pendiri dan pimpinan pesantren AGH Sanusi Baco.
Ini kali kedua Tajerimin bertemu AGH Sanusi Baco. Pekan lalu, di di kediaman pribadi sang Anregurutta di Makassar.
Tajerimin mengisahkan, pesantren itu awalnya hanya tujuh santri. Sepuluh tahun berlalu, kini sudah 800-an santri.
Kandidat yang berpasangan Havid S Fasha itu, menyebut, pesantren sangat penting sebagai instrumen pendidikan.
“Makanya kami akan memberi perhatian khusus kepada pondok pesantren dan pondok tahfiz di Maros nantinya,” imbuh kandidat dengan nomor urut 1 itu.
Mendengar Anregurutta membeberkan, ada banyak santri Nahdlatul Ulum yang lanjut ke Kairo, Mesir dan beberapa di antaranya sudah S2, Tajerimin langsung memaparkan program unggulannya. Yakni mengalokasikan beasiswa untuk warga Maros yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi. Bahkan, hingga tingkat doktoral.
Tajerimin sebagai kader Nahdlatul Ulama (NU) juga menegaskan akan selalu bersama-sama dengan ulama.
Anregurutta yang memberi sambutan mengatakan, kebahagiaan tersendiri dikunjungi Tajerimin, bersama rombongan, termasuk Ketua DPRD Maros Andi Patarai Amir, Ketua Tim Pemenangan Keluarga Tahfidz Nurhasan, petinggi Partai Golkar, PKB, dan lainnya.
“Pesantren ini kami dirikan tahun 2002 lalu,” sebutnya.
Anregurutta memaparkan, Nahladul Ulum berarti kebangkitan ilmu pengetahuan. Dengan harapan bisa menjadi penopang Nahdlatul Ulama yang berarti kebangkitan ulama.
“Kalau ilmu pengetahuan bangkit, ulama-ulama akan lahir,” ucap Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulsel itu.
Pertemuan diawali dengan salat Asar berjemaah di Masjid Rabiatul Adawiyah, di dalam kompleks pesantren. Setelah itu acara silaturahmi dengan santri, disusul bincang santai di ruang kerja Anregurutta.
Anregurutta memberi hadiah buku kisah perjalanan hidupnya kepada Tajerimin.
“Mohon doa Gurutta, serta para santri. Saya mau mengabdikan diri untuk Maros,” ucap Tajerimin. (***)