search
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Munafri Arifuddin dan Melinda Aksa Terima Penghargaan Dekranas, Makassar Sukses Kembangkan Kerajinan Tradisional

doelbeckz - Pluz.id Minggu, 12 Juli 2026 18:29
PENGHARGAAN. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyerahkan penghargaan kepada Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin pada Penutupan Syukuran Dekranas ke-46 yang mengusung tema 'Cipta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia' di Trans Studio Mall Makassar, Minggu (12/7/2026). foto: istinewa
PENGHARGAAN. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyerahkan penghargaan kepada Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin pada Penutupan Syukuran Dekranas ke-46 yang mengusung tema 'Cipta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia' di Trans Studio Mall Makassar, Minggu (12/7/2026). foto: istinewa

PLUZ.ID, MAKASSAR – Komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar dalam memperkuat sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), melestarikan warisan budaya Nusantara, serta mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif kembali mendapat pengakuan di tingkat nasional.

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, bersama Ketua Dekranasda Kota Makassar Melinda Aksa menerima penghargaan dari Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) atas dedikasi dan kontribusi mereka dalam mengembangkan sektor wastra (kain tradisional) dan kriya (kerajinan tangan) sebagai bagian dari penguatan ekonomi berbasis budaya.

Penghargaan bergengsi tersebut diserahkan langsung Menteri Dalam Negeri RI Tito Karnavian besama Istri Tri Suswati Tito Karnavian, selaku Ketua Harian Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) pada acara penutupan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-54 dan Hari Ulang Tahun (HUT) Dekranas ke-46 di Trans Studio Mall (TSM) Makassar, Minggu (12/7/2026).

Pada kesempatan tersebut, Munafri menanggapi penghargaan yang diterima Pemkot Makassar pada kategori Wastra dan Kriya.

Menurutnya, penghargaan tersebut menjadi motivasi untuk semakin mengembangkan motif-motif khas lokal agar mampu bersaing dengan produk dari berbagai wilayah di Indonesia.

Ia menilai, potensi motif lokal Makassar sangat besar, namun masih membutuhkan pengembangan yang lebih serius, termasuk memperbanyak jumlah perajin dan pembatik agar produk khas daerah semakin beragam.

“Itu (penghargaan) bagian dari bagaimana kita terus memaksimalkan penggunaan motif-motif lokal untuk memastikan bahwa produk lokal kita tidak kalah bersaing dengan motif dari daerah lain,” tuturnya.

Penghargaan itu menjadi bentuk apresiasi pemerintah pusat terhadap keberhasilan Pemerintah Kota Makassar dalam membina dan mengembangkan ekosistem UMKM berbasis budaya lokal.

Di bawah kepemimpinan Munafri Arifuddin bersama Melinda Aksa melalui Dekranasda Kota Makassar, berbagai program pembinaan, promosi, hingga perluasan akses pasar terus dilakukan guna meningkatkan daya saing produk-produk kerajinan dan kain tradisional hasil karya para perajin lokal.

Pengakuan pada kategori Wastra dan Kriya memiliki makna yang sangat penting karena keduanya merupakan representasi identitas budaya sekaligus kekuatan ekonomi kreatif Indonesia.

Wastra merujuk pada kain tradisional Nusantara yang memiliki nilai sejarah, filosofi, simbol, motif, dan corak khas setiap daerah, seperti batik, tenun, songket, hingga berbagai kain tradisional lainnya.

Sementara, kriya merupakan karya seni kerajinan tangan yang mengedepankan keterampilan, kreativitas, nilai estetika, sekaligus fungsi praktis, mulai dari anyaman, ukiran kayu, keramik, logam, hingga beragam produk kerajinan khas daerah.

Penghargaan tersebut sekaligus menegaskan bahwa pelestarian budaya lokal tidak hanya berorientasi pada menjaga warisan leluhur, tetapi juga mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

Munafri bahkan mengajak masyarakat untuk mulai menggunakan produk wastra khas Makassar, termasuk Batik Lontara yang menurutnya memiliki nilai budaya sekaligus identitas daerah.

Namun demikian, ia mengakui, salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah keterbatasan akses masyarakat untuk memperoleh produk-produk tersebut.

“Nah, ini yang akan kita pastikan ke depan, tempat pembeliannya harus mudah diakses dan produknya tersedia dengan berbagai pilihan kualitas maupun harga sehingga semua masyarakat bisa mendapatkannya,” ungkap Appi.

Melalui pengembangan wastra dan kriya, para pelaku UMKM didorong untuk terus berinovasi, sehingga produk lokal memiliki daya saing tinggi, mampu menembus pasar nasional bahkan internasional, sekaligus membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Selain memperluas akses pemasaran, Pemkot Makassar juga akan terus mendorong pengembangan industri batik lokal.

Menurut menambahkan, jumlah pembatik di Makassar masih terbatas sehingga inovasi motif dan produksi masih perlu terus diperkuat.

“Ini yang harus kita maksimalkan, terutama para produk pembatik. Kita memang belum punya banyak pembatik, sehingga motif-motif lokal itu masih perlu terus dikembangkan dengan lebih baik lagi,” jelas Appi.

Pada kesempatan ini, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menilai penyelenggaraan HUT Dekranas ke-46 di Kota Makassar tidak hanya menjadi ajang promosi produk kerajinan nusantara, tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi daerah tuan rumah.

Menurutnya, ribuan peserta dan tamu dari seluruh Indonesia yang hadir dalam kegiatan tersebut menggerakkan berbagai sektor usaha, mulai dari transportasi udara, transportasi lokal, perhotelan, hingga usaha kuliner dan UMKM.

“Sektor transportasi udara pasti bergerak. Bayangkan seluruh Indonesia datang ke sini. Maskapai-maskapai harusnya berterima kasih dengan adanya acara ini,” kata Tito saat memberikan sambutan pada penutupan HUT Dekranas ke-46 dan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK Nasional ke-54 di Trans Studio Mall Makassar.

Ia mengatakan, tingginya mobilitas peserta juga berdampak pada meningkatnya kebutuhan transportasi darat.

Bahkan, mendapatkan kendaraan sewaan selama pelaksanaan kegiatan menjadi tantangan, karena tingginya permintaan.

“Transportasi lokal juga bergerak, untuk mencari kendaraan sewaan saja berjuang karena sulit, semuanya diperebutkan,” ujarnya.

Tak hanya itu, sektor perhotelan juga menikmati lonjakan tingkat hunian. Tito mengaku memperoleh informasi langsung dari pengelola hotel tempatnya menginap bahwa seluruh kamar telah terisi penuh selama pelaksanaan kegiatan.

“Saya menginap di Hotel Claro. Saya tanya manajernya, penuh. Saya yakin hotel-hotel yang lain juga begitu,” ungkapnya.

Bahkan, kondisi tersebut membuat Kemendagri menunda agenda kegiatan lain yang semula direncanakan berlangsung di Makassar karena khawatir kesulitan memperoleh akomodasi.

Selain sektor transportasi dan perhotelan, Tito juga menyebut, restoran, rumah makan, hingga pelaku UMKM turut merasakan manfaat ekonomi dari penyelenggaraan event berskala nasional tersebut.

Namun, nilai terbesar dari penyelenggaraan Dekranas bukan hanya besarnya transaksi ekonomi yang tercipta selama acara berlangsung, melainkan keberhasilannya mengangkat potensi kerajinan Indonesia agar semakin dikenal dan mampu bersaing di pasar global.

“Lebih dari itu, acara ini menghidupkan kembali potensi kerajinan Indonesia yang harus kita jaga dan kita kembangkan agar mampu menembus pasar dunia,” katanya.

Tito menjelaskan, industri kerajinan dunia memiliki nilai ekonomi yang sangat besar dengan potensi pasar mencapai sekitar Rp500 triliun setiap tahun.

Ia menilai, produk lokal baguan dari keunggulan yang tidak dimiliki negara lain, yakni keberagaman produk kerajinan yang lahir dari kekayaan budaya, suku, serta sumber daya alam yang tersebar di seluruh nusantara.

“Indonesia adalah negara dengan kerajinan tangan paling beragam di dunia. Setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing karena kita memiliki begitu banyak suku, budaya, dan sumber daya alam yang berbeda-beda,” ujarnya. (***)

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


To top