“Saya malah tidak setuju. Anak-anak juga,” ujar Lindiawati.
Tetapi akhirnya, wanita yang sudah 25 tahun mendampingi Tajerimin itu luluh. Itu setelah mendengar pengakuan suaminya soal alasan mau maju.
“Bapak bilang saya pulang ke Maros bukan untuk cari uang. Tetapi memang sudah waktunya untuk mengabdi,” tutur Lindiawati dengan suara bergetar karena haru.
Mendengar itu, kenang Lindiawati, dia tak lagi punya alibi untuk menolak. Maka dengan bismillah, dia pun mengiringi langkah kekasih hatinya mulai berjuang.
Perjuangan yang tidak mudah. Sebab sebagai tokoh baru pada perpolitikan Maros, perlu kerja keras untuk meyakinkan publik. Belum lagi gerilya mendapatkan dukungan parpol.
Lindiawati makin yakin setelah melihat program-program Tahfidz (Andi Tajerimin-Havid S Fasha). “Semuanya pro rakyat. Misi pengabdian bukan alasan belaka,” ucapnya.
Mengusung program dengan menjadikan peningkatan kesejahteraan rakyat membuat Lindiawati malah balik mendukung penuh. Sebab dia selalu ingat bagaimana perjuangan suaminya di tanah rantau. Datang ke Papua dari Maros 33 tahun lalu dengan hanya modal tekad, akhirnya bisa menjadi pebisnis dan kini dengan omzet cukup besar.
Tajerimin pada pilkada ini bahkan menolak sponsor karena masih mampu membiayai segala operasional, serta tak mau tersandera cukong. (***)