search
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Vale Kurangi Produksi Limbah Melalui Pengelolaan Lingkungan

doelbeckz - Pluz.id Rabu, 16 Juli 2025 21:00
Ilustrasi. foto: istimewa
Ilustrasi. foto: istimewa

PLUZ.ID, MAKASSAR – PT Vale Indonesia Tbk (PTVI) berkomitmen untuk mengurangi produksi limbah melalui inisiatif pengelolaan lingkungan yang menyeluruh.

“Kami menargetkan untuk mencapai zero waste to landfill (tidak ada limbah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir) pada tahun 2025, lebih cepat lima tahun dari target pemerintah. Target ini diwujudkan dengan mengoptimalkan pengelolaan limbah dari seluruh lini baik dari kegiatan operasi pertambangan, proses produksi, serta kegiatan penunjang, dan domestic,” ujar Bernardus Irmanto, Pelaksana Tugas (Plt) Presiden Direktur / CEO PT Vale Indonesia Tbk dikutip dari Laporan Keberlanjutan PT Vale Indonesia Tbk 2024, Rabu (16/7/2025),

Bernardus mengatakan, limbah padat yang dihasilkan lokasi operasional terbagi menjadi dua kategori Utama, limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) serta limbah non-B3. Untuk mengelola limbah secara bertanggung jawab, PT Vale Indonesia telah mengembangkan strategi komprehensif yang berfokus pada pencegahan, pengurangan di sumber, pemanfaatan kembali, daur ulang, dan pengambilan kembali (reduce, reuse, recycle, and recovery/4R), guna meminimalkan jumlah limbah yang dikirim ke tempat pemrosesan akhir. Seluruh data pengelolaan limbah dicatat dan dilaporkan melalui sistem Simpel dan SiRaja milik KLHK.

Selama periode pelaporan tidak ada limbah B3 yang dikirim secara internasional dan tidak ada tumpahan signifikan dari material limbah yang membahayakan lingkungan. Selain itu, seperti yang telah dijelasan sebelumnya PT Vale Indonesia menggunakan Reduction Kiln Electric Furnace (RKEF), sehingga tidak menghasilkan limbah tailing.

Limbah B3

Dalam mengelola limbah B3, PT Vale Indonesia mematuhi peraturan yang berlaku untuk menghindari dampak terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.

“Kami berpedoman pada Peraturan Menteri LHK No. 18 Tahun 2020 tentang pengelolaan limbah B3 dan Peraturan Menteri LHK No. 6 Tahun 2021, yang mengatur tata cara serta persyaratan pengelolaannya. Setiap tahapan pengelolaan, mulai dari pengurangan, penyimpanan, pengangkutan, pemanfaatan, hingga pengolahan, dilakukan dengan cermat untuk mencegah pencemaran. Limbah B3 diserahkan dan dikelola pihak yang kompeten dan memiliki izin guna memastikan kepatuhan terhadap regulasi,” ujar Bernardus.

“Pada tahun 2024, kami menghasilkan 2.696,6 ton limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dari kegiatan produksi, jenis limbah B3 terbesar yang dihasilkan adalah minyak bekas dan gemuk sebanyak 1.135,5 ton, disusul limbah yang mengandung logam berat sebesar 934,96 ton, serta limbah yang terkontaminasi minyak dan gemuk sebesar 525,27 ton. Selain itu, kami juga menghasilkan limbah medis sebesar 10,21 ton, limbah baterai bekas sebanyak 30,38 ton, dan jenis limbah khusus lainnya,” tambah Bernardus.

Dijelaskan, angka produksi limbah B3 meningkat sebesar 32,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini utamanya disebabkan kenaikan produksi, termasuk di dalamnya aktivitas pemeliharaan fasilitas pabrik seperti reline pada dinding converter. Hal ini menyebabkan meningkatnya jumlah limbah padat terkontaminasi logam berat seperti refraktori, yang masuk dalam kategori sebagai limbah B3 sesuai ketentuan yang berlaku.

Dari total limbah yang dihasilkan, 1.107 ton limbah B3 telah dikelola sesuai dengan peraturan yang berlaku. Limbah yang dimanfaatkan kembali ini seluruhnya merupakan oli dan gemuk bekas dan dimanfaatkan kembali sebagai pengganti bahan bakar setelah melalui proses pengolahan sesuai dengan perizinan.

Sementara itu, sebanyak 1.589,6 ton limbah lainnya yang tidak diolah dibuang ke lokasi pembuangan akhir (landfill) sesuai ketentuan yang berlaku. Adapun limbah medis dikelola secara khusus melalui proses insinerasi di rumah sakit INCO yang telah memiliki izin, dengan abu pembakaran dan bahan berbahaya lainnya diserahkan kepada pihak ketiga berizin untuk pengelolaan lanjutan.

Selain itu, limbah dari kegiatan pendukung juga didaur ulang dan dimanfaatkan kembali, baik di perusahaan maupun melalui vendor pihak ketiga yang memiliki izin untuk pengelolaan limbah.

Pemanfaatan Oli Bekas

Program pemanfaatan oli bekas sebagai substitusi bahan bakar pada Dryer dan Reduction Kiln bertujuan untuk mengoptimalkan penggunaan limbah yang dihasilkan dari area workshop serta kegiatan pemeliharaan (maintenance) alat berat dan kendaraan ringan (light vehicle).

Dengan memanfaatkan oli bekas sebagai bahan bakar substitusi, program ini tidak hanya mendukung efisiensi energi dalam operasional perusahaan, tetapi juga berkontribusi dalam mengurangi jumlah limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang dikirimkan kepihak ketiga yang berizin.

Selain itu, inisiatif ini selaras dengan prinsip ekonomi sirkular yang mendorong pemanfaatan kembali sumber daya serta mendukung pengelolaan limbah sesuai kaidah yang baik. Pada tahun 2024, program ini berhasil mengurangi limbah B3 sebanyak 1.107 ton.

Optimalisasi Penggantian Minyak Pelumas Mesin

Program ini dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi dalam penggunaan oli mesin. Dengan teknologi ini, masa pakai oli dapat diperpanjang sehingga frekuensi penggantiannya berkurang secara signifikan.

Hal ini berdampak langsung pada penurunan jumlah limbah B3 yang dihasilkan serta efisiensi dalam pemakaian sumber daya. Inovasi ini juga berkontribusi terhadap efisiensi operasional perusahaan dengan mengurangi kebutuhan pembelian oli baru serta mendukung praktik pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan. Pada 2024, program ini berhasil mengurangi limbah B3 sebanyak 4 ton.

Limbah Non-B3

Sebagai landasan operasional pengelolaan limbah non-B3, PT Vale Indonsia mengacu pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Nomor 19 Tahun 2021, yang mengatur pengelolaan limbah non bahan beracun berbahaya (non B3).

“Selain itu, kami merasa perlu mengelola limbah non-B3 ini untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat bagi kami dan masyarakat sekitar,” ucap Bernardus.

Berikut adalah rincian produksi limbah non-B3 kami berdasarkan aktivitas dan jenisnya:

Dimana seluruh limbah non-B3 yang masih memiliki potensi guna telah dimanfaatkan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pada 2024, PT Vaale Indonesia memanfaatkan timbulan terak nikel sebanyak 377.964,29 ton. Terak nikel (slag) tersebut digunakan sebagai material konstruksi untuk lapisan atas permukaan jalan tambang khusus.

Selain itu, limbah dari kegiatan pendukung juga didaur ulang dan dimanfaatkan kembali, baik di lingkungan perusahaan maupun melalui kerja sama dengan pihak ketiga yang memiliki izin pengelolaan limbah.

Transformasi Sampah Organik Menjadi Pakan Ternak Woliko

Program ini adalah upaya PT Vale Indonesia dalam mengoptimalkan pengelolaan sampah organik melalui pemanfaatan larva Black Soldier Fly (BSF). Dilatarbelakangi tingginya kebutuhan lahan akibat pesatnya pertumbuhan larva BSF, yang menuntut ketersediaan biopond dalam jumlah besar.

Untuk mengatasi keterbatasan lahan, PT Vale Indonesia mengembangkan biopond bertingkat dari kayu palet bekas. Pada 2024, program ini berhasil meningkatkan efisiensi penguraian sampah organik dan memperbanyak populasi BSF yang kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ternak oleh kelompok peternak Woliko Berkembang. Pada tahun pelaporan, program ini berhasil memanfaatkan 5,60 ton sampah organik.

Track Shoe Regrouser

Program Track Shoe Regrouser adalah inisiatif PTVI untuk memperpanjang umur pakai Track Shoe pada bulldozer dengan menambahkan pelat pada bagian grouser yang aus. Hal ini dilatarbelakangi tingginya timbulan limbah scrap metal akibat penggantian Track Shoe secara menyeluruh, padahal bagian lain selain grouser masih layak pakai.

Pada tahun ini, program ini berhasil menekan jumlah limbah non-B3 secara signifikan. Selama tahun 2024 program ini berhasil memanfaatkan kembali limbah scrap metal sebanyak 60 ton.

Membangun Kesadaran Lingkungan Sejak Dini

Masalah sampah, khususnya sampah plastik, merupakan tantangan serius bagi Indonesia yang berdampak pada ekosistem dan kesehatan masyarakat.

Sebagai respon terhadap kondisi ini, PT Vale Indonesia menunjukkan komitmennya dalam menjaga keberlanjutan lingkungan melalui berbagai inisiatif, termasuk program edukatif ‘Vale Goes to School’.

Bernardus mengatakan, program ini menyasar siswa sekolah dasar dan menengah dengan tujuan membentuk generasi muda yang peduli terhadap lingkungan. Melalui kegiatan edukatif di beberapa sekolah di wilayah Pomalaa, siswa diajarkan cara kreatif mengelola sampah organik dan anorganik menjadi kompos serta kerajinan tangan dari limbah plastik.

GOES TO SCHOOL. PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa kembali menggelar ‘Vale Goes to School’ ke SMPN 1 Pomalaa. foto: istimewa

Selain pendidikan, PT Vale Indonesia juga menjalankan praktik pengelolaan lingkungan di area operasional, seperti budidaya maggot untuk mengolah sampah organik dan pengolahan limbah anorganik menjadi produk daur ulang.

Sebagai bagian dari komitmen terhadap praktik pertambangan berkelanjutan, PT Vale Indonesia tengah membangun pusat pembibitan tanaman di Kebun Raya Kolaka seluas 5 ha dengan kapasitas hingga satu juta bibit per tahun. Bibit-bibit ini akan digunakan untuk reklamasi lahan pasca-tambang, guna mengembalikan fungsi ekologis kawasan tambang.

“Ke depan, PT Vale Indonesia berencana memperluas jangkauan program ke lebih banyak sekolah, menyusun materi pembelajaran yang lebih interaktif, dan menjalin kolaborasi dengan organisasi lingkungan lokal. Melalui semangat kolaboratif ini, PT Vale Indonesia terus mendorong kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan demi masa depan yang lebih baik,” terang Bernardus. (***)

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


To top