search
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Pj Gubernur Sulsel Tegaskan ATS Harus Jadi Anak Sekolah

doelbeckz - Pluz.id Rabu, 09 Oktober 2024 10:38
Zudan Arif Fakrulloh. foto: istimewa
Zudan Arif Fakrulloh. foto: istimewa

PLUZ.ID, MAKASSAR – Penjabat (Pj) Gubernur Sulsel, Zudan Arif Fakrulloh, menekankan pentingnya mempercepat upaya untuk menangani masalah anak-anak yang tidak bersekolah.

Pada Apel Pagi lingkup Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel, Senin (7/10/2024), Zudan meminta Dinas Pendidikan Sulsel untuk meningkatkan jumlah anak yang bersekolah dengan lebih signifikan.

Dalam Apel Pagi Pemprov Sulsel, Kasubag Program Dinas Pendidikan Sulsel, Arfan Tahir, mengungkapkan, ada sekitar 140 ribu anak di Sulsel yang tidak bersekolah.

Hingga 7 Oktober 2024, sebanyak 18.181 anak telah terdata dan dari jumlah tersebut, 5.573 anak berproses melanjutkan pendidikan.

“Langkah yang telah dilakukan cabang dinas telah melaksanakan sesuai dengan program, yaitu Satu ATS Satu Guru,” ungkapnya.

Kerja sama antara Dinas Pendidikan Sulsel dan UNICEF serta pemerintah kabupaten dan kota terus ditingkatkan untuk mengatasi masalah Anak Tidak Sekolah (ATS).

“Data yang sudah kami sampaikan ke cabang dinas ini dan hasil konsolidasi juga dengan data-data yang ada kabupaten kota,” ujarnya.

Arfan mengatakan, mereka yang telah kembali ke sekolah 3.136 orang. Kemudian 2.437 orang ada yang meninggal dan mengundurkan diri karena menikah atau karena pindah domisili.

Pj Gubernur Sulsel, Zudan Arif Fakrulloh, menekankan, prinsipnya anak tidak sekolah itu harus menjadi anak sekolah. Dalam usia sekolah, dia harus sekolah.

“Datanya dilengkapi supaya kita bisa tahu, karena untuk yang kalau pun sudah menikah, dia tetap harus sekolah, lewat paket A, B atau C,” terangnya.

Dari 18 ribu yang telah terkonfirmasi, Zudan menegaskan, harus ditanyakan kembali untuk mau sekolah atau tidak. “Langkah-langkahnya harus kita lakukan percepatan. Kita kerja lebih keras lagi,” ujarnya.

Oleh karena itu, Zudan berharap kepala sekolah atau Aparatur Sipil Negeri (ASN) dapat menjadi orang tua asuh. Satu ASN, satu anak tidak sekolah. Sehingga yang tidak mampu karena biaya bisa dibantu penyelesaiannya.

Namun, perlu juga mencari penyebab lainnya. Sekretaris Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) ini, mencontohkan, menemukan di NTT dia harus berjalan ke sekolah sekira 1,5 jam. Sehingga harus ada angkutan sekolah.

“Mereka mau sekolah, tapi angkutannya yang tidak ada. Di kita juga (Sulsel) seingat saya dari SMA 11 Luwu Utara, ada sekira 10 siswa diberikan angkutan gratis oleh sekolahnya, ini bisa menjadi solusi. Dinas Pendidikan dipetakan apa saja faktornya,” tutur Zudan.

Langkah ini diambil demi memberikan kesempatan pendidikan yang layak bagi semua anak di Sulsel.

Zudan menekankan pentingnya upaya bersama dalam meningkatkan akses pendidikan bagi generasi mendatang. (***)

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


To top