search
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Satgas Detektor Makassar Recover Temukan 4.941 Orang dengan Saturasi Oksigen di bawah 90 Persen

doelbeckz - Pluz.id Kamis, 15 Juli 2021 11:00
RAKOR. Wali Kota Makassar, Moh Ramdan Pamanto, saat melakukan Rapat Koordinasi Monitoring dan Evaluasi Makassar Recover bersama Forkopimda, tim Makassar Recover, Master Covid, dan jajaran lingkup Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar secara virtual, Selasa (13/7/2021). foto: istimewa
RAKOR. Wali Kota Makassar, Moh Ramdan Pamanto, saat melakukan Rapat Koordinasi Monitoring dan Evaluasi Makassar Recover bersama Forkopimda, tim Makassar Recover, Master Covid, dan jajaran lingkup Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar secara virtual, Selasa (13/7/2021). foto: istimewa

PLUZ.ID, MAKASSAR – Satgas Detektor Makassar Recover menemukan hasil mencengangkan di lapangan pascaturun di lapangan secara massif.

Selama empat hari melakukan pendataan mereka menemukan banyak warga dengan nilai saturasi oksigen di bawah 90 persen.

Hal itu diungkapkan, Wali Kota Makassar, Moh Ramdan Pamanto, saat melakukan Rapat Koordinasi Monitoring dan Evaluasi Makassar Recover bersama Forkopimda, tim Makassar Recover, Master Covid, dan jajaran lingkup Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar secara virtual, Selasa (13/7/2021).

Sebanyak 61.137 orang yang sudah terdata Tim Detektor, ternyata warga dengan kondisi suhu badan di atas 38 derajat celcius dideteksi sebanyak 740 orang. Sementara, untuk saturasi di bawah 90 persen terdapat 4.941 orang.

Terlepas dari cacian yang mereka dapat serta kurangnya pengawasan Camat dan Lurah pada Tim Detektor di wilayah masing-masing, namun Tim Detektor menunjukkan hasil kinerja yang cukup baik.

Hal itu dibenarkan juga Guru besar Ilmu Kedokteran, Prof Idrus Paturusi, yang mengungkapkan, bahayanya jika nilai saturasi di bawah 90 persen.

“Di bawah 95 persen saja itu sudah bahaya. Ini yang banyak terjadi di Kota Jakarta. Biasa disebut Happy Hypoxia, dimana orang-orang tidak mengetahui jika oksigen dalam darahnya berkurang. Dan ini bahaya jika tidak ditindaki dengan cepat. Untungnya para Tim Detektor turun mentracing meskipun banyak pro kontra,” ucapnya.

Prof Idrus menekankan, jika segala masukan dari masyarakat patut didiskusikan dan diperbaiki pemerintah kota. Dan segala kebaikan bisa ditingkatkan.

Sementara, Wali Kota Makassar, Moh Ramdan Pamanto, mengungkapkan, kesulitan para Tim Detektor, karena ketidaksiapan wilayah.

“Jadi ada beberapa wilayah memang tidak terlalu mendukung program ini. Jadi warga banyak tidak siap, padahal ini menguntungkan mereka. Kita mudahkan. Mereka tidak bawa KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan tidak bayar seperti di rumah sakit. Ini kita yang datangi gratis pula. Ini bentuk tindakan kemanusiaan kita di tengah pandemi Covid-19,” ujarnya.

Terkait soal banyaknya tim detektor yang tidak mematuhi Standar Operasional Prosedur (SOP) pihaknya sudah membicarakan dengan Camat, Lurah, dan Master Covid di setiap wilayah agar lebih memperhatikan para Tim Detektor-nya.

“Kita lihat kelebihannya ini program ternyata banyak warga yang saturasinya di bawah 90 dan suhunya tinggi. Ini membahayakan. Karenanya kita akan lakukan PCR bukan antigen ke semua warga yang terdata. Kalau tidak ditindaki cepat atau tidak ada Tim Detektor mana kita tahu wargata kurang saturasinya,” sebut Danny.

Oleh karena itu, Danny meminta kerja sama masyarakat Makassar untuk bisa menerima kedatangan Tim Detektor ke rumahnya.

“Insya Allah tiap hari kita evaluasi kekurangannya. Tolong kerja samata’. Kita juga sudah koordinasi dengan TNI/Polri untuk mengawal ini,” tegasnya. (***)

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


To top