Elektabilitas Danny-Fatma mengalami kenaikan sekira 5 persen dari survei sebelumnya. Saat itu berada di kisaran 40 persen. Tapi mendekati pencoblosan, pemilih yang dulunya belum menentukan pilihan, sebagian mantap mendukung Danny-Fatma.
“Salah satu yang membuat elektabilitas Danny-Fatma bertambah, karena pasangan ini konsisten di visi-misinya. Dan bisa jadi pasca-debat ketiga kemarin, swing voters sebagian bisa ke Adama (Danny-Fatma),” kata Muhammad Nur Hidayat, Direktur Riset CRC, Sabtu (5/12/2020).
Sekedar diketahui, di posisinya yang terus diunggulkan memenangkan pertarungan, kubu tertentu terkesan masih mencari berbagai cara untuk menghentikan laju kemenangan Danny-Fatma, atau bagaimana menurunkan elektabilitasnya.
Terbaru, yakni melaporkan Danny ke Polda Sulsel terkait rekaman suara yang dituding menghina Jusuf Kalla. Padahal, rekaman yang beredar itu, suara yang mirip Danny hanya mengulangi isu nasional tersebut. Mengingat, jauh sebelum suara ini beredar, perbincangan itu menjadi konsumsi elit nasional dan dibahas di Warung Kopi (Warkop).
Dan jika di rekaman suara itu benar adalah Danny, maka Danny bukan pada posisi sengaja menebar fitnah. Tapi mengutip konsumsi yang sudah jadi pembahasan nasional itu.
Tapi, apapun yang dialamatkan ke Danny, warga tak akan mudah percaya. Sebab sekali lagi, Danny memang sejak dulu ‘ditarget” kubu tertentu agar tidak maju atau digagalkan menjadi wali kota. Mengingat Danny dikenal sebagai pemimpin yang tak bisa berkompromi dengan siapapun yang ingin merampas hak-hak rakyat. (***)