search
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Sulteng Tuan Rumah Pesparawi Nasional XV 2029

doelbeckz - Pluz.id Jumat, 26 Juni 2026 10:00
Ilustrasi. foto: istimewa
Ilustrasi. foto: istimewa

PLUZ.ID, MANOKWARI – Bumi Tadulako, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), secara resmi didapuk sebagai tuan rumah perhelatan akbar Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XV yang dijadwalkan bergulir pada 2029 mendatang.

Keputusan strategis tersebut, disahkan dalam Musyawarah Nasional (Munas) Lembaga Pengembangan Pesparawi Nasional (LPPN) yang berlangsung khidmat di Ballroom Hotel Aston Niu, Manokwari, Papua Barat, Kamis (25/6/2026).

Langkah Sulawesi Tengah menuju kursi penyelenggara dipastikan setelah sukses menumbangkan rival kuatnya, Provinsi Sumatra Utara, melalui kemenangan mutlak dalam sesi pemungutan suara.

Mekanisme voting ini terpaksa ditempuh pimpinan sidang lantaran kedua delegasi daerah sama-sama menyajikan pemaparan kesiapan yang impresif dan bersikukuh untuk tidak mundur dari pencalonan.

“Setelah melalui proses presentasi yang dinamis dari kedua belah pihak, dimana masing-masing provinsi tetap memegang teguh komitmennya untuk menjadi episentrum Pesparawi Nasional XV Tahun 2029, forum akhirnya menyepakati jalur pemungutan suara. Berdasarkan penghitungan akhir, Provinsi Sulawesi Tengah berhasil mengantongi dukungan mayoritas sebanyak 27 suara, sementara Provinsi Sumatera Utara harus puas dengan perolehan 11 suara,” ungkap Pdt. Adrie Oktovianus Massie, Pimpinan Sidang Munas LPPN, yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah (LPPD) Provinsi Sulsel.

Adrie menegaskan, keunggulan mutlak ini merupakan cerminan dari keputusan bulat kolektif seluruh representasi peserta munas yang hadir.

Ia mengonfirmasi secara definitif, tanah Sulawesi Tengah akan menjadi pusat perhatian seluruh kontingen se-Indonesia pada bulan Juni 2029.

“Inilah hasil representatif dari komitmen kita bersama. Selamat kepada Provinsi Sulawesi Tengah. Sampai jumpa di panggung kemegahan Pesparawi Nasional XV di Sulawesi Tengah,” tuturnya penuh optimisme.

Sebelum konstelasi suara bergeser ke arah Indonesia tengah, Ketua LPPD Provinsi Sumatra Utara, Arnot Napitupulu, sebenarnya tampil memukau di hadapan peserta munas melalui eksposisi kesiapan wilayahnya yang sangat matang.

Arnot secara lantang menyuarakan Sumatra Utara sudah lebih dari layak untuk merepresentasikan zona Sumatra yang mengoordinasikan total sepuluh provinsi di bagian Barat Indonesia.

Dari segi daya tampung dan mobilitas, Arnot menguraikan bahwa Sumatra Utara disokong modalitas infrastruktur yang mumpuni untuk skala masif.

Ia memaparkan kesiapan wilayahnya yang memiliki jejaring akomodasi mencakup sedikitnya 1.500 kamar hotel siap pakai, serta integrasi konektivitas transportasi yang prima di sektor darat, laut, maupun udara.

“Sumatra Utara sejatinya berada dalam posisi kesiapan tertinggi, baik dari segi ketersediaan venue pertandingan, klaster perhotelan, hingga skema transportasi makro. Kami telah memetakan beberapa titik strategis yang siap dikonversi menjadi arena lomba bertaraf nasional jika mandat ini diberikan kepada kami,” papar Arnot saat itu meyakinkan forum.

Nilai tawar Sumatra Utara kala itu, kian diperkuat dengan adanya jaminan dukungan penuh dari jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatra Utara serta elemen masyarakat lintas sektoral. Kesolidan dukungan domestik inilah yang menjadi motor penggerak utama di balik optimisme pencalonan mereka di panggung munas.

Namun, angin kemenangan berembus ke arah berbeda saat Ketua LPPD Provinsi Sulawesi Tengah, Diah Agustiningsih, mendapatkan giliran berorasi.

Mengusung narasi yang emosional namun taktis, Diah menyuarakan fakta historis bahwa sepanjang sejarah berdirinya Pesparawi Nasional, bumi Sulawesi Tengah belum pernah sekalipun merasakan kehormatan sebagai tuan rumah—sebuah argumen kuat yang menjadi landasan moral utama pengajuan diri mereka.

“Kami hadir sebagai salah satu provinsi yang merindukan momentum bersejarah ini, karena kami belum pernah mengecap status sebagai tuan rumah Pesparawi Nasional. Oleh sebab itu, dengan segala kerendahan hati, izinkan kami mengemban amanah sebagai penyelenggara Pesparawi Nasional XV,” pintanya tulus, yang langsung diperkuat visualisasi video maklumat dukungan resmi dari Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid.

Diah, yang dalam kesehariannya juga mengomandoi Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah, meluruskan ambisi ini bukan sekadar keinginan elite semata, melainkan manifestasi dari kebulatan tekad pemerintah daerah bersama masyarakat di seluruh kabupaten dan kota se-Sulteng.

Guna menepis keraguan publik terkait kapasitas eksekusi, ia membeberkan portofolio kesuksesan Sulteng dalam mengorkestrasi berbagai agenda berskala besar yang melibatkan massa dalam jumlah masif.

“Kami memiliki rekam jejak empiris dalam memimpin acara nasional berkapasitas sekitar 2.000 peserta, dimana seluruh rangkaian acara mampu berjalan dengan parameter keamanan tinggi dan ketertiban yang terjaga,” jelasnya.

Bagi Sulawesi Tengah, mengelola hajatan kolosal tingkat nasional bukanlah sebuah wilayah baru yang asing. Menengok kilas balik sejarah pascareformasi (Juli 1998), Kota Palu selaku ibu kota provinsi terbukti sukses menjadi pusat perhimpunan aktivis mahasiswa melalui Kongres GMKI pada Oktober 1998 yang sukses menyerap ribuan partisipan dari Sabang sampai Merauke.

Sejak kesuksesan awal tersebut, deretan megaproyek acara nasional lainnya terus mengalir dan sukses diselenggarakan di Sulteng.

Portofolio mentereng tersebut di antaranya mencakup Kejurnas Karate Piala Mendagri pada 2018, gelaran akbar Munas KAHMI XI pada November 2022, hingga yang paling aktual adalah kesuksesan penyelenggaraan Perayaan Paskah Nasional V pada April 2026 yang lalu.

Tidak hanya modal rekam jejak, Sulawesi Tengah menyodorkan lompatan transformasi infrastruktur yang masif, khususnya pada peningkatan kapasitas gerbang udara, laut, dan darat.

Wilayah ini bahkan siap mengoperasikan bandar udara internasional baru yang dalam waktu dekat akan diresmikan, serta kapasitas akomodasi yang jauh lebih superior, yakni menembus angka 3.300 unit kamar hotel dan penginapan komersial.

Lebih jauh, Diah menggarisbawahi keunggulan geopolitik Sulteng yang bertengger tepat di jantung atau poros tengah kepulauan Indonesia. Posisi strategis ini diklaim menjadi stimulus positif, karena memangkas jarak tempuh dan mempermudah aksesibilitas bagi seluruh kontingen dari berbagai penjuru wilayah nusantara.

“Jika kepercayaan ini diletakkan di pundak kami, Sulawesi Tengah sepenuhnya siap lahir dan batin untuk menyajikan Pesparawi Nasional XV yang tak terlupakan,” cetusnya mantap.

“Keberhasilan mengamankan status tuan rumah ini tentunya bertransformasi menjadi tantangan nyata bagi jajaran pemerintah daerah beserta panitia lokal dalam menyongsong tahun 2029. Optimalisasi infrastruktur fisik, manajemen transportasi massal, standardisasi akomodasi, serta pelayanan prima bagi para delegasi akan menjadi fokus absolut demi kesuksesan Pesparawi Nasional XV nanti,” pungkas Diah, yang langsung disambut dengan gemuruh jabat tangan dan tepuk tangan meriah dari seluruh peserta Munas yang memadati ruangan. (***)

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


To top