search
  • facebook
  • twitter
  • instagram

PHRI dan IHGMA Sulsel Adakan Doa Bersama untuk Indonesia

doelbeckz - Pluz.id Rabu, 21 Juli 2021 16:00
DOA BERSAMA. BPD PHRI Sulsel dan IHGMA Chapter Sulsel menggelar doa bersama lintas agama agar Indonesia bisa melewati kondisi saat ini, utamanya makin tingginya kasus Covid-19 di Indonesia di Hotel Claro Makassar, Rabu (21/7/2021). foto: istimewa
DOA BERSAMA. BPD PHRI Sulsel dan IHGMA Chapter Sulsel menggelar doa bersama lintas agama agar Indonesia bisa melewati kondisi saat ini, utamanya makin tingginya kasus Covid-19 di Indonesia di Hotel Claro Makassar, Rabu (21/7/2021). foto: istimewa

PLUZ.ID, MAKASSAR – Badan Pengurus Daerah (BPD) Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) Sulsel dan Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Chapter Sulsel menggelar doa bersama lintas agama agar Indonesia bisa melewati kondisi saat ini, utamanya makin tingginya kasus Covid-19 di Indonesia yang diadakan di Hotel Claro Makassar, Rabu (21/7/2021).

Kegiatan tersebut dilakukan secara hybrid dan dihadiri seluruh pengurus PHRI dan IHGMA se-Sulsel. Dalam kegiatan itu, secara bergantian pemuka agama dari perwakilan agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha berdoa menurut keyakinan masing-masing.

Ketua BPD PHRI Sulsel, Anggiat Sinaga, mengatakan, doa bersama dari para pemuka agama ini, meminta kepada Tuhan agar pandemi Covid-19 di Tanah Air segera berlalu. Pasalnya, pandemi Covid-19 selama dua tahun terakhir telah memporak-porandakan sektor perekonomian di Indonesia.

“Kegiatan ini sederhana saja. Bersama lima pemuka agama dan komunitas PHRI dan IHGMA hadir secara hybrid. Dalam kegiatan ini kita satukan hati memohon kuasa Tuhan agar diberi kelegaan atau mukjizat agar pandemi Covid-19 ini segera berlalu,” kata Anggiat Sinaga.

Adapun para pemuka agama yang hadir, diantaranya dari perwakilan agama Islam Ustaz H Arifuddin Lewa, Kristen Pdt Fritz Bakker, Katolik Pastor Alex Palino MSC, Hindu Pinandita I Wayan Nenra, dan Budha diwakili Romo Bumi Horas.

Anggiat mengungkapkan, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro di Sulsel ternyata cukup berefek bagi sektor perhotelan. Saat ini okupansi di sejumlah hotel yang ada di Makassar terjun bebas hingga di angka 8 persen.

“Rata-rata okupansi di hotel-hotel itu hanya berkisar 18 persen. Ini membuat suatu keprihatinan. Bahkan, tadi pagi saya dapat kabar ada hotel yang hanya 8 persen,” jelasnya.

Anggiat menjelaskan, jika kondisi seperti ini terus berlanjut, maka tak lama lagi akan ada hotel yang tutup. Saat ini bahkan sejumlah hotel telah memangkas gaji hingga merumahkan karyawannya.

“Hingga saat ini belum ada hotel yang tutup. Tapi saya kira ini hanya menunggu waktu saja. Akan tetapi terkait proses karyawan dirumahkan sudah pasti berlangsung atau karyawan yang bekerja hanya 15 hari dalam sebulan agar upahnya hanya diterima 50 persen,” jelasnya. (***)

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


To top