search
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Gubernur Sulsel: Tidak Mungkin Pulau Lantigiang Diperjualbelikan

doelbeckz - Pluz.id Kamis, 04 Februari 2021 13:00
PENINJAUAN. Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah, saat pergi melakukan peninjauan langsung ke Pulau Lantigiang, Kepulauan Selayar menggunakan helikopter, Rabu (3/2/2021). foto: humas pemprov sulsel
PENINJAUAN. Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah, saat pergi melakukan peninjauan langsung ke Pulau Lantigiang, Kepulauan Selayar menggunakan helikopter, Rabu (3/2/2021). foto: humas pemprov sulsel

PLUZ.ID, SELAYAR – Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah, melakukan peninjauan langsung ke Pulau Lantigiang usai menerima laporan pulau yang berada di Kepulauan Selayar ini, diperjualbelikan. Pulau ini berada di Kawasan Taman Nasional Takabonerate.

Nurdin melakukan peninjauan dengan menggunakan helikopter. Ia didampingi Bupati Selayar, Muhammad Basli Ali, Rabu (3/2/2021).

Pulau ini secara administrasi berada di wilayah Desa Jinato. Dengan luas pulau sekitar 5,6 Haktare (Ha).

Nurdin mengatakan, pulaunya memiliki atol yang menarik.

Pulau didominasi tumbuhan jenis cemara laut, santigi pasir, dan ketapang. Juga menjadi tempat bertelur satwa liar dilindungi jenis penyu.

“Tidak akan mungkin untuk dibeli siapapun, karena sudah menjadi kawasan nasional,” tegasnya.

Nurdin menjelaskan, kasus tersebut bermula dari warga Selayar yang menikah dengan orang Jerman. Kemudian mencoba melakukan negosiasi pembelian dengan kepala desa.

Pulau ini telah kembali secara utuh dan sekarang dalam proses hukum. Terdapat rencana bahwa pulau tersebut akan dibangun resort di atas atol.

“Insya Allah, itu tidak akan mungkin bisa diperjualbelikan. Dan kepada seluruh masyarakat, saya berharap Taman Nasional Takabonerate ini, adalah kawasan strategis yang tentu kita lindungi,” tegasnya.

Nurdin mengungkapkan, Bupati Selayar telah mengambil langkah-langkah dan sekarang kasusnya ditangani pihak kepolisian. Transaksi awal yang dilakukan adalah dengan panjar Rp10 juta, dari dugaan penjualan pulau seharga Rp900 juta.

“Pulaunya sendiri tidak jadi (dijual). Karena memang baru panjar Rp10 juta. Dan tidak akan mungkin ada aparatur pemerintah yang bisa membuat transaksi itu. Makanya, saya datang ke sana memastikan,” jelasnya.

Nurdin menegaskan, Pulau Lantigiang masih alami. Ia juga membantah klaim warga yang mengaku memiliki pulau tersebut. Warga mengklaim lahan dengan dasar telah menanam pohon kelapa di sana.

“Tadi mengecek itu masih alami, tidak ada sentuhan-sentuhan manusia. Kalau ada yang mengatakan mereka turun temurun, (punya) kelapa dan sebagainya, itu tidak ada,” ujarnya.

Selain mengunjungi Pulau Lantigiang, Nurdin juga melakukan kunjungan ke Pulau Kayuadi untuk melihat rencana pembangunan airport, sebagai infrastruktur pendukung pariwisata.

“Kami juga mengunjungi Kayuadi untuk melihat rencana pembangunan airport karena memang terdapat atol terbesar ketiga dunia, itu ada di Taka Bonerate. Itu akses menuju ke Taman Nasional. Ini luar biasa taman nasional kita. Saya berharap pembangunan airport yang sudah dilakukan sebelumnya, itu akan dilanjutkan,” jelasnya. (***)

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


To top