search
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Prof Arfin Hamid Khotbah Idulfitri di Masjid Terapung: Berislam Secara Totalitas

doelbeckz - Pluz.id Kamis, 13 Mei 2021 12:00
Prof Dr HM Arfin Hamid SH MH. foto: istimewa
Prof Dr HM Arfin Hamid SH MH. foto: istimewa

PLUZ.ID, MAKASSAR – Prof Dr HM Arfin Hamid SH MH (Guru Besar Hukum Islam dan Ekonomi Syariah Unhas) juga Wakil Rektor I Universitas Islam Makassar (UIM), menjadi Khotib Idulfitri di Masjid Terapung Amirul Mukminin Makassar, Kamis (13/5/2021).

Prof Arfin Hamid, membawakan ceramah bertajuk ‘Berislamlah Secara Totalitas (Kaffah): Sebagai Modal Spritualism Pemberdayaan Umat’.

Allahu Akbar 3x Walillahilhamdu

Alhamdulillah di pagi yang cerah, ceriah dan meriah ini kita semua berada dalam status, kapasitas, dan orientasi yang sama, yaitu hadir untuk menpasrahkan diri semata-mata kepada Allah SWT.

Seraya mengumandangkan Takbir, Tahmid, dan Tasbih pertanda keberhasilan kita meraih kemenangan dan kefitrahan setelah melalui perjuangan berat menahan (berpuasa) sebulan penuh, Taqabbalallahu Minna Wa Minkun Taqabbal Ya Karim, Wa Minal Ai’idin Wal Faizhin.

Kita semua hadir dan berkumpul di sini terbuka dan transparan setelah kita semua melepaskan atribut-atribut kepangkatan, stratifikasi, kewenangan, dan bahkan segala urusan keduniaan dikesampingkan sementara, untuk rela datang berdiri, ruku, sujud.

Dan duduk seraya mengumandangkan Takbir dan Tahmid, bahwa kita semua adalah satu asal, sama dan sederajat, kita semua adalah makhluk Allah, kita semua adalah khalifah Allah, dan kita semua adalah milik Allah, dan kita semua akan kembali ke pangkuan Allah SWT (Inna Lillah Wa Inna Ilaihi Rajiun).

Dengan menyadari keberadaan kita yang demikian itu, sekaligus juga telah memposisikan diri kita masing-masing dalam kesatuan, kebersamaan, dan keikhlasan, dan kita semua tampak menyatu serta bersaudara, Innamal Mu’minuna Ikhwatun dan Wa’tashimu Bi Hablillahi Jami’an Wala Tafarraqu. Kondisi ini sekaligus menunjukkan suatu penyerahan diri secara totalitas dan sungguh-sungguh, Udkhulu Fi Assilmi Kaffah Wala Tattabi’u Khutuwati Syaitan (masukilah Islam (keselamatan) secara totalitas/menyeluruh dan janganlah mengikuti kehendak-kehendak syaitan), dan kita semua telah mengislamkan diri dan segala aktivitas kita secara totalitas atau kaffah.

Umat Islam diharapkan bisa menyegarkan terus pikiran-pikirannya agar kinerja dan kreatifitas umat juga terus berjalan dan mengalami peningkatan (increasing).

Terlihat adanya kecenderungan-kecendrungan bahwa proses kehidupan umat dipandang berjalan stagnan bahkan mendekati rutinitas. Akan tetapi, umat sudah selalu kreatif, responsif, dan adaptabilitas yang tinggi, sehingga kita semua dapat berkompetisi dan menampilkan pola-pola kehidupan Islami yang berkualitas.

Allahu Akbar 3x Walillahilhamdu

Suasana Idulfitri kali ini sungguh sangat mengesankan selain idulfitri yang lalu kita semua tidak merayakannya secara bersama-sama di masjid ataupun di lapangan, karena pandemi Covid-19 yang sangat menggejala saat itu. Salat Idulfitri pun dilakukan secara terbatas di rumah masing-masing bersama sanak saudara.

Kini Idulfitri kita sudah merayakannya secara bersama-sama namun sangat sarat dengan protokol kesehatan, dan situasi dan kondisi lingkungan kitapun saat ini masih menyisakan kekhawatiran atas ancaman pandemic tersebut, bahkan masih banyak wilayah yang mencekam atau masih zona merah.

Suasana yang mencekam, berbahaya, dan berisiko bagi keselamatan jiwa dan harta telah dikenal sejak lama dalam dunia Islam, yaitu terkenal dengan istilah situasi daruriyyah (darurat). Kondisi darurat dapat terjadi karena bencana alam, suasana perang, dan wabah atau pendemi (tha’un) yang dapat dipastikan akan mengancam kehidupan dan umat manusia, serta diharuskan untuk menghadapinya karena itu semua adalah kehendak atau bahkan cobaan Allah SWT kepada makhluknya, Ma Ashabaka Min Mushibatin Illa Biisnillah, tiada suatu musibah pun kecuali dengan isin Allah SWT (at-Taghabun : 11).

Perlu dipahami dengan baik bahwa situasi darurat bukanlah situasi normal, melainkan sungguh tidak normal, sehingga hukum dan cara menyikapinya pun tidak normal, alias darurat. Tentunya akan timbul masalah manakala situasinya sudah darurat namun menyikapinya masih berpikiran normal, maka muncullah pemaksaan kehendak, takutlah pada Tuhan bukan pada corona. melawan aturan atau mengabaikan protokol yang telah ditetapkan.

Misalnya dalam menyikapi bahaya covid-19 tidak perlu terjadi ketegangan dimana-mana, tidak perlu terjadi pemaksaan kehendak kepada pihak lainnya, tidak perlu melawan kebijakan yang telah ditetapkan. Cukup dengan memposisikan keadaan ini darurat sebagaimana ditetapkan oleh pemerintah PSSB dan PPKM serta diikuti Fatwa MUI dengan penetapan situasi darurat dari sabang sampai merauke sebagai wilayatul hukmi.

Dengan illat/alasan darurat maka seluruh perintah atau kewajiban otomatis juga ikut berubah atau menyesuaikan, seperti shalat jumat dalam keadaan normal wajib, ketika situasi darurat bisa diganti dengan shalat dhuhur, shalat jamaah di masjid sunat muakadah dalam situasi darurat lebih afdlal salat di rumah, silaturrahmi wajib dalam kondisi normal menjadi tidak wajib dalam kondisi darurat bisa diganti secara online, sebagaimana kaidah Fiqih, Al-Masyaqqatu Tajlibul At-taysir (dibalik kesulitan ada kemudahan).

Salah satu asas/prinsip dalam pelaksanaan Syariah Islam sebagaimana kaidah fikih ditegaskan, Dar’ul Mafasid Muiqaddamun Ala Jalbil Mashalih, maksudnya menolak mudharat/bahaya harus didahulukan dari pada mengambil pahala (kebaikan).

Dengan tidak melaksanakan Salat Jumat atau berjemaah di masjid dalam masa darurat harus lebih didahulukan, karena menghindari anaman bahaya virus yang mematikan itu.

Lebaran dan Salat Idulfitri merupakan ibadah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) di masjid atau di lapangan sepanjang situasi dan kondisi normal. Akan tetapi jika situasi dalam keadaan mencekam atau darurat boleh dilaksanakan di rumah, seperti di Masjid Istiqlal saat ini.

Dalam suasana Idulfitri ada keharusan bersilaturahmi dengan sanak saudara untuk mencapai kesempurnaan fitrah manakala situasinya normal, tetapi jika situasi tidak normal, maka silaturahmi dapat dilakukan melalui online, medsos, dan perangkat IT lainnya.

Suatu hal mendasar yang perlu dipahami oleh kita semua, bahwa perubahan bentuk perintah atau kewajiban dari keadaan atau pelaksanaannya normal ke situasi tidak normal/darurat tidaklah menghilangkan perintah/kewajiban itu, melainkan nilai/pahalanya tetap sama, bahkan akan lebih afdhal jika disesuaikan dengan keadaan darurat tersebut, firman Allah, Famadturra Ghaira Bagin Wala Adin Fala Istma Alaih.

Oleh karena itu marilah dengan momentum Idulfitri ini agar kita semua berupaya menghidari ketegangan-ketegangan, dan sedapat mungkin menghindari pemaksaan kehendak. Kembalikan pada ketentuan Syariah dan negara agar lekas kita terbebaskan dari situasi dan kondisi yang mengkhawatirkan ini.

Allahu Akbar 3x Walillahilhamdu

Kondisi umat Islam demikian itu, memang sudah digambarkan dalam Al Qur’an : Kul Kullun Ya’malu Ala Yakilatihi, setiap kalian diminta berbuat sesuai dengan kapasitas yang anda miliki, dan La Yukallifullahu Nafsan Illa Wus’aha, Allah tidak akan membebankan sesuatu melainkan sesuai kapasitasnya.

Maka semuanya akan terpulang kepada sosok-sosok insan itu sendiri, sejauhmana upaya pembenahan yang dilakukan untuk dirinya sendiri, sejauhmana ia membangun kemampuan dan kualitas dirinya, sejauh mana ia bekerja keras, demikian pula komitmen-komitmennya dalam kapasitas yang diberikan Allah SWT kepadanya.

Bersumber dari upaya-upaya dari diri masing-masing itulah, Allah akan memberikan beban kepadanya, yang tentu tidak akan melibihi kapasitas yang melekat dalam diri yang bersangkutan. Maka yang akan lolos pada setiap kompetisi hanya kembali kepada sosok yang telah membangun kapasitasnya yang baik dalam dirinya, dan sangat tidak logis jika yang memenangkan kompetisi itu adalah sosok-sosok yang tidak mempersiapkan diri dengan optimal, hal ini relevan dengan Al Qur’an, Innallaha La Yughayyiru Ma Bi Qaumin Hatta Yaghayyiru Ma Bi Amfusihim (sungguh Allah tidak akan mengubah kehidupan suatu kaum kearah yang lebih baik, sebelum ia sendiri bertekad untuk berubah).

Semangat berkompetisi sehat di momen Idulfitri ini sangat tepat, umat Islam telah tertempa jiwa dan raganya selama ramadhan, sehingga tumbuhlah komitmen keimanannya yang tinggi, dengan semangat Imanan Wa Ihtisaban (beriman secara sungguh-sungguh karena Allah semata-mata), Manshama Ramadhana Imanan Wa Ihtisaban Ghufira Lahu Ma Taqaddaddama Min Zhanbih.

Tentunya kita mengharapkan semuanya, agar di hari Idulfitri ini bukanlah momen pelepasan semangat, komitmen, jiwa istiqamah seiring keperluan bulan suci Ramadan. Akan tetapi kita semua berharap agar semangat dan komitmen-komitmen kejiwaan spiritualism yang telah terbangun itu tetap menetap dalam setiap jiwa dan selanjutnya diimplementasikan ke dalam tindakan, perilaku dan kinerja kita masing-masing.

Allah Akbar 3x

Karenanya tidak ada jalan lain kecuali umat Islam atau kita semua kembali mengingtrospeksi diri selanjutnya melakukan perubahan-perubahan pola pikir dan perilaku dengan komitmen-komitmen untuk berubah, maju, berbenah diri, menumbuhkan solidaritas internal (ukhuwwah), selalu untuk menjadi yang terbaik (the best), khaira ummah, selalu bertekad menjadi manusia bermanfaat bagi yang lainnya (Khairunnas Anfa’uhum Linnas). Itulah langkah-langkah cerdas umat yang terus harus digiatkan.

Bukan sebaliknya, menjadi sosok-sosok atau komunitas yang ekskelusif, hanya dia yang merasa benar dan paling benar, hanya menonjolkan ciri khas fisik tertentu, simbol tertentu, pendekatan doktrinal, radikal, dan ekstrimisme, yang justeru mengurangi nilai-nilai dan daya tarik ajaran Islam, karena terkesan begitu norak bahkan manakutkan. Penampilan seperti ini sungguh tidak cocok untuk alam Indonesia yang menjunjung tinggi kebersamaan, persatuan dan kekeluargaan. Seyogianya umat Islam tampil sebagai teladan, simpati, dan menarik (Uswatun Hasanah), ajaran Islam senantiasa menjadi sumber inspirasi dalam membangun kehidupan yang damai, moderat, toleran, dan sejahtera.

Allahu Akbar 3x Walillahilhamdu

Sebuah Hadis Rasullullah dari Abu Hurairah dan Muttafaqun-alaih, Man Shama Ramadana Imanan Wa Ihtisaban Qhufira Lahu Ma Taqaddama Min Zanbih (barang siapa yang berpuasa Ramadan penuh dengan iman yang sungguh-sungguh (berkomitmen hanya karena Allah), diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.

Beranjak dari hadis itu Rasulullah memberikan janji, jaminan, bahkan bonus yang luar biasa kepada umat Islam yang berpuasa dengan Imanan Wa Ihtisaban (IWl), iman yang sungguh-sungguh, dengan semangat yang tinggi, hanya dengan komitmen karena Allah (Lamardhatillah), maka selain ia akan mendapatkan kualitas puasa beserta segenap amalan Ramadannya yang afdhal juga dilipatgandakan pahalanya oleh Allah.

Ia juga difitrahkan (disucikan) juga ampunan gufhira lahu ma taqaddama min zanbih, diampuni dosa-dosanya yang terdahulu. Semoga kita semua yang hadir Mesjid Terapung ni berada dalam keadaan seperti yang dijanjikan oleh Hadis Rasulullah SAW tersebut.
Pada pagi hari ini juga kita sedang rayakan Idulitri (kembali menjadi suci), sekaligus melepas kepergian Ramadan yang penuh berkah, Maghfirah, Azhim, Sayyidus-syuhur, dan Yudha’afu Liman Yasya’.

Nilai dan semangatnya tetap terintegrasi dan melekat dalam jiwa kita masing-masing, terutama nilai/semangat Imanan Wa Ihtisaban (IWI), sudah harus diterjemahkan secara global dan multimedia, semangat sungguh-sungguh itu bukan saja dilekatkan pada puasa ramadhan yang harus kita relakan kepergiannya sekarang ini, melainkan harus ditranformasikan/dipindahkan ke seluruh aktivitas keseharian kita dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, yang meliputi semua bentuk kegiatan oleh anak bangsa baik sebagai aparatur negara ataupun sebagai warga negara biasa, baik secara institusional maupun secara personal.

Dengan semangat Imanan Wa Ishtisaban (IWI) yang jika ditranformasikan dalam kehidupan global menjadi semangat atau berkomitmen yang tinggi, amanah dan bertanggung jawab, semangat kerja keras, semangat ingin menjadi yang terbaik the best, semangat pantang menyerah, ingin menjadi rangking teratas, semangat ewako, mattongeng-tongeng. Maka dengan semangat IWI itu bangsa ini Insya Allah bisa bangkit mengejar ketertinggalannya, bisa bangkit bersaing dengan negara-negara tetangga, kita bangkit melawan segala ancaman bahaya apapun.

Allahu Akbar 3x Walillahilhamdu

Beranjak dari semangat ke-kaffah-an, Imanan Wa Ihtisaban, dan tazkiyah (kesucian) yang semuanya telah dibangun dengan baik dan sangat mantap yang ditempah selama ramadhan, tidaklah berarti akan terhenti dengan berakhirnya Ramadan, namun semoga semangat-semangat itu terus menyatu, melekat dan terintegrasi serta bersemayam dalam diri kita masing-masing sepanjang tahun sampai kita kembali berjumpa Ramadan berikutnya.

Dengan semangat kesucian jiwa (tazkiyyatun nafs) yang berakhir dengan kemenangan dan kefitrahan, tentunya juga bagaimana kesucian atau ketazkiyahan itu terus merambah ke segala sesuatu yang kita miliki dan yang kita usahakan. Karena itu kesucian harta, usaha, bisnis, dan pekerjaan/profesi kita juga mutlak adanya. Momentum idul fithri ini juga penting untuk menumbuhkan tekad mensyariahkan jiwa, pikiran, harta, usaha/bisnis dan profesi agar bersesuaian dengan nilai dan prinsip-prinsip kesyariahan, kita semua menjadi umat yang kaffah.

Biodata Singkat Khatib:
Nama Lengkap: Prof Dr HM Arfin Hamid SH MH
Pekerjaan:
-Guru Besar Hukum Islam dan Ekonomi Syariah FH-PPS Unhas
– Wakil Rektor I Universitas Islam Makassar
– Ketua MUI Sulawesi Selatan
– Wakil Ketua PWNU Sulawesi Selatan
– Pengurus LPTQ Sulsel
Alamat: Perdos Unhas Tamalanrea Jl Ibnu Sina AB/4A Mks
Telp/WA: 085242888818
E-Mail: arfinhprof67@gmail.com

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


To top