search
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Pilrek Unhas, Ini Harapan Alumni

doelbeckz - Pluz.id Rabu, 18 Agustus 2021 11:00
Djusman AR. foto: istimewa
Djusman AR. foto: istimewa

PLUZ.ID, MAKASSAR – Tahapan pemilihan Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar periode 2022-2026 tengah berlangsung.

Saat ini, memasuki tahapan pendaftaran bakal calon rektor, dibuka sejak 2 Agustus lalu dan akan berlangsung hingga 27 Agustus 2021 mendatang.

Hingga Selasa (17/8/2021), beberapa nama yang sudah mendaftarkan diri sebagai bakal calon rektor, seperti Prof dr Armin Arsyad tercatat menjadi pendaftar pertama yang juga saat ini menjabat Dekan FISIP Unhas, lalu disusul Prof Budu yang juga penjabat Dekan Fakultas Kedokteran Unhas.

Kemudian Prof dr Abdul Kadir diketahui menjabat Direktur Jenderal (Dirjen) Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Lalu Prof Farida yang saat ini menjabat Dekan Fakultas Hukum Unhas.

Selain nama tersebut, masih ada beberapa nama yang akan mendaftar, diantaranya Dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Jamaluddin Jompa bakal mendaftar sebagai Calon Rektor Unhas, Rabu 18 Agustus 2021.

Selanjutnya, Prof Dr Indrianty Sudirman yang akan mendaftar pada Kamis 19 Agustus. Prof Indrianty saat ini menjabat sebagai Sekretaris Majelis Wali Amanat (MWA) Unhas.

Ada juga Prof Sumbangan Baja yang akan melakukan pendaftaran pada pukul 09.00 pagi, Jumat 20 Agustus 2021. Prof Sumbangan Baja saat ini menjabat Wakil Rektor 2 Unhas.

Berbagai pihak pun menyampaikan harapannya terkait dengan suksesi Pemilihan Rektor (Pilrek) Unhas agar bisa berjalan dengan lancar dan melahirkan sosok rektor yang ideal.

Ketua Forum Mahasiswa Pascasarjana (Macasar) Unhas 2002-2004, Djusman AR, saat dimintai tanggapannya terkait suksesi Pilrek Unhas menyampaikan kriteria yang layak dan ideal menjadi Rektor Unhas.

“Seorang rektor harus visioner, tegas, dan memahami kondisi dan kebutuhan Unhas, dapat lebih transparan dan akuntabel dalam hal pengelolaan keuangan, terutama terbuka pada mahasiswa,” ujar Djusman, Selasa (17/8/2021).

Selanjutnya, kata Djusman, hal yang mesti dimiliki seorang rektor adalah ia yang paham visi dan misi Unhas.

“Ketika ia paham, ia akan tahu program kerjanya seperti apa. Misalnya Unhas ingin bersaing di kancah internasional, itu tidak akan dapat diwujudkan bila kualitas dan kuantitas pendidikannya tidak memadai,” urai Djusman yang juga Koordinator Forum Komunikasi Lintas (FoKaL) NGO Sulawesi ini.

Djusman mencontohkan, misalnya aspek Sumber Daya Manusia (SDM) dan kedisiplinan tenaga pengajar, peran guru besar dalam proses mengajar mahasiswa.

Selain itu, diharapkan terbangun kontrol yang lebih baik dari tingkat universitas ke fakultas.

Kriteria lainnya, kata Djusman, adalah rektor yang lebih memperhatikan kesejahteraan (welfare economic) segenap civitas akademika, baik finansial maupun fasilitas.

“Rektor diharapkan dapat memperhatikan pegawai, termasuk dalam pengembangan kompetensi dan karir,” katanya.

“Kita juga mengharapkan rektor yang visioner, memiliki pola pikir forward looking, dan memilki strategi untuk menyelesaikan berbagai masalah,” tambah Djusman.

Selain itu, Koordinator Badan Pekerja Komite Masyarakat Anti Korupsi (KMAK) Sulselbar ini, mengatakan, dirinya berharap rektor yang terpilih adalah seseorang yang memiliki kemampuan manajerial yang baik, mampu menghimpun dan mengelola sumber daya yang cukup besar untuk kebutuhan riset, pengembangan, dan pengabdian masyarakat.

“Serta tentunya memiliki jaringan yang luas,” kata Djusman.

Selanjutnya, Rektor Unhas nantinya harus semakin mempererat hubungannya dengan alumni yang tidak hanya terbatas orang-orang tertentu.

Djusman juga mengingatkan, rektor yang terpilih mampu memberikan kebebasan bagi warga kampus dalam hal ini mahasiswa untuk mengembangkan potensi diri, menyampaikan aspirasi dan kritiknya.

“Dan paling penting juga tidak ada upaya pengekangan terhadap suara kritik mahasiswa apalagi yang sampai mengancam DO (drop out),” tegasnya.

Djusman berharap, agar rektor ke depan tidak menjadi perpanjangan tangan dari penguasa, sehingga abai terhadap aspirasi mahasiswa, justru menjadi keharusan mendorong dunia kampus sebagai basic intelectual dan agent control terhadap kebijakan pemerintahan saat ini.

Ia juga berharap agar rektor nantinya dapat duduk bersama mengkaji dan merespon persoalan bangsa terutama menyangkut korupsi, ekonomi, dan kesehatan, apalagi di tengah pandemi Covid-19 saat ini.

“Rektor mendorong adik-adik mahasiswa agar merespon dan intens mengkaji serta melakukan diskusi, workshop, dan seminar persoalan korupsi yang saat ini merajelala dan menggerogoti,” jelasnya.

“Kita tidak menginginkan kampus itu hanya melahirkan teori tentang pemberantasan korupsi, tetapi bagaimana secara praktek mampu menerapkan dan mengamalkan tindakan serta perilaku anti korupsi,” tutup Djusman AR. (***)

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


To top