search
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Kisah di Balik Musprov Pordi Sulsel, Dari Mediasi yang Gagal hingga Aksi Kabur Tanpa Alasan Andi Baso

doelbeckz - Pluz.id Selasa, 30 Desember 2025 14:00
MUSPROV PORDI. Calon Ketua Pengprov Pordi Provinsi Sulsel, Ilham Arief Sirajuddin (kanan), menghadiri Musprov Pordi Provinsi Sulsel yang berlangsung di Rumah Jabatan Wali Kota Palopp, beberapa hari lalu. foto: istimewa
MUSPROV PORDI. Calon Ketua Pengprov Pordi Provinsi Sulsel, Ilham Arief Sirajuddin (kanan), menghadiri Musprov Pordi Provinsi Sulsel yang berlangsung di Rumah Jabatan Wali Kota Palopp, beberapa hari lalu. foto: istimewa

PLUZ.ID, PALOPO – Gelaran Musyawarah Provinsi (Musprov) Perkumpulan Olahraga Domino Indonesia (Pordi) Provinsi Sulsel yang berlangsung di Rumah Jabatan Wali Kota Palopo menyisakan cerita mendalam.

Di balik persaingan yang berujung kebuntuan, terungkap adanya upaya mediasi yang dilakukan berulang kali sebelum insiden kaburnya Ketua Pengprov Pordi Sulsel, Andi Baso, dari arena musyawarah.

​Informasi yang dihimpun menyebutkan persaingan internal antara dua figur utama, yakni Andi Baso (Petahana) dan Ilham Arief Sirajuddin (IAS), sebenarnya telah coba diredam melalui jalur diplomasi maupun mediasi.

Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Pordi, Andi Jamaro Dulung, disebut telah menginisiasi langsung mediasi antara kedua belah pihak. Bahkan, berlangsung hingga 1,5 jam. Disaksikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PB Pordi Mansyur Ahmad, serta Wakil Wali Kota Palopo Akhmad ‘Ome’ Syarifuddin.

Tak hanya itu, Wakil Wali Kota Palopo sekaligus Ketua Pordi Palopo, Akhmad Syarifuddin, dikabarkan telah berupaya melakukan mediasi terpisah sebanyak dua kali demi menjaga marwah organisasi dan kelancaran musyawarah. Sekaligus bertindak selaku tuan rumah yang baik.

Namun, mediasi tersebut menemui jalan buntu, karena Andi Baso memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi untuk memenangkan pertarungan di arena musprov.

​Kondisi di lapangan justru berbalik arah dari prediksi Andi Baso.

Andi Baso awalnya datang ke musprov dengan dukungan rekomendasi 14 Pengda Pordi. Di antaranya Bone, Bulukumba, Selayar, Bantaeng, Jeneponto, Pangkep, Pinrang, Enrekang, Palopo, Luwu Timur, Luwu Utara, Wajo, Gowa, dan Sinjai.

Sementara, IAS datang dengan delapan rekomendasi pengda. Yaitu Wajo, Barru, Takalar, Luwu Utara, Makassar, Gowa, Maros, dan Tana Toraja.

Tiga pengda mengeluarkan rekomendasi baik untuk Baso dan IAS. Yakni Wajo, Luwu Utara dan Gowa. Tapi ketiganya mengeluarkan surat pencabutan rekomendasi untuk Andi Baso bersamaan saat mengeluarkan rekomendasi untuk IAS. Ini ketiganya lakukan agar tidak dianggap rekomendasi ganda dan terjadi dalam masa penjaringan.

Di hari pertama musprov, IAS berhasil membangun konsolidasi dengan menarik pemberi rekomendasi Andi Baso sebanyak lima pengda Bone, Bulukumba, Selayar, Enrekang, dan Sinjai.

Lalu menyusul bergabung empat pengda meski beda hotel adalah Pangkep, Luwu Timur, Palopo dan Bantaeng. Karena Gowa, Wajo dan Lutra sudah bergabung ke IAS, otomatis sisa dua pemberi rekomendasi ke Baso yang tidak merapat ke IAS yakni Pinrang dan Jeneponto.

Soppeng menjadi pengda yang tidak mengeluarkan rekomendasi dan tidak bersikap hingga akhir kendati bergabung di hotel karantina pendukung IAS. Salah satu hotel terbaik di Palopo, Hotel Value.

Dua pendukung tersisa itu genap menjadi enam karena Andi Baso tiba-tiba mengelurkan empat karateker pengda peserta musprov, yakni Luwu (Tawakkal), Parepare (Andi Irsam Malik), Sidrap (Mangitung), Toraja Utara (Ilham Rahmat). Keempatnya adalah pengurus pengprov yang dikenal bisa dikendalikan dengan mudah dan di-SK-kan diduga menggunakan tanggal mundur.

Melihat indikasi kekalahan yang semakin nyata akibat beralihnya dukungan Pengda ke kubu IAS, Andi Baso mengambil langkah mengejutkan dengan kabur tanpa alasan dari lokasi musprov.

Ia juga mengajak seluruh perangkat pelaksana, termasuk Steering Committee (SC) dan Organizing Committee (OC), untuk ikut meninggalkan tanggung jawab mereka di lokasi.

Ia juga mengajak pulang para pemberi rekomendasi dukungan kepadanya. Targetnya membuat jumlah peserta musyawarah tidak quorum. Itu terkuak lewat chat pesan singkat keduanya kepada sejumlah peserta musprov. Sayang, semua itu tidak banyak berpengaruh.

Imbas dari kaburnya pihak pelaksana dan Andi Baso ini, berdampak fatal bagi para peserta musprov yang datang dari berbagai daerah. Seluruh peserta menjadi tidak terurus, baik dalam hal akomodasi penginapan maupun penyediaan konsumsi selama proses persidangan berlangsung.

Kondisi ini memicu kekecewaan mendalam, karena para peserta merasa ditelantarkan begitu saja oleh pihak penyelenggara.

Pihak Andi Baso sempat berdalih langkah tersebut diambil, karena situasi keamanan yang tidak kondusif.

Namun, klaim ini terbantahkan karena Wakapolresta Palopo, AKBP Jon Paerunan, sebelumnya telah memberikan jaminan keamanan penuh dan memastikan bahwa suasana sidang akan tetap kondusif bagi seluruh peserta.

Aksi kabur tanpa alasan ini, dinilai banyak pihak sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab, mencederai nilai-nilai sportivitas, dan mempermalukan nama besar Pordi sebagai wadah olahraga yang menjunjung tinggi kebersamaan.

“Sudah cocok kami mengalihkan dukungan ke Pak IAS. Kami tidak punya menyesal sedikit pun setelah tahu cara Andi Baso memimpin organisasi seperti ini. ‘Kenapako Lari?’,” tegas salah satu pengda pendukung Andi Baso yang mengalihkan dukungan, Selasa (30/12/2025). (***)

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


To top