“Makanya kami akan memberi perhatian khusus kepada pondok pesantren dan pondok tahfiz di Maros nantinya,” imbuh kandidat dengan nomor urut 1 itu.
Mendengar Anregurutta membeberkan, ada banyak santri Nahdlatul Ulum yang lanjut ke Kairo, Mesir dan beberapa di antaranya sudah S2, Tajerimin langsung memaparkan program unggulannya. Yakni mengalokasikan beasiswa untuk warga Maros yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi. Bahkan, hingga tingkat doktoral.
Tajerimin sebagai kader Nahdlatul Ulama (NU) juga menegaskan akan selalu bersama-sama dengan ulama.
Anregurutta yang memberi sambutan mengatakan, kebahagiaan tersendiri dikunjungi Tajerimin, bersama rombongan, termasuk Ketua DPRD Maros Andi Patarai Amir, Ketua Tim Pemenangan Keluarga Tahfidz Nurhasan, petinggi Partai Golkar, PKB, dan lainnya.
“Pesantren ini kami dirikan tahun 2002 lalu,” sebutnya.
Anregurutta memaparkan, Nahladul Ulum berarti kebangkitan ilmu pengetahuan. Dengan harapan bisa menjadi penopang Nahdlatul Ulama yang berarti kebangkitan ulama.
“Kalau ilmu pengetahuan bangkit, ulama-ulama akan lahir,” ucap Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulsel itu.
Pertemuan diawali dengan salat Asar berjemaah di Masjid Rabiatul Adawiyah, di dalam kompleks pesantren. Setelah itu acara silaturahmi dengan santri, disusul bincang santai di ruang kerja Anregurutta.
Anregurutta memberi hadiah buku kisah perjalanan hidupnya kepada Tajerimin.
“Mohon doa Gurutta, serta para santri. Saya mau mengabdikan diri untuk Maros,” ucap Tajerimin. (***)