search
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Komisi II DPR RI Kunker Spesifik Kesiapan Pilkada Sulsel 2024, Dialog Intensif dengan Pemprov dan Penyelenggara Pemilu

doelbeckz - Pluz.id Rabu, 05 Juni 2024 09:00
BAHAS PILKADA. Pj Gubernur Sulsel, Prof Zudan Arif Fakhrulloh, menerima tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi II DPR RI terkait persiapan dan kesiapan penyelenggaraan tahapan Pilkada Serentak 2024 ke Provinsi Sulsel di Ruang Rapat Pimpinan Kantor Gubernur Sulsel, Selasa (4/6/2024). foto: istimewa
BAHAS PILKADA. Pj Gubernur Sulsel, Prof Zudan Arif Fakhrulloh, menerima tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi II DPR RI terkait persiapan dan kesiapan penyelenggaraan tahapan Pilkada Serentak 2024 ke Provinsi Sulsel di Ruang Rapat Pimpinan Kantor Gubernur Sulsel, Selasa (4/6/2024). foto: istimewa

PLUZ.ID, MAKASSAR – Penjabat (Pj) Gubernur Sulsel, Prof Zudan Arif Fakhrulloh, menerima tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi II DPR RI terkait persiapan dan kesiapan penyelenggaraan tahapan Pilkada Serentak 2024 ke Provinsi Sulsel.

Dialog bersama pemangku kebijakan dan stakeholder terkait dilaksanakan di Ruang Rapat Pimpinan Kantor Gubernur Sulsel, Selasa (4/6/2024).

“Terima kasih sudah berkenan melakukan kunjungan kerja di sini,” kata Zudan.

Hadir Ketua Tim/Wakil Ketua Komisi II, Junimart Girsan dan anggota lainnya, Arif Wibowo, Komaruddin Watabun, Endro Suswantoro, Cornelis, Arsyadjuliandi Rachman, Ahmad Muzani, Aminurokhman, Ujang Iskandar, Qumi Husniyati, Aus Hidayat Nur, dan Guspardi Gaus.

Komisi II telah mengajukan serangkaian pertanyaan tertulis kepada berbagai pihak terkait persiapan dan kesiapan pelaksanaan Pilkada Serentak 2024. Pertanyaan-pertanyaan ini mencakup rencana program, anggaran yang dibutuhkan KPU dan Bawaslu Sulsel, serta dukungan yang diberikan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel dalam penyelenggaraan Pilkada.

“Bagaimana persiapan dari para penyelenggara tentu bekerja sama dengan Pemprov Sulsel termasuk bersama para penegak hukum di sini. Supaya Pilkada serentak ini, bisa berjalan, seperti Pilpres dan Pileg kemarin yang aman dan nyaman. Itu yang harus dipertahankan,” kata Junimart Girsan.

Salah satu fokus utama yang ditanyakan adalah mengenai realisasi perekaman dan pencetakan KTP Elektronik yang dijalankan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.

Komisi II juga menyoroti pentingnya pemutakhiran data pemilih dan pencocokan daftar pemilih yang akurat.

Juga menekankan pentingnya koordinasi yang efektif antara penyelenggara Pemilu dengan Pemprov Sulsel, khususnya dalam hal pendataan penduduk dan pemutakhiran data pemilih, untuk memastikan proses pemilihan yang lancar.

“Supaya antara para penyelanggara, KPU dan Bawaslu itu betul-betul bisa bersinergi,” harapnya.

Pertanyaan juga diajukan mengenai proses rekrutmen badan ad-hoc, serta pelaksanaan tahapan bagi calon gubernur dan wakil gubernur serta bupati/wali kota dan wakil bupati/wakil wali kota dari jalur perseorangan.

Demikian juga Komisi II meminta informasi terkait indeks kerawanan Pemilu di Sulsel dan strategi pencegahan yang akan diterapkan untuk meminimalisir potensi masalah.

“Zona merah itu, hanya sebagai sinyal. Tetapi fakta kemarin untuk Pilpres dan Pileg itu cukup kondusif di sini,” ujarnya.

Sedangkan, Ketua KPU Sulsel, Hasbullah, melaporkan terkait anggaran pelaksanaan Pilkada, dana hibah dari Pemprov Sulsel sebesar Rp387 miliar. Ini dialokasikan pada honorarium pemilihan, kemudian tahapan persiapan dan pelaksanaan, operasional dan administrasi perkantoran.

Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) ini, terdapat dana sharing kepada kabupaten dan kota, 50 persen ke provinsi dan 50 persen ke kabupaten dan kota. Paling besar dana sharing ke Kabupaten Bone, Kota Makassar, dan Kabupaten Gowa.

“Langkah koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sulsel, untuk proses tahapan Pilkada telah dua kali difasilitasi pemprov dalam kegiatan rapat pemantapan pemilihan kepala daerah dengan mengundang Forkopimda se-Sulsel dan kabupaten/kota,” paparnya.

Adapun jumlah pemilih potensial Pilkada Sulsel 6.697.954 pemilih.

“Sejauh bacaan kami secara kelembagaan baik untuk Bawaslu provinsi dan 24 kabupaten dan kota sejauh ini kami tidak menemukan kendala,” kata Adnan Jamal, Anggota Bawaslu Sulsel, Koordinator Divisi Penyelesaian Sengketa Proses.

Terkait dana hibah, Bawaslu sendiri mendapatkan Rp173,6 miliar.

Hal lainnya disampaikan, hingga 1 Juni lalu telah terbentuk Panwaslu Kecamatan untuk Pilkada. (***)

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


To top