PLUZ.ID, MAKASSAR – Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar sudah menghabiskan anggaran Rp50,2 miliar untuk menjalankan program unggulan Makassar Recover yang berjalan sejak 17 Maret 2021 lalu.
Hal ini mendapatkan perhatian dari Penggiat Anti Korupsi, Djusman AR. Menurutnya, anggaran sebesar itu patut dipertanyakan. Apalagi, penjelasannya tidak merincikan secara jelas realisasi program dan outputnya terhadap penggunaan anggaran Makassar Recover, terkhusus biaya operasional dan belanja barang yang sudah menghabiskan anggaran 50,2 miliar sejak diluncurkan pada 17 Maret 2021 lalu.
Koordinator Forum Komunikasi Lintas (FoKaL) NGO Sulawesi ini, mengingatkan, agar Pemkot Makassar berhati-hati dalam menggunakan anggaran penanganan Covid-19 tersebut.
Djusman meminta para Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) wajib merujuk pada sistem akuntansi manajemen belanja apalagi berkaitan anggaran bencana pandemi.
“Kami ingatkan ke KPA terkait penggunaan anggaran Makassar Recover,” kata Djusman, Senin (10/5/2021), merespons keterangan Juru Bicara (Jubir) Makassar Recover, Indira Mulyasari, Jumat (7/5/2021) lalu.
Djusman juga mengingatkan agar para master kecamatan, harus hati-hati terkait penggunaan anggaran penanganan Covid-19 pada program Makassar Recover.
Terkait dengan penggunaan anggaran yang ditarik dari refocusing anggaran dan APBD tak terduga merupakan perhatian serius KPK.
“Kita tidak inginkan, jangan sampai penggunaan anggaran mengarah pada tindakan korupsi,” katanya.
Djusman berharap, agar pengguna anggaran yang akan menghabiskan Rp380 miliar jangan sampai bermain, terutama markup.
“Semoga tidak ada penyalahgunaan. Dan jika ada, tentu kami tidak segan-segan akan melaporkannya,” tegas Djusman.
Pihaknya juga menyoroti paparan dalam jumpa pers yang tidak memberikan penjelasan rinci dan informasi ke publik terkait pusat informasi penanganan Makassar Recover.
“Kurang detail laporan alokasi anggarannya. Khususnya biaya operasional dan belanja barang,” ujarnya.
Selain itu, kata Djusman, Jubir Makassar Recover tersebut tidak menyertakan realisasi program dan outputnya.
“Dalam masa kurang lebih 2 bulan, menghabiskan anggaran Rp50,2 miliar,” tambahnya.
Djusman juga mempertanyakan pusat informasi terkait penangangan/perkembangan Makassar Recover. Hal itu sangat penting bagi publik namun tidak diuraikan saat Indira menyampaikan keterangan kepada wartawan terkait penggunaan anggaran Makassar Recover.
Djusman mengatakan, sosialiasi ini penting, selain untuk diketahui publik secara luas, juga menjadi media kontrol bagi publik terkait penggunaan anggaran dan realisasi/capaian.
“Membaca angka Rp380 miliar dengan penggunaan Rp50 miliar di dua bulan pertama tentu mengundang tanya. Apalagi, tidak djelaskan secara rinci penggunaannya. Indikator perencanaan dan realisasi sulit dideteksi, mungkin lewat pusat informasi Makassar Recover-lah publik bisa akses,” jelasnya.
Juru Bicara Makassar Recover, Indira Mulyasari Paramastuti, sebelumnya mengatakan, anggaran awal untuk uji coba program ini lebih banyak dihabiskan untuk pengadaan alat kedokteran, vaksinator, detektor, dan pengadaan kontainer.
“Total anggaran yang sudah kita belanjakan Rp50,2 miliar. Itu untuk kebutuhan awal, seperti vaksinator, detektor, peralatan kedokteran, ada juga alat dan peralatan komputer, termasuk kontainer di setiap kecamatan, dan supporting anggaran dari Pemkot Makassar kepada pihak yang ikut ambil bagian menyukseskan Makassar Recover,” kata Indira, saat memberikan keterangan resmi, Jumat (7/5/2021).
Indira mengatakan, pihak-pihak yang dimaksud ikut ambil bagian menyukseskan Makassar Recover, yakni biaya operasional Satuan Tugas Pengurai Kerumunan atau dikenal dengan Satgas Raika yang terdiri dari personil Satpol-PP, Binmas, Babinsa, dan aparat TNI/Polri.
Juga termasuk pihak dari Persatuan Perawatan Nasional Indonesia (PPNU), dan Ikatan Dokter Paru Indonesia.
“Itu juga kami support anggaran dalam rangka penanganan Covid-19 dan program Makassar Recover ini. Jadi semua ini adalah belanja jasa, belanja barang, dan hal-hal yang diperlukan dalam tahap awal uji coba Makassar Recover,” jelas Indira.
Sementara, untuk total anggaran Makassar Recover ini, diasumsikan sebesar Rp380 miliar. Namun, jumlah ini sewaktu-waktu bisa berubah bergantung pada situasi dan kondisi Covid-19 di Makassar.
“Tapi kalau kita lihat keadaan, ini bisa saja kurang dari itu, karena kita lihat Makassar sudah menurun angka kasusnya,” kata Indira.
Selain itu, Indira juga membeberkan sejumlah bantuan yang telah diterima Pemkot Makassar dari pihak ketiga. Diantaranya, 4.000 dos obat tradisional dari Yayasan Budha Tzu Chi, kemudian ada face shield, sarung tangan, baju hazmat, dan sepatu boots dari PT Pegadaian. Lalu ada 11.200 masker medis dan masker KF94 dari Gojek, dan 1.000 pcs masker dari PT Pertamina.
Juru Bicara Makassar Recover lainnya, Maqbul Halim, menambahkan, sejumlah kegiatan, seperti testing, tracing, dan triase sudah dilakukan selama tahap uji coba dan rencananya program inti Makassar Recover akan dimulai secara serentak dalam waktu dekat ini.
“Program inti Makassar Recover akan segera berjalan, tidak lama setelah Idulfitri,” jelas Maqbul didampingi Juru Bicara Makassar Recover lainnya, Natsar Desi. (***)