Danny Pomanto: Belanja Makassar Recover Baru Rp1,4 Miliar Bukan Rp50,2 Miliar
PLUZ.ID, MAKASSAR – Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto, merespon cepat kisruh belanja Makassar Recover yang baru sekitar dua bulan berjalan.
Danny Pomanto menegaskan, belanja Makassar Rocover baru Rp1,4 miliar dari anggaran. Bukan Rp50,2 miliar sebagaimana disampaikan Juru Bicara Makassar Recover kepada wartawan, beberapa waktu lalu.
“Setelah dilakukan rekap, hingga saat ini, baru terpakai sebesar Rp1,4 miliar, jadi bukan Rp50,2 miliar,” ujarnya.
Danny menjelaskan, realisasi belanja itu diperoleh setelah memanggil Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dari Master Covid-19 Kecamatan, Dinas Kesehatan, dan instansi lain yang terkait dengan pengguna anggaran Makassar Recover.
Sebelumnya, masyarakat mempertanyakan penggunaan anggaran Makassar Recover yang disebut sudah mencapai Rp50,2 miliar. Nilai itu dianggap sangat besar, karena habis hanya dalam rentang waktu sekitar dua bulan.
Danny mengatakan, anggaran Rp50,2 miliar itu belum semua terpakai. Anggaran Rp50,2 miliar itu, adalah nilai rencana Belanja Tidak Terduga (BTT) yang sudah dikucurkan dari total anggaran Makassar Recover, yakni Rp380 miliar.
“Yang Rp50,2 miliar itu anggaran BTT yang sudah masuk ke rekening. Kalau BTT itu ada rekening sendirinya. Berbeda dengan kas daerah lainnya,” ungkap Danny, Jumat (14/5/2021).
Danny menjelaskan, anggaran yang sudah terpakai sejauh ini baru sebesar Rp1,4 miliar itu, digunakan untuk keperluan operasional pendukung awal pelaksanaan program Makassar Recover.
“Kan ada alat GeNose, ada juga PCR, vaksinasi juga kemarin, dan beberapa operasional lain. Kalau sudah Rp50,2 miliar dipakai memang wajar kalau masyarakat bertanya,” jelas Danny.
Wali Kota Makassa pun berjanji akan transparan terhadap penggunaan anggaran Makassar Recover.
Danny mengaku, tidak ingin anggaran besar untuk penanganan Covid-19 ini terkesan ditutup-tutupi.
“Saya mau transparan. Nanti dibuatkan laporannya secara berkala supaya bisa diketahui berapa sisa uang di rekening, dan digunakan untuk apa saja,” katanya.
Sikap Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto yang merespon cepat kritikan ini, diapresiasi Koordinator Forum Komunikasi Lintas (FoKaL) NGO Sulawesi, Djusman AR.
Penggiat antikorupsi ini, menilai, langkah Danny merupakan bentuk transparansi dalam penggunaan anggaran, terutama dana bencana yang menjadi sorotan dan terus diteropong publik.
Terkait keterangan dan laporan Juru Bicara Makassar Recover, Djusman mengkritisi sebuah grafis dalam bentuk tabel yang dimunculkan dari tangkapan layar dengan latar desain Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto bersama Presiden Joko Widodo, menunjukkan angka-angka penggunaan anggaran. “Ini apaan?,” tulis Djusman, Jumat (14/5/2021).
ANGGARAN. Laporan Anggaran Makassar Recover 2021. foto: istimewa
Menurutnya, kalau bicara laporan keuangan atau audit, wajib merujuk pada SAMB (Sistem Akuntansi Manajemen Belanja). Apalagi, itu berkaitan anggaran kebencanaan.
“Penegasannya wajib terinci, akuntabilitas dan transparan substansi, yakni uraian, satuan, volume, harga, dan jumlah,” kritik Djusman mengenai tabel anggaran tersebut.
Djusman mempertanyakan angka pada tabel pertama, dimana belanja jasa hampir dua kali lipat dari belanja barang, sementara belanja modal Rp300 miliar, serta ada juga transportasi vaksinator serta biaya makan/minum dan sewa gedung.
“Apakah ada honorarium dan itu masuk belanja jasa? dan bagaimana dengan sewa gedung? Kan, sudah ada belanja modal,” tanyanya heran.
Djusman juga minta para Juru Bicara Makassar Recover sebelum memberikan keterangan bisa melakukan konsultasi agar bisa membedakan antara anggaran, dana dan belanja.
“Sebab keterangan mereka akan menjadi konsumsi publik. Harus paham apa yang disampaikan kepada publik,” tegasnya.
Dikritik Djusman AR
Sebelumnya, Koordinator Forum Komunikasi Lintas (FoKaL) NGO Sulawesi, Djusman AR, mengkritik tim Makassar Recover atas pernyataan Juru Bicara Makassar Recover yang menyebut Makassar Recover sudah menghabiskan Rp50,2 miliar.
Penggiat Anti Korupsi ini, mengatakan, anggaran sebesar itu patut dipertanyakan. Apalagi, penjelasannya tidak merincikan secara jelas realisasi program dan outputnya terhadap penggunaan anggaran Makassar Recover, terkhusus biaya operasional dan belanja barang yang sudah menghabiskan anggaran Rp50,2 miliar sejak diluncurkan pada 17 Maret 2021 lalu.
Djusman mengingatkan, agar Pemkot Makassar berhati-hati dalam menggunakan anggaran penanganan Covid-19 tersebut.
Djusman meminta para Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) wajib merujuk pada sistem akuntansi manajemen belanja apalagi berkaitan anggaran bencana pandemi.
“Kami ingatkan ke KPA terkait penggunaan anggaran Makassar Recover,” kata Djusman, Senin (10/5/2021), merespons keterangan Juru Bicara (Jubir) Makassar Recover, Indira Mulyasari, Jumat (7/5/2021) lalu.
Djusman juga mengingatkan agar para master kecamatan, harus hati-hati terkait penggunaan anggaran penanganan Covid-19 pada program Makassar Recover.
Terkait dengan penggunaan anggaran yang ditarik dari refocusing anggaran dan APBD tak terduga merupakan perhatian serius KPK.
“Kita tidak inginkan, jangan sampai penggunaan anggaran mengarah pada tindakan korupsi,” katanya.
Djusman AR. foto: doelbeckz/pluz.id
Djusman berharap, agar pengguna anggaran yang akan menghabiskan Rp380 miliar jangan sampai bermain, terutama markup.
“Semoga tidak ada penyalahgunaan. Dan jika ada, tentu kami tidak segan-segan akan melaporkannya,” tegas Djusman.
Pihaknya juga menyoroti paparan dalam jumpa pers yang tidak memberikan penjelasan rinci dan informasi ke publik terkait pusat informasi penanganan Makassar Recover.
“Kurang detail laporan alokasi anggarannya. Khususnya biaya operasional dan belanja barang,” ujarnya.
Selain itu, kata Djusman, Jubir Makassar Recover tersebut tidak menyertakan realisasi program dan outputnya.
“Dalam masa kurang lebih dua bulan, menghabiskan anggaran Rp50,2 miliar,” tambahnya.
Djusman juga mempertanyakan pusat informasi terkait penangangan/perkembangan Makassar Recover. Hal itu sangat penting bagi publik, namun tidak diuraikan saat Juru Bicara Makassar Recover, Indira Mulyasari Paramastuti, menyampaikan keterangan kepada wartawan terkait penggunaan anggaran Makassar Recover.
Djusman mengatakan, sosialiasi ini penting, selain untuk diketahui publik secara luas, juga menjadi media kontrol bagi publik terkait penggunaan anggaran dan realisasi/capaian.
“Membaca angka Rp380 miliar dengan penggunaan Rp50 miliar di dua bulan pertama tentu mengundang tanya. Apalagi, tidak djelaskan secara rinci penggunaannya. Indikator perencanaan dan realisasi sulit dideteksi, mungkin lewat pusat informasi Makassar Recover-lah publik bisa akses,” jelasnya.
Juru Bicara Makassar Recover, Indira Mulyasari Paramastuti, sebelumnya, mengatakan, anggaran awal untuk uji coba program ini lebih banyak dihabiskan untuk pengadaan alat kedokteran, vaksinator, detektor, dan pengadaan kontainer.
“Total anggaran yang sudah kita belanjakan Rp50,2 miliar. Itu untuk kebutuhan awal, seperti vaksinator, detektor, peralatan kedokteran, ada juga alat dan peralatan komputer, termasuk kontainer di setiap kecamatan, dan supporting anggaran dari Pemkot Makassar kepada pihak yang ikut ambil bagian menyukseskan Makassar Recover,” kata Indira, saat memberikan keterangan resmi, Jumat (7/5/2021) lalu.
BERI KETERANGAN. Para Juru Bicara Makassar Recover, Maqbul Halim (ki-ka), Indira Mulyasari Paramastuti, dan Natsar ‘Aloq’ Desi saat memberikan keterangan resmi kepada media, Jumat (7/5/2021). foto: doelbeckz/pluz.id
Indira mengatakan, pihak-pihak yang dimaksud ikut ambil bagian menyukseskan Makassar Recover, yakni biaya operasional Satuan Tugas Pengurai Kerumunan atau dikenal dengan Satgas Raika yang terdiri dari personil Satpol-PP, Binmas, Babinsa, dan aparat TNI/Polri.
Juga termasuk pihak dari Persatuan Perawatan Nasional Indonesia (PPNU), dan Ikatan Dokter Paru Indonesia.
“Itu juga kami support anggaran dalam rangka penanganan Covid-19 dan program Makassar Recover ini. Jadi semua ini adalah belanja jasa, belanja barang, dan hal-hal yang diperlukan dalam tahap awal uji coba Makassar Recover,” jelas Indira.
Sementara, untuk total anggaran Makassar Recover ini, diasumsikan sebesar Rp380 miliar. Namun, jumlah ini sewaktu-waktu bisa berubah bergantung pada situasi dan kondisi Covid-19 di Makassar.
“Tapi kalau kita lihat keadaan, ini bisa saja kurang dari itu, karena kita lihat Makassar sudah menurun angka kasusnya,” kata Indira.
Selain itu, Indira juga membeberkan sejumlah bantuan yang telah diterima Pemkot Makassar dari pihak ketiga. Diantaranya, 4.000 dos obat tradisional dari Yayasan Budha Tzu Chi, kemudian ada face shield, sarung tangan, baju hazmat, dan sepatu boots dari PT Pegadaian. Lalu ada 11.200 masker medis dan masker KF94 dari Gojek, dan 1.000 pcs masker dari PT Pertamina.
Juru Bicara Makassar Recover lainnya, Maqbul Halim, menambahkan, sejumlah kegiatan, seperti testing, tracing, dan triase sudah dilakukan selama tahap uji coba dan rencananya program inti Makassar Recover akan dimulai secara serentak dalam waktu dekat ini.
“Program inti Makassar Recover akan segera berjalan, tidak lama setelah Idulfitri,” jelas Maqbul didampingi Juru Bicara Makassar Recover lainnya, Natsar Desi. (***)