“Ada Pak Sandiaga Uno yang sebelumnya dianggap berseberangan dan itu melengkapi masuknya Pak Prabowo dalam Kabinet Jokowi. Untuk menjaga itu, saya kira itu pergantian yang tepat,” jelasnya.
Namun, kata Sukri, dirinya menilai konteks kinerja belum bisa diukur. Meski begitu, agenda resufle ini mengindikasikan keinginan kuat Presiden mendorong Kementerian untuk bekerja lebih baik.
“Saya kira langkah yang tepat enam menteri ini diganti karena itu menjadi sorotan. Minus dua yang soal korupsi itu,” katanya.
“Paling banyak pertanyaan itu Menkes yang bukan basicnya Kesehatan. Tapi Menteri itu posisi manajerial yang tetrutama membutuhkan menata tim kerja,” tambahnya.
Terkait Syahrul Yasin Limpo (SYL) tetap menjabat sebagai Menteri Pertanian, Sukri menjelaskan, biasanya pergantian yang dilakukan akan mengacu kepada ketidakpuasan kinerja. Khusus pejabat yang tak kena resuffle, indikasinya puas terhadap kinerja.
“Sejauh ini kalau melihat indikasi, Pak SYL dan menteri lainnya tidak masuk resuffle berarti Pak Jokowi puas sebagai orang yang dibantu, sehingga tidak perlu diganti,” ungkapnya.
Menurut rencana Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan melantik keenam figur menteri baru hasil perombakan (reshuffle) jajaran menteri di Kabinet Indonesia Maju, hari ini, Rabu (23/12/2020).
Sebelumnya, Jokowi mengumumkan langsung reshuffle kabinet pertama untuk Kabinet Indonesia Maju di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Selasa (22/12/2020) kemarin. (***)