search
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Anis Matta: Isu Kebangkitan Komunisme Indonesia Berkaitan dengan Hegemoni Cina

doelbeckz - Pluz.id Kamis, 07 Oktober 2021 10:00
GELORA TALK. Gelora Talk bertajuk 'NKRI dan Ancaman Komunisme Dalam Dinamika Geopolitik, Membedah Survei Median September 2021' yang disiarkan secara live streaming di channel YouTube Gelora TV, Rabu (6/10/2021). foto: istimewa
GELORA TALK. Gelora Talk bertajuk 'NKRI dan Ancaman Komunisme Dalam Dinamika Geopolitik, Membedah Survei Median September 2021' yang disiarkan secara live streaming di channel YouTube Gelora TV, Rabu (6/10/2021). foto: istimewa

PLUZ.ID, JAKARTA – Lembaga Survei Media Survei Nasional (Median) dalam rilisnya, Kamis (30/9/2021) lalu, mengungkapkan, 46,4 persen responden di Indonesia masih percaya soal isu kebangkitan komunisme atau Partai Komunis Indonesia (PKI).

Menanggapi hal ini, Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Anis Matta, menilai, ketakutan akan kebangkitan komunisme di Indonesia, seperti yang diungkap Lembaga Survei Median, ternyata tidak berhubungan dengan ideologi komunis.

“Tetapi, berhubungan dengan isu lain yang lebih bersifat politik, yaitu hegemoni geopolitik Cina,” kata Anis Matta dalam Gelora Talk bertajuk ‘NKRI dan Ancaman Komunisme Dalam Dinamika Geopolitik, Membedah Survei Median September 2021’ yang disiarkan secara live streaming di channel YouTube Gelora TV, Rabu (6/10/2021).

Diskusi ini dihadiri Direktur Eksekutif Lembaga Survei Median Rico Marbun, Menteri BUMN Periode 2011-2014 Dahlan Iskan, mantan Dubes RI untuk Cina yang juga Ketua Asosiasi Kerjasama Indonesia-Cina Mayjen TNI (Purn) Sudrajat, serta Pengamat Politik dan Sosial Budaya Rocky Gerung.

Anis Matta mengatakan, hegemoni Cina sebenarnya berdampak biasa dan natural saja. Sebab, dalam 30 tahun terakhir, Cina secara aktif melakukan kampanye dan ekspansi, sehingga memungkinkan persepsi itu terbentuk.

“Kalau kita melihat 46,4 persen dari populasi kita, percaya tentang isu ini di tengah situasi krisis global. Itu menunjukkan bahwa persepsi publik sekarang dipengaruhi banyak sekali operasi politik dan media,” katanya.

Operasi tersebut, kata Anis Matta, dijalankan kekuatan-kekuatan global yang tengah bertarung saat ini.

“Ini berbarengan atau bersamaan, ketika Amerika secara resmi mendeclaire Cina sebagai musuh mereka. Artinya opini publik kita sekarang ini dibentuk bagian dari operasi geopolitik,” katanya.

Namun, Anis Matta menilai, ketakutan dan kecemasan publik berdasarkan hasil survei sejak 2017 hingga 2021, yang angkanya terus mengalami peningkatan terhadap hegemoni Cina, sebenarnya adalah hal yang positif.

Jika hal itu dipandang sebagai bagian dari survival instinct (naluri bertahan hidup), seperti takut digigit ular dengan menghindar. Sehingga bisa menjadi pintu masuk untuk mengubah survival instinct publik ini, menjadi energi kebangkitan di tengah konflik global sekarang.

“Supaya kita tidak lagi menjadi bangsa yang lemah, menjadi korban, menjadi collateral damage ketika ada kekuatan global yang sedang bertarung dan menjadikan wilayah kita yang seharusnya berdaulat, justru menjadi medan tempur mereka,” jelasnya.

Sehingga perlu dirumuskan satu arah baru, satu peta jalan baru bagi Indonesia. Sebab, kondisi sekarang berbeda dengan zaman Soekarno dan Soeharto dulu yang memiliki cantolan untuk berkolaborasi.

“Di awal perjalanan, kita sangat kacau, dipenuhi krisis kepada satu arah yang tidak jelas. Dunia dalam proses tatanan ulang, yang sekarang ini tidak bisa lagi dipakai, butuh satu tatanan dunia baru. Menurut saya secara geopolitik, dianggap sebagai peluang,” katanya.

Hal ini tentu saja menjadi momentum bagi Indonesia untuk menggunakan survival instinct publik untuk menemukan celah dalam situasi geopolitik sekarang ini. Sehingga Indonesia ikut berperan dalam menentukan tatanan dunia baru.

“Karena itulah kami di Partai Gelora membuat cita-cita perjuangan menjadikan Indonesia sebagai lima besar kekuatan dunia dan tidak ingin menjadi collateral damage dari pertarungan kekuatan global,” katanya.

Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun, mengatakan, hegemoni Cina di Indonesia dan mesranya hubungan kedua negara, yang menyebabkan isu kebangkitan PKI atau komunisme kerap muncul setiap tahun, khususnya pada September hingga Oktober.

“Cara berpikir mereka yang menganggap adanya hegemoni Cina di Indonesia, itu karena dianggap sama paralel dengan komunis gitu,” kata Rico Marbun.

Terkait hal ini, mantan Menteria BUMN, Dahlan Iskan, meminta seluruh elemen bangsa Indonesia bisa move on dari masa lalu. Artinya, semua kejadian sejarah tidak lebih dari sekadar catatan lembaran kertas.

“Nggak boleh terus mengenang masa lalu. Tidak boleh terus sentimen begitu. Karena kalau itu yang terjadi kita tidak akan pernah maju,” katanya.

Lanjutnya, temuan survei Median ini, adalah tugas berat semua elemen bangsa untuk memastikan bahwa kekhawatiran terhadap kebangkitan komunisme tidak perlu lagi ada.

“Berarti tugas kita masih berat sekali untuk membawa Indonesia ini maju. Apalagi, lima besar di dunia, karena 46 persen umat Islam itu umumnya umat Islam katakan begitu masih berorientasi pada masa lalu yang sama sekali tak ada gunanya,” tegasnya.

Hal senada disampaikan Pengamat Politik dan Sosial Budaya, Rocky Gerung. Disebutkan, ideologi komunisme sudah kehilangan patronnya atau pendukungnya di dunia.

Rocky menilai, secara ideologi sebetulnya komunisme sudah selesai dalam sejarah. Namun, fakta membuktikan masyarakat Indonesia masih takut terhadap kebangkitan komunisme, karena adanya kecurigaan terhadap visi komunisme.

“Komunisme itu kehilangan patron di dalam proyek dunia, tapi kita masih takut. Berarti ada visi di komunisme yang buat kita curiga terus,” ujar Rocky Gerung

Mantan Dubes RI untuk Cina, Mayjen TNI (Purn) Sudrajat, meminta pemerintah untuk lebih waspada dalam meneken kerjasama atau kolaborasi dengan pemerintah Cina. Terlebih baru-baru ini ada kebijakan baru yang telah diresmikan Cina, yakni Local Currency Settlemen.

Dalam kebijakan itu, untuk konteks perdagangan dengan Cina akan menggunakan mata uang Yuan dan Rupiah. Apalagi, saat ini kerja sama Ekonomi Indonesia dan Cina terus meningkat.

“Kalau kedekatan ekonomi ini tidak dibarengi dengan pemahaman politik antara Indonesia dengan Cina, ini akan terjadi ketimpangan, justru akan negatif bagi kita,” ungkap Sudrajat. (***)

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


To top