search
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Polda Sulsel Sita 75 Kg Sabu Jaringan Internasional

doelbeckz - Pluz.id Rabu, 01 September 2021 18:00
BARANG BUKTI. Kapolda Sulsel, Irjen Pol Merdisyam, memperlihatkan barang bukti narkotika yang berhasil diamankan saat memimpin Jumpa Pers Polda Sulsel di Mapolda Sulsel, Selasa (31/8/2021). foto: istimewa
BARANG BUKTI. Kapolda Sulsel, Irjen Pol Merdisyam, memperlihatkan barang bukti narkotika yang berhasil diamankan saat memimpin Jumpa Pers Polda Sulsel di Mapolda Sulsel, Selasa (31/8/2021). foto: istimewa

PLUZ.ID, MAKASSAR – Kepolisian Daerah (Polda) Sulsel membongkar kasus peredaran narkotika jaringan internasional. Tiga pelaku berhasil diamankan dengan barang bukti yang berhasil disita mencapai 75 Kilogram (Kg) sabu-sabu.

Kapolda Sulsel, Irjen Pol Merdisyam mengatakan, tiga tersangka merupakan jaringan bandar narkoba internasional, yakni Malaysia dan Filipina. Pelaku masing-masing berinisial SYF (37), ABJ (24), dan FTR (28).

“Jaringan internasional dari Malaysia dan Filipina. Jaringan ini juga adalah jaringan yang sudah lama diintai sama Mabes Polri,” kata Merdisyam saat memimpin Jumpa Pers Polda Sulsel di Mapolda Sulsel, Selasa (31/8/2021).

Hasil penyidikan, terungkap SYF telah 13 kali melakukan pengiriman sabu dari Surabaya ke Makassar.

“Tersangka SYF ini mengaku sudah 13 kali membawa sabu dan ekstasi dari Surabaya menuju Makassar sejak Maret 2021,” bebernya.

Merdisyam mengatakan, ketiganya juga berperan berbeda dalam jaringan ini. SYF berperan ganda sebagai pengedar di Sulsel sekaligus menjemput narkotika dari Surabaya, masuk ke Makassar. ABJ berperan sebagai sopir yang membantu SYF. Sementara, FTR berperan mengedarkan narkotika setelah menerima barang dari keduanya.

“Barang bukti narkotika diangkut seolah-olah sebagai barang ekspedisi dari Surabaya ke Makassar. Setelah tiba di Makassar, barang bukti tersebut kemudian dibagi sesuai perintah dari inisial AL alias Bos. Kemudian tersangka FTR yang menerima barang tersebut sesuai dengan perintah,” katanya.

Merdisyam menjelaskan, pola itu digunakan untuk mengelabui petugas dan aktivitas tersebut berlangsung sejak Maret 2021 hingga bulan ini. Untuk setiap kali pengiriman ketiganya, diupah hingga ratusan juta.

“Upahnya minimal Rp150 juta sampai Rp400 juta dalam setiap pengantaran dengan minimal 17 Kg,” jelasnya.

Merdisyam mengungkapkan, jika barang sudah sampai di Makassar akan diedarkan lagi di wilayah Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara.

Diterangkan, Sulsel menjadi pusat penerima kiriman narkotika sebelum diedarkan kembali di empat provinsi lain di Sulawesi.

“Rencana barang ini yang akan diedarkan di Sulsel, Sulteng, dan Sultra. Terpusat di Sulsel sebagai penerima barang,” ucapnya.

Merdisyam mengatakan, pengungkapan penyelundupan narkotika tersebut setelah dilakukan penyelidikan selama dua bulan lalu. Setelah itu, pihaknya melakukan dua kali pengungkapan dalam waktu tiga hari.

“Ada dua kali penangkapan di tempat dan waktu kejadian berbeda. Penangkapan pertama pada 25 Agustus 2021 di sebuah hotel di Makassar,” ujarnya.

Pada penangkapan pertama tersebut ditemukan 40 Kg sabu dan 4 ribu butil pil ekstasi. Dua orang ditangkap pada saat itu, yakni berinisal SYF (37) dan ABJ (24).

“SYF ini orang bertanggung jawab dan membawa barang (narkotika) dari Surabaya ke Makassar. Sementara, ABJ ini seorang sopir yang membantu SYF mengirim barang,” bebernya.

Dua hari berikutnya, Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Sulsel kembali melakukan penangkapan terhadap seorang pria berinisial FTR. Polda Sulsel kembali menemukan 35 Kg sabu dan 34 ribu pil ekstasi.

“Jadi total yang berhasil kami temukan, yakni 75 Kg sabu dan sekitar 30 ribu butir pil ekstasi,” ungkapnya.

Merdisyam menegaskan, tiga tersangka tersebut disangkakan Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Sindikat ini terancam hukuman maksimal, yakni hukuman mati.

“Pasal 114 ayat 2 UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika mereka terancam hukuman mati. Kemudian, Pasal 112 ayat 2 dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun penjara dan maksimal 20 tahun penjara. Pasal 132 ayat 1 ancaman hukuman ditambah sepertiga dari ancaman pasal pokok,” bebernya.

Merdisyam mengaku, pengungkapan peredaran narkotika kali ini merupakan yang terbesar selama dirinya menjabat sebagai Kapolda Sulsel.

Ia pun memberikan apresiasi kepada personelnya yang berhasil mengungkap peredaran narkotika tersebut. Saat ini ketiganya sudah ditahan di Polda Sulsel untuk pemeriksaan dan pengembangan lebih lanjut. (***)

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


To top