Basuki menjelaskan, sungainya dilakukan normalisasi, karena dasar sungainya sudah naik bahkan ketebelannya mencapai delapan meter.
Kementerian PUPR melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang menambah alat berat guna mempercepat penanganan darurat banjir bandang. Tambahan alat berat dikerahkan ke Desa Radda yang terdampak paling parah.
Banjir bandang, Senin (13/7) malam lalu, disebabkan luapan air Sungai Masamba menyusul hujan berintensitas sangat tinggi di hulu sungai. Luapan air sungai tersebut membawa material lumpur dan
batang pohon berukuran besar.
Sebelumnya, Kementerian PUPR telah mengerahkan tiga excavator, satu dozer, dan dua dump truck. Selain itu, ada pula empat excavator dari instansi setempat yang membantu proses penanganan darurat.
Penanganan darurat juga dilakukan Kementerian PUPR dengan membangun tanggul karung pasir mencegah kembalinya meluap air sungai, serta menyediakan fasilitas air bersih, sanitasi, dan bantuan sembako bagi pengungsi.
Sedangkan, Gubernur Sulsel, HM Nurdin Abdullah, menyebutkan, langkah awal yang dilakukan pasca banjir, pertama mencari keluarga yang belum ditemukan. Kedua, memastikan logistik tersedia, seperti air bersih. Ketiga, yang harus dipulihkan, yakni jaringan listrik dan jaringan komunikasi.
Lanjutnya, bersama Kapolda, Pangdam, dan Kajati, ia datang untuk memberikan support kepada bupati dan pemerintah setempat agar dapat berkonsentrasi menyelamatkan warga dan menyelesaikan kondisi ini dengan cepat.
“Dan Bapak Presiden juga sudah menyampaikan rasa prihatinnya dengan kondisi ini. Dan beliau langsung memerintahkan Panglima TNI, terus Menteri PUPR, Kepala BNPB untuk betul-betul bersatu datang ke Luwu Utara untuk menyelesaikan berbagai hal,” jelasnya. (***)