PLUZ.ID, MAKASSAR – Chat mesum yang diduga milik dosen QDR, pelapor Prof Dr Karta Jayadi atas tuduhan pelecehan seksual verbal, yang telah dihentikan Polda Sulsel, membuat heboh di Kota Makassar, khususnya di sejumlah Warung Kopi (Warkop).
Hal ini menjadi perbincangan pengunjung sejumlah warkop di Kota Makassar. Mereka penasaran isi chat mesum yang diduga milik dosen QDR dengan pria lain, bukan dengan Karta Jayadi.
“Saya penasaran apa isi chat Ibu Dosen QDR. Katanya, chatting porno/mesum,” ucap Sandi di salah satu warkop di bilangan Jl Faisal, Kota Makassar.
“Saya tahunya, karena ada beberapa yang menceritakan chat mesum itu, makanya saya juga penasaran apa isinya. Apalagi, kan ini menarik, karena terkait masalah sebelumnya yang melibatkan nama Prof Karta Jayadi,” tambahnya.
Hal serupa diungkapkan Ochan. Ia juga sebelumnya penasaran dengan chat mesum yang diduga milik dosen QDR.
“Saya juga penasaran, apa sih isi chat mesum itu,” ucapnya.
Ochan menilai, Jika memang chat mesum itu nyata adanya, maka hal ini sangat diluar dugaan.
“Kan, kita tahu semuanya, dosen QDR melaporkan Prof Karta Jayadi atas tuduhan pelecehan seksual verbal, melalui chat WhatsApp, tetapi termyata dia juga memiliki chat mesum yang lebih parah dengan pria lain,” kata Ochan di salah satu warkop di bilangan Jl Boulevard, Kota Makassar.
Sebelumnya diberitakan, dibalik penghentian kasus dugaan pelecehan seksual verbal yang dituduhkan kepada Prof Dr Karta Jayadi, yang telah diambil Polda Sulsel, terungkap fakta baru yang lebih mencengangkan.
Ternyata selain dengan Karta Jayadi, dosen QDR juga diduga melakukan komunikasi chatting via WhatsApp dengan lelaki lain.
Bahkan, chatting itu, dinilai lebih memenuhi unsur porongrafi dibanding chattingnya dengan Karta Jayadi.
Chatting porno diduga milik QDR dengan pria lain itu, sudah ramai dibincangkan di sejumlah Warung Kopi (Warkop) di Kota Makassar.
Chatting dengan pria lain itu, tidak sekedar narasi, tetapi dilengkapi dengan gambar anggota tubuh atau istilah media sosialnya, PAP (Post a Picture).
Kabarnya, pria yang menjadi teman chating QDR itu, juga sudah memberi kesaksian di Direktorat Kriminal Khusus (Ditkrimsus) Polda Sulsel, Agustus 2025 lalu.
Kesaksian pria lain ini, tertera dalam berita acara Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) Polda Sulsel yang menghentikan penyelidikan kasus Karta Jayadi yang diterbitkan Polda Sulsel, 23 Januari 2026 lalu.
Sejumlah kalangan menilai bukti chatting ini, menjadi penanda jika laporan QDR terhadap Karta Jayadi murni sakit hati, karena dicopot jabatannya dari kepala pusat di Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Negeri Makassar (UNM), Agustus 2025 lalu.
Beberapa waktu lalu kuasa hukum Karta Jayadi, Dr Jamil Misbach SH MH menyebut, laporan QDR di Polda Sulsel terkait chatting via WhatsApp itu, dipicu sakit hati, karena dicopot jabatannya. Padahal, pencopotan itu, merupakan rekomendasi Majelis Etik UNM, karena yang bersangkutan menguji mahasiswa dari atas mobil dengan kondisi mahasiswa berdiri di luar mobil. (***)