search
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Vale Pastikan Perlindungan Keanekaragaman Hayati Demi Keberlanjutan

doelbeckz - Pluz.id Selasa, 22 Juli 2025 19:00
Ilustrasi. foto: istimewa
Ilustrasi. foto: istimewa

PLUZ.ID, MAKASSAR – PT Vale Indonesia Tbk (PTVI) menyadari keanekaragaman hayati merupakan elemen penting bagi kelangsungan ekosistem serta memberikan manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi yang tidak tergantikan bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.

Pelaksana Tugas (Plt) Presiden Direktur / CEO PT Vale Indonesia Tbk, Bernardus Irmanto, dikutip dari Laporan Keberlanjutan PT Vale Indonesia Tbk 2024, Selasa (22/7/2025), mengatakan, aktivitas pertambangan yang dijalankan PT Vale Indonesia berpotensi mempengaruhi keanekaragaman hayati dan ekosistem di sekitar wilayah operasi, antara lain melalui perubahan habitat, fragmentasi ekosistem, penurunan populasi spesies, polusi lingkungan, serta potensi masuknya spesies invasif.

“Sebagian besar area tambang kami berada di dalam atau berdekatan dengan kawasan hutan yang memiliki nilai ekologis tinggi dan menyediakan berbagai jasa ekosistem penting bagi masyarakat sekitar, seperti penyediaan air bersih, penyerapan karbon, dan habitat bagi berbagai spesies,” ujarnya.

“Oleh karena itu, kami terus berupaya untuk memastikan bahwa operasi kami selaras dengan prinsip-prinsip konservasi keanekaragaman hayati dan berkomitmen untuk meminimalkan dampak, termasuk pada Kawasan lindung,” lanjutnya.

Bernardus mengatakan, PT Vale Indonesia mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan pada perlindungan dan pemeliharaan keanekaragaman hayati dari dampak penambangan.

“Sebagai bagian dari upaya ini, kami secara terus menerus mencari potensi penerapan prinsip ‘no net loss’ dan ‘net positive impact’ serta tidak akan mengembangkan tambang baru di kawasan lindung tanpa persetujuan dari pemerintah, sesuai dengan komitmen yang tercantum dalam Kebijakan Keberlanjutan kami,” katanya.

Dalam mengelola dampak terhadap keanekaragaman hayati, PT vale Indonesia mengikuti hierarki mitigasi berikut:
1. Menghindari: Memilih lokasi dan teknologi yang meminimalkan dampak terhadap keanekaragaman hayati sejak tahap perencanaan
2. Meminimalkan: Mengurangi dampak selama fase desain dan konstruksi melalui praktik terbaik dan inovasi teknologi
3. Memperbaiki: Melakukan rehabilitasi dan restorasi lingkungan yang terdampak untuk mengembalikan fungsi ekosistem
4. Mengganti Kerugian: Sebagai langkah terakhir, mengganti kerugian ekologis melalui program-program kompensasi yang sesuai.

Bernardus menjelaskan, untuk menghindari dampak terhadap keanekaragaman hayati, PT Vale Indonesia menetapkan zona penyangga (buffer zone) di area sempadan danau sebagai kawasan lindung yang tidak diperbolehkan untuk kegiatan penambangan, guna menjaga fungsi ekologis dan keberlangsungan habitat di sekitar perairan tersebut.

“Selain itu, kami juga menjaga zona karst tetap bebas dari aktivitas penambangan karena karakteristik ekologis dan hidrologisnya yang rentan serta penting bagi pelestarian biodiversitas,” jelasnya.

“Selain itu untuk meminimalkan dampak terhadap keanekaragaman hayati, kami juga berupaya untuk mengurangi sisa bukaan lahan tambang dengan melaksanakan reklamasi lahan tambang secara progresif sesuai dengan Rencana Reklamasi dan Rencana Pascatambang (RPT) dan Peraturan Pemerintah No. 78 Tahun 2010. Reklamasi progresif ini dilakukan dengan mengintegrasikan rencana penambangan dan reklamasi melalui, sistem kompartemenisasi, untuk mengoptimalkan pelaksanaan back-filling,” tambah Bernardus.

Sebagai langkah awal dari upaya konservasi keanekaragaman hayati, PT Vale Indonesia melakukan inventarisasi flora dan fauna untuk memperoleh informasi awal terkait kondisi keanekaragaman hayati sebelum kegiatan penambangan dimulai.

Untuk mengatasi potensi dampak terhadap spesies, PT Vale Indoensia menerapkan upaya konservasi ex-situ, yang diwujudkan melalui berbagai program berikut:
1. Konservasi jenis-jenis pohon lokal hasil inventarisasi melalui pengambilan anakan dari berbagai tahap pertumbuhan—semai, pancang, dan tiang—untuk ditanam dan dipelihara di arboretum
2. Penerapan teknik root-balling dalam penyediaan bibit tanaman lokal, yang kemudian ditanam Kembali di lahan-lahan rehabilitasi. Setiap bibit ditandai menggunakan geo-tagging guna mendukung pemantauan pertumbuhan dan keberlanjutannya
3. Penetapan kawasan Taman Keanekaragaman Hayati Sawerigading sebagai pusat konservasi flora, terutama tanaman yang penyerbukannya dibantu satwa, serta sebagai bagian dari konservasi kupu-kupu lokal
4. Peningkatan status penangkaran rusa timor (Rusa timorensis) menjadi pusat konservasi satwa khusus, yang saat ini dalam proses pengajuan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA)
5. Penetapan area reklamasi Himalaya sebagai arboretum yang berada di kawasan bekas tambang.

Pada 2024, PT Vale telah melakukan beberapa upaya pemulihan keanekaragaman hayati, diantaranya:
1. Penanaman kembali jenis-jenis tanaman lokal pada area rehabilitasi tambang seluas 62 ha sebanyak 67.903 pohon yang terdiri dari 34 jenis, diantaranya Nyatoh, Bitti, Betau, Dengen, Agathis, Jamu-jambu dan Mata Kucing
2. Penangkaran 22 ekor rusa lokal (Cervus timorensis)
3. Restorasi dan rehabilitasi ekosistem mangrove dengan total luasan 204 ha, dengan penanaman jenis Rhizophora sp.

Upaya-upaya ini dilakukan untuk meminimalkan dampak negatif kegiatan pertambangan serta memastikan keberlanjutan ekosistem di wilayah operasi PT Vale Indonesia.

Sebagai upaya perbaikan dan pemulihan yang berkesinambungan pada 2025, PT Vale Indonesia akan melakukan kajian yang lebih seksama untuk menyusun rencana strategi konservasi keanekaragaman hayati dalam upaya bertahap untuk mencapai target no-net loss dan net positive impact.

Taman Kehati Sawerigading Wallacea

Sebagai wujud nyata komitmen terhadap konservasi keanekaragaman hayati, PT Vale Indonesi menetapkan Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) Sawerigading Wallacea sebagai kawasan khusus yang mengintegrasikan fungsi konservasi, edukasi, dan rekreasi. Terletak di area seluas ±71,8 hektare, taman ini menjadi rumah bagi berbagai jenis tumbuhan lokal, tempat penangkaran rusa timor (Rusa timorensis), serta konservasi kupu-kupu lokal dan endemik.

Penetapan taman ini secara internal dilakukan pada Agustus 2024, dan disahkan melalui keputusan Bupati Luwu Timur Nomor 54/D-05/II/Tahun 2025. Taman Kehati Sawerigading Wallacea tidak hanya mencerminkan komitmen perusahaan terhadap perlindungan lingkungan, tetapi juga membuka ruang pembelajaran dan keterlibatan publik dalam menjaga kekayaan hayati lokal.

Cocogrow untuk Percepatan Konservasi Dengen

Pada 2024, PT Vale Indonesia mengembangkan Program Cocogrow untuk Percepatan
Konservasi Dengen (Dillenia celebica dan Dillenia serrata), flora endemik Sulawesi yang masuk dalam daftar merah IUCN dengan status terancam punah (Endangered).

Sebelum adanya program ini, perbanyakan Dengen dilakukan secara generatif konvensional melalui benih dan anakan, yang memiliki ketidakpastian genetik dan membutuhkan waktu lebih dari satu tahun untuk menghasilkan bibit siap tanam.

Untuk mengatasi tantangan ini, PT Vale Indonesia berkolaborasi dengan akademisi Universitas Hasanuddin dalam mengembangkan metode perbanyakan vegetatif melalui cangkok, menggunakan kombinasi cocopeat dan air kelapa kaya nutrisi sebagai media tanam.

Metode ini terbukti mempercepat pembentukan akar, memungkinkan bibit siap tanam dalam waktu tiga bulan, serta memastikan kepastian genetik bibit dengan morfologi dan kualitas yang seragam dengan induknya.

Selain berkontribusi terhadap target ‘No Net Loss Biodiversity’, program ini juga memberikan dampak ekonomi melalui industrial symbiosis. PT Vale Indonesia berkolaborasi dengan Gabungan Petani Tanaman Buah (Gapetab) Kecamatan Towuti sebagai pemasok cocopeat, yang menghasilkan tambahan pendapatan sebesar Rp78 juta per tahun, dengan proyeksi peningkatan hingga Rp99,5 juta dalam lima tahun ke depan.

Selain itu, kelompok Himpunan Pegiat Herbal Organik (Hipho) memanfaatkan buah Dengen untuk produksi minuman herbal, dengan potensi omzet tahunan mencapai Rp57.150.000 dari penjualan 5.715 kemasan jus Dengen.

Tanam 1.000 Bibit Mangrove dan Pelepasan Kepiting

Dalam rangka memperingati Hari Ozon Sedunia, PT Vale Indonesia menggelar aksi lingkungan di Desa Pasi-pasi Malili, Luwu Timur, 28 September 2024.

Kegiatan ini meliputi penanaman 1.000 bibit mangrove dari jenis Rhizophora mucronata dan Rhizophora aviculata serta pelepasan kepiting bakau untuk menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.

Aksi ini melibatkan masyarakat setempat, Pemerintah Daerah Luwu Timur, Yayasan Konservasi Cinta Laut Indonesia (YKCLI), serta Badan Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar. Selain rehabilitasi ekosistem, PT Vale Indoensia juga meresmikan mangrove track sepanjang 100 meter sebagai jalur edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan pesisir dan lapisan ozon.

PT Vale Indoensia berkomitmen untuk terus mendukung upaya pelestarian keanekaragaman hayati dan pengurangan emisi karbon. Dengan semangat kolaborasi, PT Vale Indonesia berharap aksi ini dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi ekosistem dan generasi mendatang. (***)

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


To top