search
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Unhas Tambah Tiga Guru Besar

doelbeckz - Pluz.id Selasa, 04 Mei 2021 23:30
PENGUKUHAN. Suasana pengukuhan tiga profesor menjadi guru besar yang digelar dalam Rapat Paripurna Senat Akademik Unhas di Ruang Senat Akademik Unhas, Kampus Tamalanrea, Makassar, Selasa (4/5/2021). foto: istimewa
PENGUKUHAN. Suasana pengukuhan tiga profesor menjadi guru besar yang digelar dalam Rapat Paripurna Senat Akademik Unhas di Ruang Senat Akademik Unhas, Kampus Tamalanrea, Makassar, Selasa (4/5/2021). foto: istimewa

PLUZ.ID, MAKASSAR – Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar mengukuhkan tiga profesor menjadi guru besar yang digelar dalam Rapat Paripurna Senat Akademik Unhas di Ruang Senat Akademik Unhas, Kampus Tamalanrea, Makassar, Selasa (4/5/2021). Rapat paripurna digelar dengan penerapan protokol Covid-19 secara ketat.

Prosesi pengukuhan dihadiri Rektor Unhas Prof Dr Dwia Aries Tina Pulubuhu MA, Ketua Majelis Wali Amanat Unhas Komjen Purn Dr HC Drs Syafruddin MSi), Ketua Dewan Profesor Prof Dr Mursalim, dan jajaran anggota senat.

Rapat paripurna dibuka dan dipimpin Ketua Senat Akademik Unhas, Prof Dadang A Suriamihardja. Turut hadir sejumlah tamu undangan, serta keluarga dari profesor yang dikukuhkan.

Tiga orang profesor yang dikukuhkan masing-masing adalah:

  1. Prof Dr Sartini MSi Apt. Profesor dalam bidang Ilmu Mikrobiologi, Fakultas Farmasi. Dikukuhkan sebagai guru besar ke- 422.
  2. Prof Dr Indrianty Sudirman SE MSi CRMP CRGP. Profesor dalam bidang Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Dikukuhkan sebagai guru besar ke-423.
  3. Prof Dr Darmawansyah SE MSi. Profesor dalam bidang Ilmu Ekonomi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat. Dikukuhkan sebagai guru besar ke-424.

Rektor Unhas Prof Dr Dwia Aries Tina Pulubuhu MA memberikan ucapan selamat kepada ketiga profesor dan fakultas masing-masing atas capaian ini.

Dwia berharap kehadiran guru besar yang baru dikukuhkan dapat menghadirkan dan meningkatkan kebermanfaatan universitas yang dapat dirasakan masyarakat.

Dwia mengungkapkan rasa bahagia atas pencapain Unhas yang mampu menduduki peringkat dua nasional dan peringkat 79 internasional dalam Times Higher Education (THE) Impact SDGs Rangking 2021.

“Terima kasih kepada peneliti yang telah sangat luar biasa menjalakankan tridharma, sehingga mendukung Unhas dengan nilai humaniversity dianggap sangat tepat. Inilah berkah dari ikhtiar yang kita lakukan bersama atas segala kontribusi membangun Unhas,” jelasnya.

Sebelumnya, ketiga dewan profesor telah menyampaikan pidato penerimaan yang membahas bidang keahlian masing-masing.

Prof Dr Sartini MSi Apt

Dalam pidato penerimaannya, Prof Sartini menjelaskan tentang ‘Prospek Katekin Teh Hijau Sebagai Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) untuk Terapi Pendamping Antibiotika B-Lactam Terhadap Bakteri. Methicillin Resistant Staphyloccus Aureus’.

Diketahui resistensi antibiotika saat ini masih menjadi masalah di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Dosis dari beberapa antibiotika yang diberikan sesuai takarannya sudah tidak mampu lagi mematikan beberapa bakteri patogen penyebab infeksi.

“Berdasarkan banyaknya antibiotika yang mengalami resistensi terhadap bakteri patogen, maka telah banyak dilakukan penelitian-penelitian pencarian antibiotika baru atau melalui sintesis antibiotika yang sudah ada, tetapi untuk dapat diproduksi dalam skala industri memerlukan waktu bertahun-tahun dan dana penelitian yang tinggi,” bebernya.

Sartini menjelaskan, OMAI adalah Obat Herbal Terstandar (OHT) dan Obat Fitofarmaka (FF) yang diproduksi di Indonesia, menggunakan bahan baku asli dari alam Indonesia. OMAI adalah obat modern berbahan alam yang telah diteliti secara saintifik dengan khasiat kuratif dan preventif, dapat menjadi alternatif unggulan dalam kemandirian obat nasional. Salah satu contoh OMAI yang indikasinya sebagai terapi kombinasi dengan obat sintesis adalah fraksi dari kayu manis.

“Ini tidak menutup kemungkinan sediaan ekstrak atau fraksi katekin teh hijau sebagai OMAI yang indikasinya selain sebagai antioksidan juga sebagai terapi supportif pada pemberian antiniotikan b-lactam dalam menghambat bakteri patogen resisten, khususnya MRSA,” jelasnya.

Prof Dr Indrianty Sudirman SE MSi CRMP CRGP

Pada kesempatan yang sama, Prof Indrianty memberikan penjelasan tentang ‘Markor Plus: Suatu Pendekatan Baru Untuk Pengayaan konsep Market Orientation’.

Indrianty mengatakan, pemasaran dimaknai sebagai kegiatan perdagangan dan kegiatan perantara distribusi. Penekanan pada segi komoditas, institusional dan fungsional menjadi ciri khas perdagangan pada masa itu.

Pengertian orientasi pasar dikembangkan menjadi upaya penggalian informasi pasar, mendiseminasikannya ke seluruh organisasi, berespon berdasarkan intelijen pasar tersebut, dan memberikan pembelajaran kepada pelanggan mampu memahami dan menilai diferensiasi penawaran organisasi.

Konsekuensi logis dari pengembangan konsep orientasi pasar tersebut adalah perlunya menyertakan pengukuran pembelajaran pelanggan pada pengukuran orientasi pasar (skala Markor), sehingga menjadi Markor Plus.

“Saya mengajukan pembelajaran pelanggan sebagai kombinasi antara pendekaran market driven dan driving market. Pembelajaran pelanggan disintesakan dari kedua pendekatan tersebut, teori pembelajaran dan persepsi sebagai penggerak perilaku,” jelasnya.

Prof Dr Darmawansyah SE MSi

Selanjutnya, Prof Darmawansyah memberikan penjelasan mengenai ‘Kebijakan Pembiyaan Kesehatan di Indonesia: Tantangan Menuju Kemandirian Kesehatan di Era Pandemi Covid-19’.

Darmawansyah menjelaskan, Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 tahun 2009 menjelaskan bahwa pembiayan kesehatan bertujuan untuk penyediaan pembiayaan berkesinambungan dengan jumlah yang mencukupi, teralokasi secara adil, dan termanfaatkan.

Kebutuhan akan pembiayaan kesehatan sangat mendesak mengingat data survei secara konsisten menunjukkan untuk membiayai rawat inap seorang anggota keluarga, sebuah rumah tangga Indonesia harus mengeluarkan lebih dari sebulan gajinya.

Data menunjukkan 40,6 persen hari rawat di rumah sakit publik/pemerintah dikonsumsi 20 persen penduduk terkaya, sementara 20 persen penduduk termiskin hanya mengonsumsi 5,9 persen hari rawat.

Selain itu, di satu sisi masyarakat harus tetap waspada dengan membiasakan melakukan kombinasi 3T (testing, tracing dan treatment) serta 3M ( Memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan) untuk mencegah mobilitas yang menjadi faktor penyebarab Covid-19.

“Sesungguhnya sebagian besar masyarakat kita tidak akan mampu memenuhi kebutuhan kesehatannya. Diantara kita pun mungkin juga tidak mampu membiayai pelayanan kesehatan yang kita perlukan di saat kita menderita suatu penyakit berat dan mahal pengobatannya,” jelas Darmawansyah.

Di akhir pidatonya, Darmawansyah mengatakan, realokasi anggaran untuk pembinaan kesehatan masyarakat serta pencegahan dan pengendalian penyakit perlu diprioritaskan. Pembiayaan kesehatan yang kuat, stabil dan berkesinambungan sangat diperlukan guna mencapai tujuan penting pembangunan kesehatan yakni pemerataan dalam pelayanan kesehatan dan akses (equitable access to health care) serta pelayanan yang berkualitas (assured quality). (***)

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


To top