search
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Musim Hujan, BBWS Pompengan Jeneberang: Gorong-gorong Harus Diperhatikan

doelbeckz - Pluz.id Sabtu, 20 Januari 2024 19:15
PEMBERSIHAN. Tim Satgas Drainase Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Makassar saat ini terus melakukan upaya pembersihan saluran drainase di berbagai wilayah, beberapa waktu lalu. BBWS Pompengan Jeneberang meminta memperhatikan optimalisasi saluran air gorong-gorong di setiap wilayah. foto: istimewa
PEMBERSIHAN. Tim Satgas Drainase Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Makassar saat ini terus melakukan upaya pembersihan saluran drainase di berbagai wilayah, beberapa waktu lalu. BBWS Pompengan Jeneberang meminta memperhatikan optimalisasi saluran air gorong-gorong di setiap wilayah. foto: istimewa

PLUZ.ID, MAKASSAR – Musim hujan tentu tak lepas dari kewaspadaan banjir. Oleh karena itu, salah satu mitigasinya adalah pengoptimalan saluran air gorong-gorong di setiap wilayah, harus diperhatikan.

Diketahui, untuk saluran air itu, terbagi atas tiga, yaitu saluran primer, sekunder, dan tersier.

Koordinator Posko Induk Satuan Tugas Bencana Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang, Muhammad Firdaus, menyampaikan, untuk jaringan drainase utama pengelolaannya adalah tanggung jawabnya.

Hanya saja, hal yang perlu diperhatikan bersama adalah koneksi antar saluran air bisa lancar dan baik agar bisa membawa air pada saluran utama, terutama di Kota Makassar.

“Perlu kita cek sama-sama untuk melihat penyebab air tidak keluar itu di mana. Baru bisa cari solusinya bagaimana,” tuturnya, Jumat (19/1/2024).

Firdaus mengatakan, untuk memastikan kelancaran aliran air, pihaknya sudah melakukan normalisasi kanal untuk siap menampung air hujan yang jatuh. Dimana di Kota Makassar terdapat tiga kanal, yakni Kanal Pannampu, Kanal Sinrijala, dan Kanal Jongaya.

“Kanal Pannampu mulai dari Sungai Saddang Baru sampai ke Paotere. Kanal Jongaya dari Sungai Saddang Baru juga, mengarah ke Selatan keluarnya ke Jl Metro Tanjung Bunga. Kalau Kanal Sinrijala dari Sungai Saddang Baru ke arah Sungai Pampang di belakang Unibos,” ujarnya.

Firdaus melanjutkan, ada saluran Pampang, saluran Perumnas, dan saluran Gowa. Itu bermuara pada waduk tunggu Pampang yang terkoneksi ke Sungai Pampang hingga Sungai Tallo.

“Itu menjadi tanggung jawab kami untuk membersihkan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, kanal merupakan wadah terakhir sebagai penerima seluruh material baik air, sampah hingga sedimen dari saluran tersier dan sekunder. Oleh karena itu, banjir di kota bisa terjadi, karena adanya penyumbatan, penyempitan saluran, hingga tidak terkoneksinya dua saluran tersebut ke saluran utama.

“Kecuali misalnya kanal sudah ful dengan air, hujan yang turun ke bumi itu kita sudah tidak mampu menampungnya lagi, apalagi bersamaan dengan air laut pasang itu, akan menghambat juga turunnya debit atau air muka air,” terangnya.

Firdaus menjelaskan, untuk meminimalisasi luapan air kanal ketika musim hujan, BBWSP Jeneberang juga membangun tanggul-tanggul di beberapa saluran utama. Misalnya di Sungai Tallo dan Sungai Jeneberang.

Ia mengaku, harus ada perhatian dari pemerintah pusat untuk menganggarkan pembangunan tanggul secara masif.

“Kita pilih titik-titik yang sangat krusial dulu supaya tidak terjadi luapan lagi. Fungsi tanggul itu, bagaimana kita mengamankan pemukiman di sekitarnya, karena butuh biaya yang sangat besar,” jelasnya. (***)

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


To top