search
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Festival Literasi, Andi Utta Bicara Tantangan Perpustakaan di Era Digital

doelbeckz - Pluz.id Kamis, 27 November 2025 15:00
Andi Muchtar Ali Yusuf. foto: istimewa
Andi Muchtar Ali Yusuf. foto: istimewa

PLUZ.ID, BULUKUMBA – Bupati Bulukumba, Andi Muchtar Ali Yusuf, membuka Festival Literasi di halaman Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Bulukumba, Rabu (26/11/2025).

Bupati berlatar pengusaha ini, berbicara tantangan perpustakaan di era digital.

“Di tengah laju perkembangan digital, anak-anak perlu diberi kemampuan memahami literasi yang baik. Literasi merupakan benteng dan kompas bagi generasi muda dalam menghadapi banjir informasi,” kata bupati yang akrab disapa Andi Utta dalam sambutannya.

Ia menilai, pegiat literasi jarang menampakkan diri, sebaliknya mereka lebih banyak berakselerasi tanpa harus muncul di permukaan.

Menurutnya, upaya pegiat literasi luar biasa, dan pegiat literasi di Kabupaten Bulukumba termasuk besar.

“Kita sudah kebablasan dalam mengonsumsi informasi di media sosial. Kita semestinya memilah. Informasi yang harus dikonsumsi adalah yang bersifat positif dan edukatif. Yang negatif harus dibuang,” jelasnta.

Andi Utta lebih jauh menceritakan pengalamannya dalam melihat kondisi di beberapa negara maju.

Ia menyebut, di negara maju, sangat sulit mendapat informasi kekerasan di media sosial.

“Kita di sini justru sebaliknya, informasi kekerasan banyak beredar di sosial media. Semestinya anak-anak kita tidak memperoleh informasi kekerasan. Ini bisa merusak mental anak-anak. Jadi kita harus proteksi bersama,” imbuhnya.

Festival Literasi ini, diselenggarakan selama tiga hari, Rabu-Jumat (26-28/11/2025).

Beberapa Perpustakaan Desa mendapat undangan untuk memamerkan perpustakaannya maupun karya-karya literasi/UMKM, diantaranya Desa Kambuno, Bulo-bulo, Bijawang, Tamatto, Balleanging, Tamalanrea, Mattirowalie, Benteng Palioi, dan Barombong.

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Bulukumba, Emil Yusri, melaporkan, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) mengukur dua indikator kinerja Perpustakaan Bulukumba, yaitu Tingkat Kegemaran Membaca, dan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat.

“Untuk tingkat kegemaran membaca dari tahun 2023 sampai tahun 2025, kita dalam posisi sedang. Banyak faktor yang memengaruhi posisi kita. Perlu kami sampaikan bahwa Bulukumba masuk 8 besar di antara 24 Kabupaten/Kota dengan nilai sangat tinggi,” ungkap Emil Yusri.

Dengan demikian, ia juga berterima kasih kepada Cabang Dinas pada Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Sulsel yang telah menjadwal anak-anak sekolah untuk berkunjung ke Perpustakaan Daerah Bulukumba.

“Insya Allah, besok dilaunching dan akan menjadi contoh Bulukumba pertama Membaca Sehari di Perpustakaan. Jadi kitalah pionernya, semoga ke depan akan terus bertambah kunjungan-kunjungan ke perpustakaan,” ujarnya.

Emil mengatakan, tahun ini, pihaknya telah menemukan dua naskah kuno yang rencananya akan didaftarkan tahun depan sesuai target RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) Kabupaten Bulukumba. Dalam target RPJMD, ada satu naskah kuno dalam setahun.

“Di Festival Literasi ini, kita juga melakukan pameran dari program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial yang telah mendapat bantuan dari Perpusnas. Ada beberapa desa yang ikut, terima kasih Pak Hasan telah memfasilitasi kami dalam beberapa tahun terakhir,” jelasnya.

Pengelola Perpustakaan Desa Mattirowalie, Miftahul Jannah, menyampaikan, sebenarnya minat baca masyarakat itu sudah ada, tapi dari segi ketertarikan untuk berkunjung ke perpustakaan masih minim karena dipengaruhi beberapa faktor.

“Mungkin juga karena saat ini Perpustakaan Desa Mattirowalie belum memiliki gedung tersendiri atau masih menumpang. Itu pun hanya berupa ruangan bukan gedung,” katanya.

Lebih lanjut, alumnus Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar ini, mengaku, akan terus berupaya agar lebih banyak lagi yang tertarik mengunjungi Perpustakaan Desa Mattirowalie, serta mendongkrak minat baca masyarakat.

Pihaknya pun menawarkan kepada anak-anak usia dini untuk nonton film di Perpustakaan.

Dengan begitu akan menarik minat kunjungan. Kemudian memfasilitasi perangkat komputer kepada bidan/perawat desa dalam mengerjakan laporan kegiatan. (***)

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


To top