search
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Pemprov Sulsel Aksi Stop Stunting Secara Door to Door

doelbeckz - Pluz.id Minggu, 03 Juli 2022 09:00
EDUKASI. Tim pendamping gizi Aksi Stop Stunting Pemprov Sulsel secara door to door melakukan pemeriksaan kepada balita, sekaligus mengedukasi orang tua balita untuk mengecek tumbuh kembang anak di posyandu. foto: istimewa
EDUKASI. Tim pendamping gizi Aksi Stop Stunting Pemprov Sulsel secara door to door melakukan pemeriksaan kepada balita, sekaligus mengedukasi orang tua balita untuk mengecek tumbuh kembang anak di posyandu. foto: istimewa

PLUZ.ID, MAKASSAR – Tumbuh kembang anak menjadi fokus intervensi bagi tim pendamping gizi Aksi Stop Stunting Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel, khususnya bagi bayi di bawah usia lima tahun (Balita).

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, Andi Nurseha, menyampaikan, Aksi Stop Stunting merupakan program yang diinisiasi langsung Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, sebagai upaya membangun investasi bagi Sumber Daya Manusia (SDM) yang andal.

“Sesuai dengan arahan Bapak Gubernur, bagaimana investasi SDM lebih utama. Hal itu pula sejalan dengan program prioritas Presiden Joko Widodo dalam peningkatan sumber daya manusia yang andal menuju generasi emas,” ujar Andi Nurseha, Jumat (1/7/2022).

“Di sinilah peran tim pendamping gizi Aksi Stop Stunting melakukan edukasi ke masyarakat, khususnya bagi yang memiliki balita. Bahkan, tim melakukan door to door untuk melakukan pemeriksaan kepada balita, sekaligus mengedukasi orang tua balita untuk mengecek tumbuh kembang anak di posyandu,” jelasnya.

Tim pendamping gizi, kata Andi Nurseha, juga memiliki tugas untuk memberikan edukasi kepada keluarga pada 1.000 hari pertama kehidupan dan memberikan paket intervensi gizi pada anak dan ibu hamil untuk desa lokus stunting di 24 kabupaten/kota di Sulsel.

“Para pendamping juga akan melakukan sosialisasi perubahan perilaku pada remaja putri, ibu hamil, dan ibu yang memiliki balita,” bebernya.

Dalam melaksanakan tugasnya, lanjut Andi Nurseha, tenaga gizi pendamping bersinergi dengan aparat desa, kader pembangunan desa dan sektor terkait lainnya.

“Selain itu, sanitasi lingkungan sebagai salah satu yang cukup berpengaruh terhadap masalah kesehatan di suatu wilayah termasuk stunting. Di sini juga peran tim pendamping gizi memberikan edukasi pola hidup sehat kepada masyarakat,” imbuhnya.

Untuk upaya intervensi penurunan stunting di 2022 ini, Aksi Stop Stunting Pemprov Sulsel dilakukan pada sepuluh daerah lokus di setiap daerah pada 24 kabupaten/kota dengan 240 tenaga pendamping gizi desa.

Mengacu pada Hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 mencatat prevalensi balita stunting di Sulsel memiliki Prevalensi Stunting (27,4 persen). Angka ini mengalami penurunan dari sebelumnya 30,6 persen (SSGBI, 2019). Sedangkan jika berdasarkan dari data ePPGBM (Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat), hingga Agustus 2021, angka stunting di Sulsel mencapai 9,08 persen. (***)

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


To top