Vale Kelola Debu Agar Tidak Cemari Lingkungan

PLUZ.ID, MAKASSAR – PT Vale Indonesia, salah satu perusahaan tambang nikel terbesar di Indonesia, menerapkan sistem pengelolaan debu nikel yang ketat untuk memastikan tidak ada partikel berbahaya yang mencemari lingkungan.

Debu ini, yang merupakan produk sampingan dari setiap tahapan produksi nikel, mulai dari dryer hingga furnace, kini ditangani secara cermat melalui teknologi canggih.

Oleh karena itu, debu yang dihasilkan dari proses pengolahan nikel di smelter PT Vale Indonesia Tbk tidak langsung dilepaskan ke udara.

Head of Corporate Communications PT Vale Indonesia Tbk, Vanda Kusumaningrum, mengatakan, perusahaan menerapkan sistem penyaringan berlapis menggunakan teknologi modern yang mampu menangkap sekitar 96 persen debu, sehingga emisi tetap berada di bawah ambang batas yang ditetapkan.

Komitmen tersebut dilakukan untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat sekaligus meminimalkan dampak terhadap lingkungan sekitar area operasional.

“Dalam proses produksi nikel, debu terbentuk pada beberapa tahapan, mulai dari dryer, kiln hingga furnace,” ujarnya

“Jika tidak dikelola dengan baik, partikel debu berpotensi memengaruhi kualitas udara serta kesehatan pekerja dan masyarakat di sekitar kawasan industri,” tambahnya.

Vanda mengatakan, di area kiln, debu terlebih dahulu melewati unit multicyclone yang berfungsi menyaring partikel berukuran besar.

Setelah itu, debu halus ditangkap menggunakan Electrostatic Precipitator (ESP), yakni teknologi yang memanfaatkan aliran listrik untuk menarik partikel debu agar menempel dan jatuh ke tempat penampungan.

Proses penyaringan kemudian berlanjut di area furnace melalui fasilitas bag house. Peralatan ini menggunakan ratusan kantong penyaring khusus yang bekerja layaknya saringan kopi dalam skala industri untuk menangkap partikel debu yang masih tersisa sebelum udara dilepaskan.

Menariknya, debu yang berhasil ditangkap tidak serta-merta menjadi limbah. Material tersebut dikembalikan ke proses pengeringan (dryer) karena masih memiliki nilai dan dapat dimanfaatkan kembali dalam proses produksi.

Seluruh sistem pengendalian emisi tersebut dipantau secara real-time dari ruang kendali (control room). Tidak hanya debu, berbagai parameter lingkungan lainnya juga terus diawasi, seperti kadar oksigen (O₂), oksida nitrogen (NOx), sulfur dioksida (SO₂), hingga hidrogen sulfida (H₂S).

Melalui sistem pengelolaan emisi yang terintegrasi tersebut, PT Vale memastikan kualitas udara tetap terjaga dan emisi yang dihasilkan berada di bawah ambang batas yang berlaku, sekaligus mendukung terciptanya operasional pertambangan yang lebih ramah lingkungan. (***)

Berita Terkait
Baca Juga