search
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Gerakan PMT Picu Pemulihan Stunting di Bulukumba

Sebulan 55 Persen Anak Mengalami Kenaikan Berat Badan
doelbeckz - Pluz.id Senin, 15 Januari 2024 12:11
PMT. Pemkab Bulukumba melalui Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) terus melakukan upaya penanganan stunting melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi bayi umur bawah lima tahun (Balita) dan bawah dua tahun (Baduta) serta pemberian susu kepada ibu hamil yang berisiko atau kekurangan nutrisi. foto: istimewa
PMT. Pemkab Bulukumba melalui Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) terus melakukan upaya penanganan stunting melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi bayi umur bawah lima tahun (Balita) dan bawah dua tahun (Baduta) serta pemberian susu kepada ibu hamil yang berisiko atau kekurangan nutrisi. foto: istimewa

PLUZ.ID, BULUKUMBA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulukumba melalui Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) terus melakukan upaya penanganan stunting melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi bayi umur bawah lima tahun (Balita) dan bawah dua tahun (Baduta) serta pemberian susu kepada ibu hamil yang berisiko atau kekurangan nutrisi.

Gerakan PMT yang dilaksanakan sejak 27 Oktober 2023 yang lalu, memiliki dampak signifikan terkait perbaikan kondisi tubuh anak sasaran stunting.

Gerakan ini diinisiasi TP PKK Bulukumba dan berkolarasi dengan Baznas, Dinas Kesehatan, Dinas Pengendalian Penduduk KB Pemberdayaan Perempuan dan Anak, serta Dinas PMD.

“Gerakan ini juga melibatkan seluruh TP PKK tingkat kecamatan desa dan kelurahan dengan mengelola rumah gizi masing masing,” ungkap Andi Herfida Muchtar, Ketua TP PKK Bulukumba, Senin (15/1/2024).

Dikatakan dampak PMT cukup signifikan. Hanya sekitar satu bulan lebih ada peningkatan prosentase anak yang mengalami kenaikan berat badan.

“Gerakan ini masih terus berlanjut 90 hari ke depan. Termasuk pemberian gizi kepada ibu ibu hamil,” imbuh Herfida Muchtar yang juga Kepala Dinas Kebudayaan Kota Makassar ini.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bulukumba, dr Amrullah, lebih detail menyampaikan, per 10 Januari 2024, setelah pihaknya atau Tim Pendamping Gizi (TPG) melakukan penimbangan dan pendataan untuk seluruh wilayah kerja Puskesmas ditemukan data sebagai berikut:

Pertama, dari 591 orang anak Baduta Stunting hasil Pemutakhiran Data Stunting (Pedas), didapatkan 330 anak atau 55,8 persen, mengalami kenaikan berat badan. Sementara, ada 151 anak atau 25,5 persen, yang berat badannya tetap. Sedangkan yang masih mengalami penurunan berat badan sebanyak 27 anak atau 4,6 persen.

Kedua, dari 591 orang sasaran baduta stunting, terdapat 170 anak atau 28,7 persen dengan status gizi sangat pendek. Sementara, untuk status gizi pendek ada sebanyak 239 anak atau 40,5 persen. Sedangkan, yang status gizi normal ditemukan sebanyak 65 anak atau sekitar 11 persen.

Ketiga, dari 591 orang sasaran anak baduta stunting, terdapat sasaran 97 anak yang telah lewat umur dua tahun atau sekitar 16,4 persen. Namun, demikian anak tersebut tetap mendapatkan PMT pangan lokal sampai 90 hari makan.

Dari data tersebut di atas, kesimpulan yang bisa diambil, kata Amrullah, adalah pemberian PMT pangan lokal bagi anak baduta stunting menunjukkan kemajuan penanganan, yaitu dari sasaran 591 orang anak baduta stunting, didapatkan kenaikan berat badan 330 orang anak, yang mencapai status gizi pendek 239 anak dan status gizi normal 65 orang anak serta terdapat 97 anak yang telah lewat dua tahun, namun tetap mendapatkan PMT sampai 90 hari makan.

Diketahui untuk melakukan penanganan stunting, Pemkab Bulukumba membuat kebijakan dengan intervensi spesifik yang fokus kepada sasaran 1.000 Hari Kehidupan Pertama (HPK), yaitu intervensi yang diberikan kepada ibu hamil sampai anak bayi di bawah dua tahun.

Hal ini dilakukan mengingat periode 1000 hari pertama kehidupan anak dikenal sebagai periode emas pertumbuhan anak atau pada masa itu pertumbuhan otak anak sangatlah pesat, sehingga apa pun yang diterimanya dalam periode emas ini, akan berdampak pada masa depannya kelak.

intervensi spesifik itu berupa penanganan gizi dan kesehatan kepada sasaran beresiko stunting, yaitu berupa Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan susu tumbuh kembang yang mengandung gain 100 untuk memacu pertumbuhan dan perkembangan baduta yang terindikasi stunting.

Begitu pula untuk ibu hamil yang status KEK diberikan susu ibu hamil. Ini penting, sebab ibu hamil yang terindikasi KEK akan berpotensi melahirkan anak stunting.

Adapun pendanaannya bersumber dari Baznas Bulukumba dan selanjutnya dilanjutkan Pemkab Bulukumba selama dua bulan oleh Dinas Kesehatan. (***)

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


To top