search
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Budaya Makan Sehat ‘Sikkato’

doelbeckz - Pluz.id Jumat, 12 November 2021 10:00
Sukri Askari. foto: istimewa
Sukri Askari. foto: istimewa

Merupakan Pendekatan Sosial Budaya Kesehatan, dalam rangka diversifikasi Pangan Lokal di Sulawesi Tenggara

UNDANG-UNDANG Nomor 18/2012 tentang Pangan menjelaskan bahwa diversifikasi (penganeka-ragaman) pangan adalah upaya peningkatan ketersediaan dan konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan berbasis pada potensi sumber daya lokal. Pada Pasal 41 dinyatakan bahwa salah satu tujuan diversifikasi pangan adalah untuk memenuhi pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman. (Berkala Ilmiah Agribisnis AGRIDEVINA: Vol. 7 No.1, Juli 2018).

Salah satu strategi diversifikasi pangan di Sulawesi Tenggara, adalah dengan dibentuknya komunitas melalui keputusan Wali Kota Kendari Nomor 427 tahun 2012 tentang pembentukan Komunitas Masyarakat Peduli Pangan Lokal Sinonggi Kasoami Kambose dan Kabuto. Disingkat ‘Sikkato’ (https://kabar24.bisnis.com/read/20140417/78/220188/kemandirian-pangan-kendari-gali-potensi-tanaman-lokal)

Sinonggi, Kasoami, Kambose, dan Kabuto (Sikkato), adalah jenis makanan khas lokal Sulawesi Tenggara, makanan Sinonggi terbuat dari sagu yang diperkenalkan masyarakat etnis Tolaki dan Mekongga. Kasuami terbuat dari ubi kayu diperkenalkan masyarakat etnis Wakatobi dan Buton. Makanan Kambose dari jagung dan Kabuto dari ubi kayu. Kambose dan Kabuto diperkenalkan masyarakat etnis Muna. (https://sultrakini.com/kenalan-dengan-sikkato-makanan-lokal-sultra-yang-perlu-dicicipi)

Makanan ‘Sikkato’ Sinonggi termasuk makanan yang menyegarkan dan sehat. Pasalnya, sayuran dan lauknya dimasak dengan bumbu yang tidak terlalu banyak alias dimasak bening. Sehingga menjadikan Sinonggi sebagai makanan segar yang mengandung gizi.

Sagu sebagai bahan baku utama memiliki kandungan karbohidrat sekitar 85,6 persen, serat 5’n untuk 100 gr sagu kering setara dengan 355 kalori. Selain mengandung karbohidrat, sagu juga mengandung polimer alami yaitu zat yang sangat bermanfaat bagi tubuh manusia seperti memperlambat peningkatan kadar glukosa dalam darah.

Olehnya itu, Sinonggi aman dikonsumsi penderita diabetes melitus. Kasuami, dan Kabuto terbuat dari bahan bakun ubi kayu mengandung air sekitar 60 persen, pati 25-35 persen, serta protein, mineral, serat, kalsium, dan fosfat. Ubi kayu merupakan sumber energi yang lebih tinggi dibanding padi, jagung, ubi jalar, dan sorgum. Kambose terbuat dari bahan baku jagung yang banyak mengandung banyak serat, jagung juga mengandung vitamin B1 dan B5 yang baik untuk tubuh.

Dengan melihat manfaat dari kandungan makanan khas ‘Sikkato’ yang memenuhi unsur gizi, dan sebagai solusi pencegahan dari penyakit degeneratif, maka penulis, menyarankan kepada seluruh keluarga di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara agar ‘Sikkato’ adalah dapat dijadikan makanan dengan konsep yang hidup dalam sistem sosial budaya sangat erat kaitannya dengan fungsi makanan di lingkungan keluarga dan berlaku dalam masyarakat sebagai salah satu unsur kebudayaan.

Dengan demikian budaya makan sehat adalah salah satu strategi pendekatan yang akan mempercepat proses diversifikasi pangan, memiliki nilai gizi yang baik, aman dikonsumsi karena menggunakan bahan pangan lokal yang segar. (***)

Sukri Askari
Mahasiswa Pascasarjana Prodi S3 Ilmu Pertanian, Universitas Halu Uleo (UHO)

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


To top