search
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Vale Target Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca

doelbeckz - Pluz.id Rabu, 16 Juli 2025 12:00
Ilustrasi. foto: istimewa
Ilustrasi. foto: istimewa

PLUZ.ID, MAKASSAR – PT Vale Indonesia (PTVI) menerapkan strategi pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang komprehensif di seluruh rantai produksi nikel matte.

Pelaksana Tugas (Plt) Presiden Direktur / CEO PT Vale Indonesia Tbk, Bernardus Irmanto, dikutip dari Laporan Keberlanjutan PT Vale Indonesia Tbk 2024, Rabu (16/7/2025), mengakui, strategi ini berfokus pada tiga aspek utama, yaitu efisiensi energi, transisi ke bahan bakar bersih, dan integrasi teknologi rendah karbon.

“PT Vale Indonesia tengah merencanakan optimalisasi pengelolaan bahan baku di wet ore stockpile melalui redesain stockpile, yang bertujuan untuk menurunkan kadar air bijih sebelum memasuki proses pengeringan di tanur pengering (dryer kiln). Langkah ini diharapkan dapat menurunkan konsumsi energi selama proses pengeringan. Selain itu, PT Vale Indonesia tengah melakukan peralihan bahan bakar dari batu bara ke biokarbon dan biofuel pada tahap pengeringan dan reduksi,” ujarnya.

Bernardus mengatakan, dalam proses peleburan, PT Vale Indonesia mengimplementasikan pemanfaatan panas limbah dari gas buang dan slag di electric furnace, yang berkontribusi terhadap efisiensi energi. Selain itu, penggunaan tanur listrik (electric furnace) mendukung pengurangan jejak karbon dalam pemrosesan nikel matte.

Selain itu, PT Vale Indonesia bersama mitra berfokus pada pengembangan fasilitas pengolahan bijih nikel dengan teknologi rendah karbon, High Pressure Acid Leach (HPAL), di proyek pengembangan penambangan Bahodopi, dan Pomalaa dengan kapasitas produksi 300.000 ton MHP (mixed hydroxide precipitate) per tahun.

Teknologi ini memiliki intesitas energi yang lebih rendah dibandingkan dengan teknologi rotary kiln electric electric furnace (RKEF) yang saat ini digunakan di Sorowako, sehingga akan mendukung produksi nikel berkelanjutan dan pengurangan emisi. Ini menjadi bagian dari upaya menuju transisi energi bersih. Pembangunan smelter HPAL di Bahodopi direncanakan akan dimulai pada kuartal IV 2025.

“Melalui strategi ini, PT Vale Indonesia tidak hanya mengurangi kebutuhan energi, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil serta mempercepat transisi menuju operasi pertambangan yang lebih ramah lingkungan. Pendekatan ini sejalan dengan target jangka panjang perusahaan untuk mengurangi emisi Scope 1 dan 2 sebesar 33 persen pada 2030 dan mencapai karbon netral pada 2050,” katanya.

Manajemen Energi

Pengurangan konsumsi bahan bakar fosil dan peningkatan efisiensi produksi merupakan langkah krusial dalam mengurangi dampak perubahan iklim serta mendukung upaya dekarbonisasi.

“Konsumsi energi kami terutama berasal dari dua aktivitas penambangan nikel dan proses produksi,” ujar Bernardus.

Di Sorowako, sebagian besar energi digunakan untuk proses pengolahan bijih nikel untuk memproduksi nikel matte melalui teknologi RKEF. Tanur pereduksi (reduction kiln) memegang peran signifikan dalam hal ini. Tanur pereduksi menyumbang sekitar sepertiga dari total konsumsi energi kami, dengan menggunakan batubara dan bahan bakar minyak (MFO) sebagai sumber bahan bakar utama.

Perhitungan konsumsi dan intensitas energi dilakukan dengan mengacu pada pedoman IPCC serta menggunakan pendekatan spesifik berdasarkan standar ISO 50001.

Pada periode pelaporan 2024, PT Vale Indonesia mencatat total konsumsi energi sebesar 31.785.655,01 GJ, dengan intensitas energi sebesar 451,9 GJ/Ton Ni.

Terjadi peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, yang disebabkan peningkatan konsumsi bahan bakar minyak (MFO) untuk menghilangkan kadar air bijih di tanur pengering maupun tanur pereduksi.

Peningkatan kadar air bijih diakibatkan curah hujan yang tinggi dengan rata-rata bulanan 281,5 mm pada tahun 2024 dibanding rata-rata bulanan 240,0 mm pada tahun 2023.

Selain itu, kadar nikel umpan bijih pada tahun 2024 lebih rendah dari 2023 (1,75 Ni/ton dibanding 1,76), sehingga untuk mendapatkan hasil yang sama diperlukan umpan bijih yang lebih banyak yang pada akhirnya memerlukan energi yang lebih banyak juga.

Meskipun perubahan ini mengakibatkan peningkatan sementara dalam intensitas energi, PT Vale Indonesia terus berupaya untuk menyeimbangkan kebutuhan operasional dengan tujuan keberlanjutan jangka panjang.

“Untuk mengatasi tantangan ini, kami akan menerapkan inisiatif ore dewatering pada tahun 2025 sebagaimana dijelaskan sebelumnya, untuk mengurangi kadar air umpan bijih, sehingga tercapai efisiensi penggunaan energi. Proses dewatering yang mencakup pengaturan drainase pada tempat penyimpanan umpan bijih basah dan pengatapan untuk menghindari tambahan kadar air dari curah hujan dapat membantu mengelola kadar air di tempat penyimpanan bijih basah. Pada tahun 2024, intensitas penggunaan energi terbarukan mencapai 136,38 GJ/Ton Ni, meningkat 1,82 persen dari 133,94 GJ/Ton Ni pada tahun 2023,” katanya.

“Pencapaian ini mencerminkan dedikasi kami dalam mendorong pemanfaatan energi terbarukan dan mengurangi dampak lingkungan secara bertahap. Pada tahun pelaporan, PT Vale Indonesia tidak menghitung konsumsi di luar organisasi,” tambahnya.

Bernardus menjelaskan, selama 2024, energi terbarukan menyumbang 30,6 persen dari total konsumsi energi PT Vale Indonesia. Hal ini mencerminkan komitmen perusahaan dalam mengurangi ketergantungan pada energi non-terbarukan dengan mengoptimalkan sumber energi yang lebih ramah lingkungan.

Pada tahun ini, PT Vale Indonesia sepenuhnya beralih ke B35 dan tidak lagi menggunakan B30. B35 menyumbang 8,12 persen dari total konsumsi energi terbarukan perusahaan, menunjukkan peningkatan penggunaan biodiesel berbasis minyak nabati.

Selain B35, PT Vale Indonesia juga menjajaki potensi penggunaan bahan bakar terbarukan lainnya, yaitu HVO seperti yang dijelaskan sebelumnya. Pada bulan November 2024, perusahaan melakukan uji coba penggunaan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), yang memiliki emisi karbon lebih rendah dibandingkan B35 meskipun harganya lebih tinggi.

Penggunaan HVO ini sejalan dengan strategi dekarbonisasi perusahaan dan menjadi langkah penting dalam upaya mengurangi jejak karbon. Dengan mengadopsi HVO di sektor pertambangan dan menguji penggunaannya pada alat berat, emisi karbon dapat dikurangi hingga 70 persen, serta emisi gas rumah kaca hingga 80 persen dibandingkan bahan bakar solar konvensional.

Selain itu, PT Vale Indonesia juga tengah melakukan uji coba terhadap biomassa sebagai sumber energi alternatif untuk pembangkit, yang diharapkan dapat memperluas portofolio energi terbarukan perusahaan pada masa yang akan datang.

Untuk pengoperasian rutin pabrik pengolahan RKEF di Sorowako, PT Vale Indonesia memanfaatkan energi terbarukan dari tiga Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA):
• PLTA Larona (3 x 68 MW),
• PLTA Balambano (2 x 68,5 MW), dan
• PLTA Karebbe (2 x 65 MW).

Ketiga PLTA tersebut menghasilkan energi bersih yang mencakup 28,11 persen dari total kebutuhan energi PT Vale Indonesia. Tidak hanya memenuhi kebutuhan internal, PLTA tersebut juga menghibahkan 10,7 MW listrik untuk wilayah Luwu Timur, berkontribusi sebagai komitmen yang kuat atas peningkatan energi bersih bagi masyarakat sekitar.

“PLTA Larona menjadi yang pertama di Indonesia menerapkan kanal berlapis geomembran dan geotekstil, meningkatkan retensi air dan mengurangi kebocoran. Inovasi ini meningkatkan efisiensi dan ketahanan pembangkit listrik tenaga air, serta menetapkan tolok ukur baru untuk energi berkelanjutan. Hal ini menegaskan komitmen kami terhadap pengelolaan lingkungan dan terus menginspirasi proyek masa depan, memperkuat kepemimpinan kami dalam energi terbarukan,” jelasnya.

Untuk melihat Volume Pemakaian Energi dalam Organisasi (GJ) berdasarkan sumber energi dan penggunaannya, silakan merujuk ke tabel data di bagian Volume Pemakaian Energi dalam Organisasi (GJ).

“Laporan ini belum menghitung besaran reduksi/efisiensi energi dari produk/layanan terjual 2024. Hal ini dikarenakan pengiriman nikel dalam matte menggunakan kapal yang disediakan pembeli, dengan demikian penghitungan energi berdasarkan konversi dari volume pemakaian bahan bakar bukan menjadi tanggung jawab PT Vale Indonesia,” papar Bernardus.

Pemantauan dan Pengurangan Emisi GRK

Penghitungan emisi GRK di Sorowako mencakup Scope 1, yang berasal dari kegiatan produksi dan konsumsi BBM, serta Scope 2 dari pemakaian listrik. Saat ini, PT Vale Indonesia belum menghitung emisi Scope 3. Namun, pada tahun pelaporan ini, kami telah mulai menyusun tools dan memetakan sumber-sumber emisi relevan sebagai langkah awal menuju perhitungan Scope 3.

“Kami menargetkan untuk dapat menghitung emisi Scope 3 dalam 1–2 tahun mendatang, sejalan dengan komitmen kami untuk menyajikan laporan emisi yang lengkap dan transparan di seluruh rantai nilai,” ungkap Bernardus.

Hasil penghitungan dinyatakan dalam satuan ton CO₂e dan mencakup konversi dari emisi GRK non-CO₂ seperti CH₄, N₂O, dan HFC. PT Vale tidak melakukan penghitungan atas emisi CO₂ biogenik. Metode penghitungan mengacu pada neraca konsumsi energi dari bahan bakar fosil dan gas rumah kaca, menggunakan baseline tahun 2017 dan indeks Global Warming Potential (GWP) sebesar 1. Panduan yang digunakan adalah dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC),
dengan GWP mengacu pada laporan penilaian kelima tahun 2014 (AR-5).

Pada 2024, total emisi GRK PT Vale dari Scope 1 dan Scope 2 mencapai 2,135,742 ton CO₂e. Dari jumlah tersebut, Scope 1 menyumbang 2,132,973 ton CO₂e, sedangkan Scope 2 tercatat sebesar 2.769 ton CO₂e. Jumlah ini menunjukkan adanya peningkatan sebesar 6 persen dibandingkan baseline 2017 yang sebesar 2.013.950 ton CO₂e.

“Selain itu, PT Vale Indonesia berkomitmen untuk terus memantau intensitas emisi GRK guna memastikan setiap lokasi operasi tetap berada dalam batasan atau target emisi yang telah ditetapkan. Pada 2024, intensitas emisi GRK kami tercatat sebesar 29,95 CO2 e/ton, yang menunjukkan peningkatan sebesar 4,25 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” jelas Bernardus.

Menurutnya, kenaikan ini disebabkan peningkatan konsumsi bahan bakar minyak (MFO) untuk menghilangkan kadar air bijih di tanur pengering maupun tanur pereduksi. Peningkatan konsumsi MFO ini disebabkan meningkatnya kadar air umpan bijih yang diakibatkan curah hujan yang lebih tinggi dan menurunnya kadar nikel dibandingkan di 2023 sebagaimana yang telah dijelaskan dalam sub bab sebelumnya.

“Oleh karena itu, kami terus berinovasi dalam upaya mengurangi kadar air bijih, termasuk merancang ulang tempat penyimpanan bijih basah untuk meningkatkan pengurangan alami kadar air. Selain itu, sesuai dengan peta jalan dekarbonisasi, kami saat ini fokus pada pemanfaatan gas buang dan konversi batu bara menjadi biokarbon. Ke depan, kami akan terus mengevaluasi dan mengembangkan inovasi guna memastikan intensitas emisi tetap sesuai target dan dapat terus diturunkan,” jelasnya.

Pengendalian Emisi Non-GRK

Dalam menjalankan operasionalnya, PT Vale Indonesia tidak hanya berkomitmen untuk mengurangi emisi GRK, tetapi juga memastikan pengelolaan dan pengendalian emisi non-GRK yang dihasilkan.

Bernardus mengatakan, emisi non-GRK yang menjadi fokus utama perusahaan meliputi Sulfur Dioksida (SO₂) dan Partikulat. Dalam perhitungan emisi non GRK mengikuti metodologi yang ditetapkan dalam PERMEN KLHK No.4/2014.

Emisi SO₂

Emisi SO₂ dari operasional berasal dari penggunaan sulfur dalam proses sulfidasi selama pengolahan bijih nikel dan penggunaan Marine Fuel Oil (MFO) serta batu bara sebagai sumber energi.

“Kami telah melakukan berbagai langkah untuk mengendalikan emisi ini, utamanya. Menstabilkan proses di tanur pereduksi untuk optimasi penggunaan sulfur. Perhitungan emisi SO menggunakan metode neraca massa dengan menentukan
intensitas emisi melalui perbandingan berat SO2 diemisikan dengan berat produk dihasilkan, dan dinyatakan dalam satuan ton SO2/ton Ni,” beber Bernardus.

Pada 2024, intensitas emisi SO₂ tercatat sebesar 0,73 ton SO₂ per ton nikel (Ni), mengalami penurunan sebesar 2,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 0,75 ton SO₂ per ton Ni.

“Capaian ini menunjukkan komitmen berkelanjutan kami dalam menjaga emisi tetap berada di bawah ambang batas yang ditetapkan, yaitu 0,8 ton SO₂ per ton Ni. Ke depannya, kami akan terus berupaya menurunkan emisi SO2 secara konsisten dengan berfokus pada peningkatan efisiensi penggunaan sulfur,” jelasnya.

Emisi Partikulat

PT Vale Indonesia terus melakukan pengendalian emisi partikulat melalui pemantauan dan pengukuran sesuai peraturan pemerintah yang berlaku. Kegiatan ini difokuskan pada sumber-sumber emisi cerobong tanur pengering (dryer kiln), tanur reduksi (reduction kiln), tungku peleburan (electric furnace), dan pengering produk (product dryer).

“Pengukuran intensitas partikulat dinyatakan dalam satuan ton Partikulat per ton Ni (ton Partikulat/ton Ni), yang menjadi indikator kinerja dalam mengurangi dampak lingkungan dari operasional kami,” kata Bernardus.

Jumlah partikulat yang diemisikan pada 2024 tercatat sebesar 879 ton, mengalami peningkatan dibandingkan 2023 yang sebesar 600 ton, atau naik sebesar 46,5 persen. Hasil pengukuran intensitas partikulat juga menunjukkan kenaikan, dari 0.007 ton Partikulat/ton Ni pada tahun sebelumnya menjadi 0,012 ton Partikulat/ton Ni pada 2024.

Peningkatan ini dipengaruhi penurunan kadar nikel pada umpan. Sehingga untuk menghasilkan jumlah produk yang sama diperlukan umpan yang lebih banyak untuk diproses.

Untuk mengatasi hal ini, selain program yang sudah ada, ke depannya PT Vale Indonesia menginisiasi program Dust Aglomeration, dimana debu dimampatkan dalam bentuk pellet, sehingga dapat menekan debu yang tersirkulasi di dalam alat pengendali pencemaran (dusting rate). Pada 2024, progres pengembangan program ini mencapai 57 persen, yang terdiri dari kajian, uji coba, dan konstruksi. Direncanakan program ini dapat diimplementasikan secara penuh pada 2026. (***)

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


To top