BPBD Makassar Gandeng 23 Kampus Cetak Ribuan Relawan, Perkuat Mitigasi Bencana di Darat, Laut, dan Udara
PLUZ.ID, MAKASSAR – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar terus memperkuat kapasitas penanggulangan bencana melalui berbagai inovasi, antisipasi penanggulangan bencana di darat, laut dan udara.
Tidak hanya menggandeng 23 perguruan tinggi untuk mencetak ribuan relawan muda kebencanaan, BPBD juga menyiapkan langkah antisipasi menghadapi ancaman kekeringan akibat potensi El Nino serta meluncurkan sistem terpadu penanganan darurat di kawasan pesisir.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar, Muhammad Fadli Tahar, mengatakan, kolaborasi bersama perguruan tinggi merupakan salah satu strategi jangka panjang dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi berbagai potensi bencana.
“Kami berkolaborasi dengan Perguruan Tinggi di Makassar, mahasiswa mendapat pelatihan dan pembekalan kebercanaan. Mereka (mahasiswa) dipersiapkan agar memiliki kemampuan dasar ketika dibutuhkan dalam penanganan bencana,” ujar Fadli, Jumat (17/7/2026).
Program ini ditandai dengan kick off pelatihan yang melibatkan mahasiswa sebagai calon relawan kebencanaan.
Bahkan, ratusan mahasiswa dari perguruan tinggi, secara bergantian mengikuti pelatihan dan pembekalan dari BPBD Makassar.
Program tersebut merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani BPBD Kota Makassar bersama 23 perguruan tinggi di Kota Makassar.
Melalui kerja sama ini, mahasiswa akan mendapatkan pelatihan dasar kebencanaan sebelum nantinya menjadi relawan yang siap membantu pemerintah ketika terjadi keadaan darurat, baik di darat dan di laut.
“Kami memberikan pembekalan mulai dari vertical rescue, water rescue, medical rescue, manajemen bencana hingga pertolongan pertama,” jelas Fadli.
Ia menjelaskan, pelatihan sudah mulai berjalan. Pada pelaksanaan terbaru, sekitar 500 mahasiswa Jurusan Kebidanan Pelamonia mengikuti pelatihan yang diselenggarakan BPBD, selanjutnya diikuti mahasiswa dari perguruan tinggi lain.
Menurutnya, seluruh kampus yang telah menandatangani MoU memiliki jadwal pelatihan masing-masing.
“Hari ini ada sekitar 500 mahasiswa Jurusan Kebidanan Pelamonia yang mengikuti pelatihan. Seluruh 23 kampus sudah memiliki jadwal masing-masing,” tuturnya.
“Target kami sedikitnya ada 23 ribu mahasiswa yang memiliki kemampuan dasar kebencanaan sehingga menjadi sumber daya siap pakai ketika terjadi bencana,” sambung Fadli.
Ia menilai, keterlibatan perguruan tinggi akan memperkuat kapasitas masyarakat sekaligus mempercepat penanganan bencana di Kota Makassar.
Mahasiswa diharapkan, tidak hanya menjadi peserta pelatihan, tetapi juga menjadi relawan terlatih yang mampu membantu pemerintah saat terjadi bencana maupun dalam kegiatan mitigasi dan edukasi kepada masyarakat.
“Ini menjadi salah satu inovasi BPBD Kota Makassar untuk memperkuat kapasitas masyarakat menghadapi bencana sekaligus mendukung terwujudnya Makassar sebagai kota yang tangguh terhadap bencana,” tegasnya.
Fadli menambahkan, para mahasiswa dibekali materi teori, simulasi, hingga praktik penanganan bencana agar memiliki kapasitas yang memadai saat terjun di masyarakat.
“Melalui berbagai simulasi dan pembekalan teori, kami ingin memastikan mahasiswa tidak hanya memahami konsep kebencanaan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk bertindak cepat dan tepat ketika terjadi bencana,” imbuh Fadli.
Ia menegaskan, kolaborasi tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan komitmen nyata dalam membangun ketangguhan masyarakat melalui peran aktif generasi muda.
Dikatakan, target mencetak 23.000 Sumber Daya Manusia (SDM) tangguh bencana diharapkan mampu memperkuat budaya sadar bencana di Kota Makassar.
Para mahasiswa nantinya akan menjadi relawan-relawan terlatih yang siap menjadi garda terdepan dalam upaya mitigasi, kesiapsiagaan, hingga penanganan bencana.
“Investasi terbaik bukan hanya pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada pembangunan sumber daya manusia yang tangguh, peduli, dan siap melindungi sesama,” katanya.
Program ini juga diharapkan melahirkan sinergi berkelanjutan antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi dalam meningkatkan kapasitas kebencanaan masyarakat.
“Dengan keterlibatan kalangan akademisi, kami ingin memperkuat kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi bencana sekaligus menumbuhkan semangat kemanusiaan di kalangan generasi muda,” harap Fadli.
Selain itu, dalam upaya meningkatkan kecepatan penanganan bencana, BPBD Kota Makassar juga resmi meluncurkan inovasi baru bernama Sigap Pesisir (Sistem Integrasi Gerakan Adaptif Pesisir).
Melalui Sigap Pesisir, BPBD menargetkan waktu respons penanganan darurat di wilayah pesisir dapat dipangkas drastis dari rata-rata sekitar 90 menit menjadi hanya 15 menit.
Menurutnya, kawasan pesisir Makassar memiliki tingkat kerawanan yang tinggi, sehingga membutuhkan sistem penanganan yang lebih cepat dan terintegrasi.
Ancaman yang dihadapi wilayah pesisir meliputi banjir rob, gelombang ekstrem, abrasi pantai, cuaca buruk hingga berbagai kecelakaan di wilayah perairan.
“Sigap Pesisir dirancang untuk menyatukan seluruh pemangku kepentingan dalam satu sistem kerja yang terintegrasi,” ungkapnya.
“Mulai dari pelaporan, koordinasi, pengambilan keputusan hingga pengerahan personel dilakukan secara lebih cepat, terukur dan efektif,” lanjutannya.
Melalui inovasi tersebut, BPBD menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) baru yang menghubungkan seluruh unsur terkait, sehingga proses koordinasi dan pengerahan personel dapat berlangsung lebih cepat tanpa hambatan birokrasi.
Selain mempercepat respons pemerintah, Sigap Pesisir juga menitikberatkan pada peningkatan kapasitas masyarakat pesisir.
Warga akan diberikan pelatihan secara berkala mengenai langkah-langkah penyelamatan awal sebelum tim penolong tiba di lokasi.
Implementasi sistem ini dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan kawasan pesisir yang memiliki tingkat kerawanan tertinggi.
“Kami BPBD berharap Sigap Pesisir dapat menjadi model penanganan kebencanaan berbasis kolaborasi yang nantinya dapat direplikasi oleh daerah pesisir lainnya,” tuturnya.
Selain memperkuat sumber daya manusia, BPBD Kota Makassar juga tengah menyiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan panjang akibat fenomena El Nino.
Fadli mengatakan, seluruh tahapan awal telah dilakukan, mulai dari asesmen lapangan hingga koordinasi lintas instansi.
Adapun 23 perguruan tinggi yang telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) bersama BPBD Kota Makassar, yaitu:
1. Universitas Hasanuddin (Unhas)
2. Universitas Negeri Makassar (UNM)
3. Universitas Muslim Indonesia (UMI)
4. Universitas Islam Makassar (UIM).
5. Universitas Bosowa (Unibos)
6. Institut Kesehatan Pelamonia Makassar.
7. STIKES Gunung Sari Makassar
8 STIKES Amanah Makassar
9. Universitas Indonesia Timur (UIT)
10. Politeknik Pariwisata Makassar
11. Institut Teknologi dan Kesehatan Tri Tunas Nasional
12. Institut Nani Hasanuddin
13. Universitas Mega Rezky
14. Universitas Tamalatea Makassar
15. Poltekkes Mega Rezky
16 Universitas Kristen Indonesia Paulus (UKI Paulus)
17. Universitas Al-Marisah Madani
18. STIKES Bhayangkara Makassar
19. Universitas Pancasakti
20. Universitas Pejuang Republik Indonesia (UPRI)
21. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIK) Makassar
22. STIKS Tamalannea Makassar
23. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan – Yapika. (***)