
DARI aspek waktu pelaksanaannya, ibadah yang diperintahkan dalam Islam terkadang berbentuk rutinitas atau kegiatan yang memiliki waktu-waktu tertentu dalam pelaksanaannya.
Rutinitas pelaksanaannya bisa saja setiap hari (yaumiyyun), seperti pelaksanaan ibadah salat yang dilaksanakan lima kali setiap hari.
Ada ibadah yang pelaksanaannya setiap pekan (‘usbuiyyun) seperti pelaksanaan shalat Jumat. Ada juga ibadah setiap bulan (syahriyyun), seperti Puasa ayyam biidh, juga ibadah yang pelaksanaannya setiap tahun (sanawiyyun) seperti pelaksanaan puasa Ramadan.
Pola-pola waktu pelaksanaan ibadah yang berpola berkala itu tentu memiliki makna dan rahasia pensyariatannya. Salah satu makna yang mungkin dipetik adalah bahwa perintah yang dilakukan secara berkala tentu memiliki fungsi berkala pula.
Hal ini mungkin bisa dianologikan sebagai ‘stasiun’ dalam sistem transportasi, yang berperan sebagai tempat berhentinya kendaraan untuk melakukan pemeriksaan, perbaikan dan menyiapkan hal-hal yang dibutuhkan dalam perjalan berikutnya.
Peran stasiun ini sangat urgen mengingat perjalanan yang dilakukan membutuhkan jaminan bersyarat-tidaknya kereta api itu bisa berjalan dengan baik.
Penantian dan kegembiraan Rasulullah SAW akan hadirnya Bulan Ramadan menjadi indikator betapa kebutuhan manusia akan Bulan Ramadan sangat penting, sama halnya kebutuhan kereta api akan stasiun.
Jika perjalan panjang dilalui, maka penumpang merasa sangat butuh akan stasiun itu sebagai tempat untuk merefresh kondisi yang terjadi selama perjalan, begitu juga dengan keretanya juga sangat membutuhkan stasiun sebagai tempat untuk pemeriksaan, pengisian bahan bakar dan uji kelayakan untuk melanjutkan perjalanan.
Menyikapi kemuliaan Ramadan Bagi muslim yang hakiki, dapat dipahami kedatangan Ramadhan adalah sebuah anugerah terbesar dari Allah SWT.
Ramadan ibarat tempat yang sangat dinanti kehadirannya. Jika diibaratkan sebagai stasiun, maka sebelum kereta api sampai di stasiun, maka sang penjaga stasiun telah bergegas mempersiapkan rumah dan seisinya sejak jauh-jauh sebelumnya.
Dalam Al Qur’an dan hadis, terlalu banyak kemuliaan yang telah disediakan Allah SWT dalam Bulan Ramadan, seakan Allah SWT. Ingin menyambut umat Islam yang akan sampai di Bulan Ramadan dengan segala persiapan untuk merefresh, memperbaiki, dan mempersiapkan umat Islam dalam mengarungi kehidupannya selama perjalan setahun yang akan datang.
Begitu juga sebaliknya, kegembiraan umat Islam ketika akan bertemu dengan Bulan Ramadan juga menjadi indikator kerinduan dan kesenangan ketika bertemu Ramadan, seperti halnya ketika penumpang akan sampai ke Stasiun yang dituju.
Itulah mungkin senandung yang biasa terdengar menjelang masuknya Ramadan disenandungkan dengan riang-gembira; “Ramadan tiba- Ramadan tiba, marhaban ya Ramadan….”
Hal ini karena mengingat keutamaan yang ada pada bulan tersebut, dengan segala amalan ibadah yang telah dihidangkan dalam bulan mulia ini.
Wajarlah jika dua bulan sebelum Ramadan (Sejak masuk bulan Rajab) Rasulullah SAW berdoa: “Ya Allah berkahilah kami di Bulan Rajab dan Sya’ban, dan pertemukan kami dengan Ramadan.”
Dalil-dalil teologis, baik Al Qur’an dan hadis amat banyak yang mengajak kita untuk mengagungkan bulan ini, apalagi di bulan ini, Allah SWT menurunkan Al Qur’an yang menjadi kompas bagi kehidupan kita, sebagaimana Allah SWT berfirman; “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185).
Seakan Allah SWT berkata kepada umat Islam yang memasuki Bulan Ramadan: “Selamat datang para penumpang di stasiun Ramadhan, silahkan menikmati fasilitas stasiun ini, dan persiapkanlah bekal untuk melanjutkan perjalanan selama setahun lamanya.”
Umat Islam dipersilahkan mengambil sebanyak-banyaknya manfaat Ramadan, mulai dari puasa wajib selama sebulan, hingga amal-amalan kemuliaan Ramadan yang tersedia.
Kemampuan mengambil manfaat Ramadan ini, tentu sangat berpengaruh terhadap kenikmatan perjalanan selanjutnya, karena stasiun berikutnya hanya tersedia setelah perjalan setahun. (***)
Prof Dr Muh Shuhufi Abdullah MAg
Sekjen DPP IMMIM