search
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Silaturahmi di Pasangkayu, Siasati Pemangkasan Anggaran, Pj Gubernur Sulbar: Ayo ASN dan Warga, Ambil Cangkul

doelbeckz - Pluz.id Kamis, 13 Februari 2025 17:22
Bahtiar Baharuddin. foto: istimewa
Bahtiar Baharuddin. foto: istimewa

PLUZ.ID, PASANGKAYU – Pemerintah menginstruksikan pemangkasan anggaran pemerintah, baik dalam APBN maupun APBD.

Pemangkasan anggaran tersebut, tertuang melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja dalam Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2025.

Akibat pemangkasan itu, banyak kepala daerah ngerem mendadak untuk menyesuaikan APBD-nya. Termasuk aturan pemerintan pusat yang mengatur jadwal kerja bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) pada 2025.

Berdasarkan kebijakan ini, ASN hanya diwajibkan bekerja di kantor selama tiga hari dalam seminggu, sementara sisanya diberlakukan sistem Work From Anywhere (WFA).

“Ayo ambil cangkul. Jangan malu-malu. Sejak dulu saat di Sulsel sampai hari ini saya mendorong ASN dan warga agar memanfaatkan lahan lahan yang kosong untuk mengembangkan budidaya hortikultura dan perikanan,” ujar Bahtiar Baharuddin, Penjabat (Pj) Gubernur Sulbar, saat bersilaturahmi bersama Wakil Bupati Pasangkayu Erny Agus, Sekda Pasangkayu bersama para pejabat Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasangkayu, Rabu (12/2/2025).

Bahtiar ditemani rombongan Kepala OPD Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulbar, seperti Asisten Bidang Ekbang, yang juga Kepala Dinas DKP Suyuti Marzuki, Kepala Inspektorat M Natsir, Kadis Pendidikan Mifhtar, Kadis Ketahanan Pangan Abd Waris, Kepala Kesbangpol Herdin, Kadis Perkim Syahruddin, Kadis Kominfopers, Mustari Mula, Plt Kepala Satpol PP Akhsan, Kadishub Maddareski, Kadis KLH Zulkifli, dan Sekretaris KPU Sulbar.

Dalam sambutannya, Wabup Pasangkayu, Erny Agus, mengatakan, sebagai daerah yang sumber pendapatan utamanya adalah kelapa sawit terpaksa harus menyesuaikan dengan pemangkasan ini.

“Kami daerah dipaksa untuk inovasi meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah). Sementara sumber utama adalah kelapa sawit. Kita tahu bersama, berapa DBH dari pusat untuk daerah,” ucapnya.

Untuk itulah dalam silaturahmi ini, Erny berharap, kepada Bahtiar yang juga sebagai Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri ini, untuk membantu Pemkab Pasangkayu. Sebab ia tahu selama ini Bahtiar mendorong ekonomi kerakyatan melalui inovasinya yang telah berhasil.

“Kami butuh tangan dingin bapak untuk membantu, karena dukungan bapak sangat penting. Kami sangat butuh investasi pak. Kami tahu bapak memiliki tangan dingin yang kreatif meningkatkan PAD. Terima kasih bapak sudah memberikan inovasi dan kreativitas untuk kami. Terutama pisang cavendish yang besok akan kita tanam,” katanya.

Menanggapi permintaan dan keluhan Wabup Pasangkayu, Bahtiar Baharuddin mengatakan, tentunya dirinya tak akan melupakan begitu saja Sulbar walaupun masa tugasnya hanya delapan bulan lebih dan akan berakhir 20 Februari 2025.

Menurutnya, Sulbar telah menjadi bagian hidupnya, sehingga dukanya pun akan menjadi tanggung jawabnya.

Akan tetapi dalam jangka pendek ini, apalagi menyiasati pemangkasan anggaran APBD dan menyiasati ketebatasan PAD, maka tak ada jalan lain bagi Bahtiar adalah menciptakan lapangan kerja sendiri sebagai pembudidaya hortikultura.

Bayangkan, jika Pasangkayu membangun green house per kecamatan yang akan menyediakan bibit hortikultura bagi warga. Mulai cabai, semangka, nenas, sayur sayuran, pisang, dan lainnya.

“Usulkan green house per kecematan. Biayanya murah paling Rp200 juta-an. Dari green house itu kita bisa produksi bibit dan dibagi gratis kepada masyarakat,” ujarnya

Bahtiar menguraikan, dengan menanan massal cabe maka akan meningkatkan pendapatan warga.

“Menanam lima ribu pohon cabai, maka dalam sebulan akan mendapatkan penghasilan sekitar Rp6 juta per bulan. Jika dua ribu pohon, maka Rp3 juta-an per bulan,” ulasnya sambil menceritakan pengalaman petani cabai Laskar Pelangi Salo Dua Enrekang Sulsel.

Makanya, lanjut Bahiar, warga di Pasangkayu memanfaatkan lahan lahan yang kosong selain tanaman sawit yang sudah lebih dahulu hadir bersama warga Pasangkayu.

Jika persoalan cabai sudah selesai, maka telah membantu secara nasional, sebab faktor cabai dapat mempengaruhi inflasi. Selain itu, membantu pemerintah mewujudkan swasembada pangan.

“Setidaknya kita dapat memenuhi pasar lokal. Sebab cabai yang ada di pasaran se-Sulbar ini, berasal dari Enrekang dan Toraja,” jelasnya.

Selain itu, dengan cara bertani hortikultura, maka bagi ASN akan mengisi waktu kerja, dimana pemerintah akan menerapkan WFA. Akan banyak waktu bagi ASN di rumah atau bekerja di mana saja asalkan lebih produktif.

Banyak yang bisa ditanam kata Bahtiar, bukan hanya cabai, tetapi ada pisang cavendish yang kini sudah mulai menjadi primadona warga Pasangkayu.

“Minggu lalu saya panen di belakang rujab. Hanya 14 pohon. Jika terjual, maka harganya mencapai Rp16 juta. Tapi kami belum jual sebab saya bagi bagikan kepada Kepala OPD dulu. Saya hanya ingin membuktikan bahwa tamah Sulbar ini, sangat subur. Dan, cavendish adalah salah satu tanaman yang dapat meningkatkan penghasilan,” urainya.

Sementara, mengenai rencana pembangunan Kawasan Industri di Kecamatan Tikke, Pasangkayu sebagaimana laporan Wabup Erny, Bahtiar sangat mendukung, sebab kehadiran kawasan industri akan merangsang investor masuk ke Pasangkayu.

“Bu Wabup, setelah pelantikan nanti silahkan datang ke ruangan saya di Kemendagri. Nanti kita diskusikan dan bahas. Mengajak kementerian lain untuk ambil bagian,” tutupnya. (***)

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


To top