PLUZ.ID, MAKASSAR – Menghadapi tantangan global terkait perubahan iklim dan degradasi lingkungan, PT Vale Indonesia Tbk (PTVI) berkomitmen untuk mengelola dampak operasional secara bertanggung jawab dan berkelanjutan melalui Environmental Management System (EMS) yang terintegrasi.
Pelaksana Tugas (Plt) Presiden Direktur / CEO PT Vale Indonesia Tbk, Bernardus Irmanto, dikutip dari Laporan Keberlanjutan PT Vale Indonesia Tbk 2024, Jumat (11/7/2025), mengatakan, sistem ini memastikan setiap tahap operasional, mulai dari kegiatan eksplorasi hingga rehabilitasi lahan pascatambang, dilaksanakan sesuai dengan prinsip keberlanjutan yang telah ditetapkan.
“Komitmen ini tertuang dalam kebijakan keberlanjutan kami dan diterapkan di seluruh operasi dan rantai pasok, dengan mengacu pada prinsip-prinsip internasional, seperti Prinsip Pengelolaan Tambang Berkelanjutan ICMM, Standar Kinerja Lingkungan dari International Finance Corporation (IFC), dan Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001:2015,” ujarnya.
“Pada tahun 2024, site kami di Sorowako berhasil memperpanjang sertifikasi Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001:2015 yang mencakup lingkup pertambangan, pabrik pengolahan nikel, serta pendukung dan jasanya,” tambah Bernardus.
Ia mengatakan, sebagai bagian dari pengelolaan dampak lingkungan, PT Vale Indonesia menerapkan Life Cycle Assessment (LCA) untuk mengukur dampak lingkungan di setiap tahap siklus tambang.
“Pendekatan ini memungkinkan perusahaan menilai dan memitigasi dampak negatif secara lebih komprehensif, serta memastikan operasional yang sesuai dengan standar yang ditetapkan IFC dan ISO,” katanya.
Selain itu, PT Vale Indonesia juga mengadopsi Preliminary Risk Analysis and Aspects Assessment serta pendekatan Change Management untuk mengidentifikasi dan mengurangi dampak lingkungan sejak tahap perencanaan. Program ini telah diterapkan di wilayah operasional Blok Sorowako, Pomalaa, dan Bahodopi.
Sebagai bagian dari pendekatan yang komprehensif, PT Vale Indonesia juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan dalam pengelolaan lingkungan.
Bernardus menjelaskan, perusahaan secara aktif melibatkan masyarakat, pemerintah, dan mitra bisnis dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL), dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) melalui kegiatan konsultasi publik. Namun, karena Amdal lebih berfokus pada aspek lingkungan, maka pada 2024 PT Vale Indonesia juga melakukan Environmental and Social Impact Assessment (ESIA) untuk memastikan pendekatan yang lebih luas, mencakup baik dampak lingkungan maupun dampak sosial secara menyeluruh.
“Pendekatan ESIA ini merupakan salah satu upaya pengelolaan dampak yang lebih menyeluruh yang sejalan dengan standar internasional dan bertujuan untuk memastikan bahwa proyek-proyek pertambangan tidak hanya memitigasi dampak lingkungan, tetapi juga mempertimbangkan kesejahteraan sosial masyarakat sekitar,” jelasnya.
PT Vale Indonesia menetapkan program berbasis target untuk memastikan efektivitas kebijakan lingkungan, dengan evaluasi berkala guna meningkatkan efisiensi sumber daya dan meminimalkan dampak operasional. Kebijakan terkait konservasi, emisi, efisiensi energi, dan target lainnya telah terintegrasi dalam RKL dan RPL, dengan pelaporan rutin kepada otoritas terkait.
Sejalan dengan proses divestasi, perusahaan melakukan pembaruan terhadap kebijakan keberlanjutan yang memberikan peluang untuk menyesuaikan strategi secara lebih independen untuk menciptakan dampak positif yang lebih besar.
Dalam penerapannya, sistem manajemen lingkungan PT Vale Indonesia diawasi langsung Kepala Teknik Tambang bersama Manajer Lingkungan, guna memastikan keselarasan dengan praktik terbaik industri dan tujuan keberlanjutan. Untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi, perusahaan menggunakan aplikasi khusus, yaitu Regulation Compliance System (RCS).
“Melalui aplikasi ini, kepatuhan dipantau secara berkala, untuk memastikan kesesuaiannya dengan peraturan pemerintah yang berlaku. Melalui sistem manajemen lingkungan, PT Vale Indonesia juga melakukan pemantauan emisi GRK, pengelolaan limbah, audit air dan efisiensi energi, serta audit internal dan eksternal,” terangnya.
Bernardus mengatakan, kinerja pengelolaan lingkungan dilaporkan secara berkala melalui situs perusahaan dan kepada otoritas terkait, seperti Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan (KLHK), Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup Sulsel, dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Luwu Timur.

“Sebagai bagian dari implementasi sistem pengelolaan lingkungan, PT Vale secara konsisten mengalokasikan anggaran khusus untuk mendukung berbagai program dan kegiatan terkait. Pada 2024, PT Vale mengalokasikan dana sebesar AS$28,4 juta untuk mendukung upaya pengelolaan lingkungan secara menyeluruh,” bebernya.
Perusahaan Nikel Pertama di Indonesia Raih Proper Emas
Komitmen PT Vale Indonesia dalam pengelolaan lingkungan yang melampaui kepatuhan regulasi serta kontribusi nyata dalam memberdayakan masyarakat untuk menyelesaikan permasalahan sosial yang ada di sekitar wilayah operasi perusahaan mendapatkan pengakuan secara nasional.
Yaitu dengan meraih penghargaan Proper predikat Emas 2024. Hal ini juga menjadikan PT Vale Indonesia sebagai perusahaan pertama di pertambangan dan industry nikel yang mendapat pengakuan tertinggi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

PROPER EMAS. Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyerahkan Penghargaan Proper Emas kepada Vice President Director & Chief Operations & Infrastructure Officer PT Vale Indonesia Abu Ashar. foto: istimewa
Setelah tiga tahun berturut-turut mempertahankan Proper Hijau, pencapaian ini menegaskan komitmen dan upaya yang tak henti PT Vale Indonesia dalam inovasi dan keberlanjutan.
Penghargaan ini mencerminkan kepatuhan terhadap regulasi serta keberhasilan inisiatif lebih dari kepatuhan seperti pengurangan emisi, efisiensi energi, pengelolaan air dan limbah, rehabilitasi lahan pascatambang, dan program sosial.
Bahkan, PT Vale Indonesia menjadi satu-satunya perusahaan pertambangan nikel yang meraih predikat proper emas dari 85 perusahaan meraih predikat yang serupa.
“Di PT Vale Indonesia, kami percaya bahwa keberlanjutan lebih dari sekadar operasi pertambangan yang bertanggung jawab; ini tentang bagaimana kami dapat berkontribusi pada solusi global,” jelas Abu Ashar, Wakil Presiden Direktur & Chief Operations & Infrastructure Officer PT Vale Indonesia. (***)