search
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Langkah Kementan Mengantisipasi Iklim Ekstrim

doelbeckz - Pluz.id Sabtu, 02 Januari 2021 10:00
BERI PENJELASAN. Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, menjelaskan mengenai langkah gerak cepat mengantisipasi kemungkinan adanya iklim ekstrim yang mempengaruhi jalannya produksi pangan di musim 2021 pada salah satu program berita televisi swasta nasional. foto: istimewa
BERI PENJELASAN. Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, menjelaskan mengenai langkah gerak cepat mengantisipasi kemungkinan adanya iklim ekstrim yang mempengaruhi jalannya produksi pangan di musim 2021 pada salah satu program berita televisi swasta nasional. foto: istimewa

PLUZ.ID, JAKARTA – Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, memastikan tahun ini, pihaknya akan melakukan gerak cepat mengantisipasi kemungkinan adanya iklim ekstrim yang mempengaruhi jalannya produksi pangan di musim 2021.

Mentan mengatakan, antisipasi itu sudah dirancang dengan percepatan tanam, infrastruktur air, serta pencocokan validasi cuaca dengan menggunakan data BMKG.

“Selama ini kita selalu bersoal dengan masalah cuaca dan hama. Karena itu kita lakukan mapping serta kerjasana dengan BMKG. Yang pasti kita terus bergerak cepat. Mudah mudahan ini bisa berjalan dengan baik dan bukan hanya beras yang terpenuhi, tapi komoditas lain selalu tersedia,” ujar Mentan dalam salah satu program berita televisi swasta nasional dikutip melalui siaran pers di situs Kementerian Pertanian, Sabtu (2/1/2021).

Mentan menyampaikan, keberhasilan Indonesia dalam menjaga ketersediaan pangan adalah modal utama dalam melakukan fokus kerja di tahun depan. Karena itu, pendekatan kerja yang diambil harus berjalan efektif dan efisien.

“Pertanian di 2021 itu sudah kita rancang pada 2020, karena itu kita hanya perlu melakukan intervensi agar produksi tahun depan berjalan dengan lancar serta sesuai dengan haraapn. Insya Alah, cuaca bisa kita kendalikan,” katanya.

Namun, secara umum, kata Mentan, pihaknya sudah mempersiapkan pasokan beras dari Musim Tanam 1 dan 2 yang digarap pada Januari-Juni 2020 dengan stok mencapai 7,4 juta ton, dimana produksi yang ada mencapai 17 juta ton dengan kebutuhan konsumsi sebesar 15 juta ton.

“Untuk kesiapan 2021 kami sudah masuk dari Oktober 2020 sampai panen raya di Maret 2021 mendatang dengan luas lahan 8 juta hektare dan hasilnya bisa mencapai 18,5 juta ton sampai Juni 2021. Berarti stok akhir kita di 2021 menyampai 8-9 juta ton,” katanya.

Terkait hal ini, Wakil Dirut Perum Bulog, Gatot Trihargo, mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan gudang-gudang beras di beberapa provinsi untuk menyerap hasil produksi di musim tanam Maret tahun depan. Persiapan itu bahkan sudah dimulai dengan menampung beras-beras hasil musim tanam di 2020.

“Masa panen raya di Maret mendatang sudah kita pergitungkan, dimana bulog akan melakukan penyerapan hasil produksi petani. Yang pasti kami akan melakukan koordinasi dengan Kementerian Pertanian,” katanya.

Bukan hanya itu, Gatot menyebutkan, perum Bulog akan mengupayakan penyediaan bansos beras untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat miskin. “Kita sedang upayakan bansos beras di 2021. ini program bagus karena bisa menyerap gabah lebih banyak lagi,” tutupnya. (***)

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


To top