search
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Petani Bawang Merah Enrekang Antusias Bertemu Pj Gubernur Sulsel

Ada Ajari Cara Panen dan Kisahkan Biaya Kuliah Anak
doelbeckz - Pluz.id Minggu, 14 Januari 2024 15:00
PANEN BAWANG. Pj Gubernur Sulsel, Bahtiar Baharuddin, bersama petani panen bawang merah di Desa Bubun Lamba, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang, Sabtu (13/1/2024). foto: istimewa
PANEN BAWANG. Pj Gubernur Sulsel, Bahtiar Baharuddin, bersama petani panen bawang merah di Desa Bubun Lamba, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang, Sabtu (13/1/2024). foto: istimewa

PLUZ.ID, ENREKANG – Petani bawang merah di Desa Bubun Lamba, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang begitu semangat dan antusias menyambut kedatangan Penjabat (Pj) Gubernur Sulsel, Bahtiar Baharuddin, Sabtu (13/1/2024).

Kelompok Tani Mamminasa Bulu sedang memanen bawang, ada yang langsung meminta untuk mengajarkan cara memanen bawang, ada juga yang menceritakan bisa membiayai anaknya kuliah hingga selesai bahkan hasilnya bisa membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Rosmina misalnya, ia mengajari cara mencabut bawang dari tanah, membersihkan kemudian mengikatnya dengan karet.

“Takkala mi meki (karena Bapak sudah terlanjur) datang, sekalian belajar panen bawang, mengajarkan ini pekerjaan kita sehari-hari,” sebut Rosmina semangat yang disambut senyum Bahtiar. Ia pun ikut mencabut bawang.

Petani lainnya, Syamsuriah Rahmat, menyampaikan dengan hasil sebagai petani yang bertugas menanam dan memanen ia bisa menyekolahkan dua anaknya.

“Alhamdulillah, dari hasil ini kita sudah kasih sekolah anak kita. Satu sudah selesai dan satu lagi masih kuliah di UNM Makassar semester empat,” jelasnya.

Sedangkan Sumarni Barisi senang desa mereka dikunjungi.

“Terima kasih atas dukungan Pak Gubernur ke kami petani bawang di sini. Kami juga mendukung Pak Gubernur memajukan pertanian,” ucapnya.

Desa Bubun Lamba ini, berjarak 30 Kilometer (Km) dari dari ibu kota kabupaten. Potensi bawang merahnya sekitar 300 hektare.

Adapun Penyuluh Pertanian Enrekang, Syamsul Sompa, menjelaskan, potensi hasilnya 12 ton per hektare. Biaya per hektare Rp80 juta, hasil yang didapatkan sekali panen, untuk hasil bersih hingga Rp280 juta.

Petani di desa ini, menggunakan metode kelambu untuk mengurangi dampak hama, sehingga biaya menurun tetapi produksi meningkat.

“Sehingga hama hampir tidak ada, tanaman sehat, produksi meningkat, hasil bagus dan biaya turun. Efektivitasnya jauh sangat menguntungkan,” jelasnya.

Enrekang sendiri dengan Indeks Pertanaman (IP) sebanyak tiga kali. Dengan jumlah lahan 8.000 hektare. Maka setahun berarti 24.000 hektare lahan memproduksi bawang.

Ia yang juga Ketua Kelompok Tani pun bersama petani lainnya, mendukung upaya gubernur agar Enrekang dapat menghasilkan bibit sendiri, demikian juga dengan bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR).

“Ini justru kami dukung dan semoga terealisasi. Karena akan sangat menguntungkan petani Enrekang, persoalan terbesar di petani adalah bagaimana mendapatkan bibit berkualitas. Kalau itu bisa direalisasikan kami berterima kasih dan merespon bagus,” tuturnya. (***)

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


To top