– Dari kejernihan Danau Matano hingga bekas lahan tambang yang kembali hijau, PT Vale menunjukkan sejumlah pendekatan pengelolaan lingkungan. Reklamasi, pengelolaan air, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat berjalan berdampingan dengan aktivitas pertambangan nikel di Sorowako.
DERU mesin kapal memecah ketenangan Danau Matano di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Puluhan jurnalis dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara menyusuri permukaan danau yang tampak jernih pada pagi itu.
Rombongan tersebut mengikuti rangkaian Upskilling & Site Visit Media 2026 yang digelar PT Vale Indonesia Tbk, bagian dari Mining Industry Indonesia (MIND ID), di Sorowako pada 26–28 Juli 2026. Perjalanan rombongan disebut berlangsung pada Selasa (28/6/2026).
Dua kapal membawa sekitar 40-an jurnalis menuju bagian tengah Danau Matano. Kapal berhenti sejenak sebelum rombongan kembali bergerak menuju pelabuhan nelayan.
Dari atas kapal, hamparan pegunungan dan permukiman warga terlihat di tepian danau. Air yang jernih menjadi perhatian rombongan.
Bagi sejumlah jurnalis, pemandangan tersebut memperlihatkan hubungan langsung antara aktivitas pertambangan dan lingkungan yang berada di sekitarnya.
“Bayangkan saja, di atas gunung yang sangat dekat dengan Danau Matano ini, ada eksplorasi dan eksploitasi alam atau aktivitas tambang, yang tentunya menghasilkan banyak limbah, tetapi danau ini tidak sampai tercemar,” ucap Amran, jurnalis Kompas TV di Kota Palopo.
Menurut Amran, kondisi tersebut menunjukkan perhatian perusahaan terhadap ekosistem dalam menjalankan kegiatan pertambangan.
“Artinya, ini jelas menandakan kepedulian besar perusahaan penambang dalam hal ini PT Vale Indonesia Tbk tetap menjaga ekosistem lingkungan tetap terjaga dan terawat dalam menjalankan aktivitas pertambangan yang terus bertumbuh dengan penuh tanggung jawab,” tambahnya.
Dari Bekas Tambang Menjadi Hamparan Hijau
Perjalanan di sekitar Danau Matano juga memperlihatkan sisi lain dari pengelolaan kawasan tambang. Jurnalis Palopo Pos, Idris Prasetiawan, memperhatikan perubahan lanskap pegunungan yang pernah menjadi area eksplorasi nikel.
Dari kejauhan, pepohonan mulai menutupi bagian pegunungan yang sebelumnya gundul. Vegetasi tumbuh di area yang disebut sebagai bekas eksplorasi PT Inco Tbk, yang kemudian menjadi PT Vale Indonesia Tbk.
“Pengunungan itu, bekas tambang yang dulu diolah PT Inco/PT Vale, kini mulai tertutupi pepohonan,” ucap Idris sambil membidik objek rehabilitasi dengan kameranya.
Ia melihat proses pemulihan tersebut sebagai sesuatu yang dapat diamati langsung.
“Kini kita melihat langsung hasil rehabilitasi gunung gundul sudah tertutupi pepohonan jadi hutan. Ada juga yang sementara ditanami pohon-pohon kecil,” tambahnya.
PT Vale menyebut reklamasi berjalan sesuai rencana reklamasi perusahaan. Selama periode pelaporan 2026, perusahaan menyelesaikan reklamasi pada lahan seluas 158,09 hektare.
Dari luasan tersebut, 156,67 hektare berada di Sorowako, sementara 1,42 hektare berada di Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Reklamasi tersebut menjadi bagian dari pendekatan yang dilakukan perusahaan untuk memulihkan area yang telah selesai digunakan dalam kegiatan penambangan.
Di sisi lain, Danau Matano menjadi salah satu bagian penting dalam ekosistem sekitar wilayah operasi. Karena itu, pengelolaan air menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian PT Vale.
Perusahaan menyebut telah membangun 122 kolam pengendapan atau pond untuk mengendalikan air limbah cair dari area tambang dan pabrik pengolahan sebelum air dialirkan kembali ke Danau Matano.

Aktivitas pengolahan limbah tambang di Lamella Gravity Settler (LGS) sebelum dilepas ke Danau Matano, Kabupaten Luwu Timur, Sulsel. foto: pluzid
Sistem tersebut juga dilengkapi dua fasilitas pengolahan limbah cair. Keduanya adalah Pakalangkai Wastewater Treatment dan Lamella Gravity Settler (LGS).
Supervisor Mine Infrastruktur PT Vale Indonesia Tbk, Aris Kallolangi, menjelaskan, bahwa kualitas air menjadi bagian penting dari keberlanjutan kegiatan pertambangan.
“Air ini harus kita jaga kualitasnya. Komitmen PT Vale menjaga air, berarti penambangan pun akan berkelanjutan,” beber Aris kepada awak media peserta Upskilling & Site Visit Media 2026 saat mengunjungi lokasi Lamella Gravity Settler.
Supervisor Hydrology and Compliance PT Vale Indonesia Tbk, Andi Burhanuddin, menjelaskan kapasitas Lamella Gravity Settler yang dioperasikan perusahaan mencapai 4.000 meter kubik air per jam.
Menurutnya, kapasitas tersebut memungkinkan fasilitas menangani air dalam volume besar sebagai bagian dari sistem pengelolaan air tambang.
Andi juga menyebut, Lamella Gravity Settler memiliki perbandingan efektivitas 1:10 jika dibandingkan dengan pond konvensional. Perbandingan itu menjadi salah satu aspek yang membedakan sistem Lamella Gravity Settler dengan sistem pengendapan biasa.
Maka dari itu, Danau Matano membutuhkan banyak pihak. Pelestarian Danau Matano tidak hanya menjadi urusan satu perusahaan. Dalam rilisnya, PT Vale menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pemerhati lingkungan, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya.
Sebagai bagian dari ekosistem di sekitar danau, PT Vale menyebut telah mendukung berbagai inisiatif pelestarian Matano. Pendekatan tersebut mencakup konservasi, pemberdayaan masyarakat, pengelolaan kualitas air dari kegiatan operasional, dan reklamasi progresif pada area yang telah selesai ditambang.
Senior Coordinator PTPM Livelihood PT Vale Indonesia Tbk, Sainab Husain Paragay, menjelaskan, bahwa pendekatan konservasi tidak hanya berorientasi pada lingkungan.
Menurutnya, perusahaan juga mendorong keterlibatan masyarakat dan manfaat sosial-ekonomi agar program dapat berjalan berkelanjutan.
Salah satu programnya adalah Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Konservasi Matano Iniaku. Program tersebut mencakup pengembangan agroforestri dan nursery komunitas, rehabilitasi daerah aliran sungai, pengembangan ekowisata, penguatan ekonomi kreatif, serta peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana.
“Upaya konservasi tidak dapat berdiri sendiri. Kita membutuhkan keterlibatan masyarakat dan dukungan berbagai pihak agar program yang dilakukan dapat memberikan dampak yang berkelanjutan. Karena itu, kolaborasi menjadi bagian penting dalam menjaga ekosistem Danau Matano,” ujar Sainab.
Upaya konservasi PT Vale juga menyentuh persoalan spesies invasif. Perusahaan menyebut memanfaatkan tanaman invasif Hydrilla sebagai bahan baku pupuk kompos.
Selain itu, ikan invasif seperti Sapu-sapu dan Louhan dimanfaatkan sebagai bahan baku tepung ikan atau pakan ternak. Program tersebut melibatkan kelompok pemuda peduli lingkungan, nelayan, dan kelompok spearfishing.
Pendekatan itu diharapkan membantu mengendalikan spesies invasif sekaligus membuka peluang pemanfaatan sumber daya tersebut menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, konservasi tidak hanya berorientasi pada pengendalian dampak. Masyarakat juga mendapat ruang untuk terlibat dalam pengelolaan sumber daya yang ada di sekitarnya.
Sistem air terintegrasi sebelum dilepas ke lingkungan. Pengelolaan air juga berlangsung di wilayah operasional PT Vale. Perusahaan menyebut memiliki sistem pengelolaan air terintegrasi untuk mengendalikan limpasan dari area operasional sebelum dialirkan ke badan air alami.
Specialist Biodiversity PT Vale Indonesia Tbk, Andri Ardiansyah, menjelaskan, bahwa air dari area operasional dikendalikan dan melalui proses pengolahan sebelum dilepas ke lingkungan.
Pemantauan dan pengelolaan kualitas air dilakukan untuk memastikan parameter air yang dilepas memenuhi baku mutu lingkungan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Pendekatan ini merupakan bagian dari upaya PT Vale untuk memastikan kegiatan operasional berjalan dengan tetap memperhatikan perlindungan terhadap kualitas lingkungan dan badan air di sekitarnya,” papar Andri.
Pengelolaan tersebut berjalan bersama reklamasi progresif. Perusahaan melakukan reklamasi secara bertahap pada area yang telah selesai digunakan untuk kegiatan penambangan.
Tahapannya mencakup backfilling, penyiapan dan pembentukan kontur lahan, topsoil spreading, pengendalian erosi, pemupukan menggunakan kompos dan NPK, penanaman tanaman penutup dan tanaman pionir, hingga perawatan sampai vegetasi berkembang secara berkelanjutan.
Dengan pola itu, pemulihan lahan berjalan seiring dengan aktivitas operasional. Perusahaan tidak hanya menunggu seluruh aktivitas pertambangan selesai untuk memulai pemulihan.
Hanya saja, butuh kolaborasi menjadi pekerjaan rumah. PT Vale juga melihat keberlanjutan Danau Matano sebagai kepentingan bersama. Pemerintah dan instansi terkait memiliki peran dalam kebijakan dan regulasi.
Sementara itu, lembaga pemerhati lingkungan, akademisi, masyarakat, komunitas, dan dunia usaha dapat berkontribusi melalui keahlian, inovasi, partisipasi, dan dukungan sumber daya. PT Vale menyatakan terbuka terhadap berbagai peluang program kolaborasi dengan para pemangku kepentingan untuk mendukung pelestarian Danau Matano.
Kepala Bidang Teknis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sulsel, Eru N Dahlan, menilai, sinergi multipihak sangat penting. Ia menyoroti tantangan kelestarian Danau Matano yang semakin besar ketika integrasi antarlembaga masih terbatas.
“Kami melihat upaya pelestarian Danau Matano membutuhkan sinergi dan kerja bersama semua pihak dan stakeholder terkait. Banyak pihak bekerja sendiri-sendiri, sehingga bisa jadi kegiatan itu malah saling tumpang tindih atau malah ada kegiatan yang seharusnya dilakukan tapi tidak dilakukan,” ujar Eru.
Pernyataan tersebut menempatkan kolaborasi sebagai salah satu persoalan penting dalam pengelolaan danau. Banyak pihak dapat menjalankan program, tetapi koordinasi menentukan apakah berbagai upaya tersebut saling menguatkan atau justru berjalan sendiri-sendiri.
Rombongan jurnalis kemudian melihat langsung aktivitas penghijauan PT Vale melalui Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) Sawerigading Wallacea. Taman tersebut menjadi fasilitas yang dikembangkan Nursery PT Vale. Fungsinya mencakup konservasi flora dan fauna, edukasi keanekaragaman hayati, rekreasi, serta olahraga jogging.
Taman Kehati Sawerigading Wallacea telah diresmikan Presiden Joko Widodo pada 30 Maret 2023. Dalam pengelolaan keanekaragaman hayati, PT Vale menyebut menerapkan berbagai inisiatif konservasi dan restorasi ekosistem di seluruh wilayah operasional.

Petugas merawat tanaman di Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) Sawerigading Wallacea di Kabupaten Luwu Timur, Sulsel. foto: pluzid
Team Leader Revegetation PT Vale Indonesia Tbk, Harun Tandioga, menyebut, perusahaan melestarikan dan menanam kembali 72.296 pohon lokal, endemik, dan yang dilindungi sepanjang 2025. Selain tumbuhan, perusahaan juga melanjutkan konservasi satwa liar. Program tersebut mencakup 18 rusa Timor (Rusa timorensis) dan satu anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis).
“Selama 2025, kami melestarikan dan menanam kembali 72.296 pohon lokal, endemik, dan yang dilindungi,” beber Harun.
Ia menambahkan, konservasi satwa liar juga terus berjalan melalui pengelolaan spesies di bawah program konservasi PT Vale.
Taman Kehati Sawerigading Wallacea seluas 71,8 hektare. Taman Kehati Sawerigading Wallacea memiliki area sekitar 71,8 hektare.
Kawasan tersebut menjadi rumah bagi berbagai jenis tumbuhan lokal. Taman juga memiliki tempat penangkaran rusa timor serta kawasan konservasi kupu-kupu lokal dan endemik.
PT Vale menetapkan taman tersebut secara internal pada Agustus 2024. Penetapan itu kemudian disahkan melalui Keputusan Bupati Luwu Timur Nomor 54/D-05/II/Tahun 2025.
Taman tersebut menggabungkan fungsi konservasi, edukasi, dan rekreasi. Perusahaan juga menyebutnya sebagai ruang untuk pembelajaran dan keterlibatan publik dalam menjaga kekayaan hayati lokal.
Rombongan jurnalis melihat langsung kawasan tersebut. Pemandangan flora dan fauna menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian. Wiwi Amaluddin, jurnalis portalmedia.id dari Kota Makassar, mengakui keindahan kawasan tersebut.
“Sungguh indah pemandangan di dalam Taman Kehati Sawerigading Wallacea ini, di sini kita bisa lihat aneka flora dan fauna. Ada bunga mawar dan anggrek dan kupu-kupu endemik, burung liar, serta serangga penyerbuk lainnya,” beber Wiwi.
Ia juga melihat puluhan jenis pohon lokal dan endemik Sulawesi, termasuk tanaman khas seperti Dengen. “Pada dasarnya, ini menjadi contoh nyata komitmen kuat PT Vale dalam merawat alam dengan penuh tanggung jawab sebagai bagian dari pertambangan berkelanjutan,” tambahnya.
Wiwi juga menyebut, Taman Kehati Sawerigading Wallacea dapat menjadi pusat edu-ekowisata, kawasan konservasi, serta tempat rekreasi terbuka untuk umum. Taman tersebut kini menjadi salah satu kawasan wisata edukasi dan konservasi yang berada di area yang disebut telah diubah dari lahan bekas tambang menjadi hutan hijau.
PT Vale menempatkan biodiversitas dalam strategi tambang. PT Vale menyadari kegiatan pertambangan dapat memengaruhi keanekaragaman hayati dan ekosistem. Pernyataan tersebut tercantum dalam Laporan Keberlanjutan PT Vale Indonesia Tbk yang mengutip Presiden Direktur/CEO PT Vale Indonesia Bernardus Irmanto.
Bernardus menyebut, dampak tersebut dapat berupa perubahan habitat, fragmentasi ekosistem, penurunan populasi spesies, polusi lingkungan, hingga potensi masuknya spesies invasif.
“Sebagian besar area tambang kami berada di dalam atau berdekatan dengan kawasan hutan yang memiliki nilai ekologis tinggi dan menyediakan berbagai jasa ekosistem penting bagi masyarakat sekitar, seperti penyediaan air bersih, penyerapan karbon, dan habitat bagi berbagai spesies,” ujarnya.
Karena itu, PT Vale menyatakan terus berupaya menyelaraskan operasi dengan prinsip konservasi keanekaragaman hayati.
“Oleh karena itu, kami terus berupaya untuk memastikan bahwa operasi kami selaras dengan prinsip-prinsip konservasi keanekaragaman hayati dan berkomitmen untuk meminimalkan dampak, termasuk pada Kawasan lindung,” lanjut Bernardus.

Bernardus Irmanto. foto: istimewa
Ia mengatakan, perusahaan juga mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam perlindungan dan pemeliharaan keanekaragaman hayati dari dampak penambangan.
“Sebagai bagian dari upaya ini, kami secara terus menerus mencari potensi penerapan prinsip ‘no net loss’ dan ‘net positive impact’ serta tidak akan mengembangkan tambang baru di kawasan lindung tanpa persetujuan dari pemerintah, sesuai dengan komitmen yang tercantum dalam Kebijakan Keberlanjutan kami,” katanya.
Empat lapis mitigasi biodiversitas. Dalam mengelola dampak terhadap keanekaragaman hayati, PT Vale menggunakan hierarki mitigasi.
Tahap pertama adalah menghindari. Perusahaan memilih lokasi dan teknologi yang meminimalkan dampak terhadap biodiversitas sejak tahap perencanaan. Tahap kedua adalah meminimalkan. Upaya ini dilakukan melalui praktik terbaik dan inovasi teknologi pada fase desain dan konstruksi.
Tahap ketiga adalah memperbaiki. PT Vale melakukan rehabilitasi dan restorasi terhadap lingkungan yang terdampak untuk mengembalikan fungsi ekosistem. Tahap terakhir adalah mengganti kerugian. Langkah tersebut menjadi opsi terakhir melalui program kompensasi ekologis yang sesuai.
Untuk menghindari dampak, PT Vale menetapkan zona penyangga atau buffer zone di area sempadan danau. Kawasan tersebut menjadi area lindung yang tidak diperbolehkan untuk kegiatan penambangan. Bernardus mengatakan, zona tersebut bertujuan menjaga fungsi ekologis dan keberlangsungan habitat di sekitar perairan.
PT Vale juga menjaga zona karst agar tetap bebas dari aktivitas penambangan. Perusahaan menyebut karakteristik ekologis dan hidrologis kawasan karst rentan serta penting bagi pelestarian biodiversitas. Untuk meminimalkan dampak, PT Vale juga berupaya mengurangi sisa bukaan lahan tambang melalui reklamasi progresif.
Reklamasi dilakukan sesuai Rencana Reklamasi dan Rencana Pascatambang (RPT) serta Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2010. Perusahaan mengintegrasikan rencana penambangan dan reklamasi melalui sistem kompartemenisasi untuk mengoptimalkan pelaksanaan backfilling.
Inventarisasi flora dan fauna dilakukan sejak awal. PT Vale juga melakukan inventarisasi flora dan fauna sebagai langkah awal konservasi. Tujuannya memperoleh informasi awal mengenai kondisi keanekaragaman hayati sebelum kegiatan penambangan dimulai.
Untuk mengatasi potensi dampak terhadap spesies, perusahaan menerapkan konservasi ex-situ. Salah satu bentuknya adalah konservasi pohon lokal hasil inventarisasi. Perusahaan mengambil anakan pada berbagai tahap pertumbuhan, mulai dari semai, pancang, hingga tiang, kemudian menanam dan merawatnya di arboretum.
PT Vale juga menerapkan teknik root-balling untuk menyediakan bibit tanaman lokal. Bibit tersebut kemudian ditanam kembali di lahan rehabilitasi. Setiap bibit diberi tanda menggunakan geo-tagging untuk mendukung pemantauan pertumbuhan dan keberlanjutan tanaman.
Selain itu, perusahaan menetapkan Taman Kehati Sawerigading Wallace sebagai pusat konservasi flora, terutama tanaman yang proses penyerbukannya dibantu satwa, sekaligus mendukung konservasi kupu-kupu lokal.
Perusahaan juga meningkatkan status penangkaran rusa timor menjadi pusat konservasi satwa khusus. Proses pengajuan status tersebut sedang berjalan di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Area reklamasi Himalaya juga ditetapkan sebagai arboretum di kawasan bekas tambang.
Pada 2024, PT Vale mencatat sejumlah kegiatan pemulihan keanekaragaman hayati. Perusahaan menanam kembali jenis tanaman lokal di area rehabilitasi tambang seluas 62 hektare. Jumlah tanaman mencapai 67.903 pohon yang terdiri dari 34 jenis.
Jenis tanaman tersebut antara lain Nyatoh, Bitti, Betau, Dengen, Agathis, Jamu-jambu, dan Mata Kucing. PT Vale juga melakukan penangkaran 22 ekor rusa lokal (Cervus timorensis).
Selain itu, perusahaan melakukan restorasi dan rehabilitasi ekosistem mangrove dengan total luas 204 hektare, menggunakan penanaman jenis Rhizophora sp. Perusahaan menyebut seluruh upaya tersebut bertujuan meminimalkan dampak negatif kegiatan pertambangan sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem di wilayah operasional.
Untuk upaya perbaikan dan pemulihan berkelanjutan pada 2025, PT Vale menyatakan akan melakukan kajian lebih lanjut untuk menyusun strategi konservasi keanekaragaman hayati. Strategi tersebut diarahkan secara bertahap untuk mencapai target no-net loss dan net positive impact.
Hanya saja, kebocoran pipa menjadi ujian pengelolaan risiko. Keberlanjutan tidak hanya diuji melalui program konservasi. Dalam rilis yang mengutip Laporan Tahunan PT Vale Indonesia Tbk 2025, perusahaan juga menyoroti kebocoran pipa minyak di Desa Lioka, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, pada 23 Agustus 2025.
Peristiwa tersebut menjadi ujian bagi pengelolaan risiko lingkungan dan sosial perusahaan. PT Vale menyatakan melakukan tanggap darurat setelah kejadian dengan mengedepankan transparansi, kepatuhan terhadap regulasi, dan keterbukaan dalam dialog dengan pemangku kepentingan.
Tim Tanggap Darurat atau Emergency Response Group (ERG) PT Vale melakukan penanganan di lapangan. Masyarakat turut membantu membersihkan area terdampak dan menyiapkan makanan bagi ratusan petugas.
Perusahaan juga mendirikan Pusat Pengaduan dan Informasi di Kantor Camat Towuti untuk menerima aspirasi dan keluhan masyarakat. Rilis menyebut seluruh pengaduan tersebut ditindaklanjuti PT Vale.
Dalam waktu yang disebut relatif singkat, perusahaan mengisolasi sumber kebocoran dan memulai perbaikan pipa. Secara bersamaan, PT Vale menangani dan memulihkan dampak, termasuk dampak sosial serta skema penyaluran biaya penanganan untuk enam desa terdampak.
Keenam desa tersebut adalah Lioka, Langkea Raya, Baruga, Wawondula, Matompi, dan Timampu. Bernardus Irmanto menyebut peristiwa tersebut memberikan pelajaran bagi perusahaan.
“Peristiwa ini menjadi pembelajaran penting yang memperkuat sistem manajemen risiko perseroan, khususnya dalam aspek pencegahan, respons darurat, dan keterlibatan pemangku kepentingan,” ucap Bernardus.
Di tengah agenda lingkungan dan penguatan tata kelola, PT Vale juga melaporkan pertumbuhan produksi pada 2026. Pada triwulan kedua 2026, perusahaan memproduksi 16.153 metrik ton nikel dalam matte. Angka tersebut naik sekitar 19 persen dibandingkan produksi 13.620 ton pada triwulan pertama 2026.
Dengan capaian tersebut, produksi nikel matte pada semester pertama 2026 mencapai 29.773 ton. Peningkatan produksi tersebut terjadi setelah proyek Pembangunan Kembali Tanur Listrik 3 selesai pada Juni 2026.
PT Vale menyebut peningkatan produksi tetap berjalan dengan fokus pada keselamatan kerja dan keandalan operasional. Perusahaan juga menyatakan berada pada jalur untuk mencapai target produksi tahunan. Selain produksi nikel matte, PT Vale menjalankan tiga hub pertambangan di Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa.
Ekspansi tersebut meningkatkan volume produksi dan penjualan bijih nikel. Pada triwulan kedua 2026, Blok Bahodopi menjual 1,07 juta wet metric ton (wmt) bijih nikel saprolit. Angka tersebut meningkat dari 886 ribu wmt pada triwulan sebelumnya.
Total penjualan Bahodopi pada semester pertama 2026 mencapai 1,96 juta wmt. Blok Pomalaa juga mencatat peningkatan. Penjualan bijih nikel mencapai 496 ribu wmt pada triwulan kedua, dibandingkan 89 ribu wmt pada triwulan pertama.
Dengan demikian, volume penjualan Pomalaa pada semester pertama mencapai 585 ribu wmt. PT Vale menyebut kinerja kedua proyek tersebut menunjukkan peningkatan kapasitas operasi sekaligus memperkuat strategi diversifikasi sumber pendapatan.
Pada triwulan kedua 2026, PT Vale membukukan pendapatan AS$290 juta. Angka tersebut naik 15 persen dibandingkan triwulan pertama. Produksi nikel matte meningkat 19 persen secara kuartalan menjadi 16.153 ton. Sementara itu, volume penjualan berada pada 13.932 ton.
Harga realisasi rata-rata nikel matte mencapai AS$14.765 per ton, naik 4 persen secara kuartalan. Dari sisi biaya, biaya tunai pokok penjualan nikel matte berada pada AS$10.005 per ton. Angka tersebut membaik dibandingkan AS$10.382 per ton pada triwulan pertama.
Pada bisnis bijih nikel, biaya tunai per unit berada pada AS$21 per ton di Bahodopi dan AS$7 per ton di Pomalaa, termasuk biaya royalti dan logistik. Pomalaa memperoleh manfaat dari optimalisasi biaya tunai seiring peningkatan volume penjualan dan kapasitas operasi.
PT Vale mencatat EBITDA AS$116 juta pada triwulan kedua 2026. Angka tersebut meningkat 45 persen secara kuartalan. Laba bersih mencapai AS$61 juta, naik dari AS$44 juta pada triwulan sebelumnya atau tumbuh 39 persen.
Selama triwulan tersebut, perusahaan merealisasikan belanja modal sekitar AS$116 juta untuk mendukung keberlanjutan operasi dan pengembangan proyek strategis. Namun, saldo kas dan setara kas pada 30 Juni 2026 tercatat AS$111 juta, turun dari AS$220 juta pada 31 Maret 2026.
Rilis menyebut perubahan tersebut terutama mencerminkan aktivitas investasi yang terus berlangsung selama periode tersebut. PT Vale menyatakan tetap berkomitmen pada alokasi modal yang bijaksana dan manajemen likuiditas yang disiplin untuk menjaga ketahanan keuangan sekaligus mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Hilirisasi Masuk Fase Baru
Pertumbuhan PT Vale juga bergerak melalui agenda hilirisasi nikel. Industri hilirisasi nikel Indonesia disebut terus menunjukkan kemajuan melalui tibanya autoclave untuk Proyek HPAL Sambalagi. Autoclave tersebut menjadi komponen utama dari Indonesia Growth Project (IGP) Morowali milik PT Vale.
PT Vale menjalankan proyek tersebut bersama GEM Co Ltd dan EcoPro. Tonggak tersebut ditandai melalui BNSI Autoclave Delivery Ceremony pada 22 Juli 2026. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan P Roeslani, menghadiri acara tersebut.
Bernardus mengatakan, kedatangan autoclave menjadi bagian penting dalam pengembangan rantai nilai bahan baku baterai.
“Kedatangan autoclave tersebut merupakan langkah maju yang signifikan dalam pengembangan rantai nilai bahan baku baterai terintegrasi di Indonesia serta memperkuat komitmen PT Vale untuk mendukung agenda hilirisasi nasional,” ujar Bernardus.
Ke depan, perusahaan menyatakan akan mempercepat pengembangan proyek-proyek HPAL untuk mengolah bijih limonit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).
MHP merupakan produk antara yang penting dalam rantai pasok global baterai kendaraan listrik.
Pertambangan, lingkungan, dan tanggung jawab. Perjalanan sekitar 40-an jurnalis di Danau Matano memperlihatkan satu sisi dari aktivitas PT Vale yang tidak selalu terlihat dari angka produksi.
Ada air danau yang dijaga melalui sistem pengelolaan air. Ada pegunungan bekas tambang yang perlahan kembali hijau. Ada pula Taman Kehati Sawerigading Wallacea yang menggabungkan konservasi, edukasi, dan rekreasi. Di sisi lain, terdapat pula sistem reklamasi, pengelolaan biodiversitas, konservasi spesies, pemberdayaan masyarakat, hingga mekanisme penanganan risiko ketika terjadi insiden.
Semua pendekatan tersebut berjalan berdampingan dengan aktivitas produksi nikel. PT Vale menyebut pengelolaan Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (LST) sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari keberlanjutan bisnis.
Bernardus dalam Laporan Tahunan PT Vale Indonesia Tbk 2025, mengatakan, berbagai inisiatif yang dijalankan perusahaan membentuk fondasi kepedulian antara perusahaan dan masyarakat sekitar wilayah operasi.
Fondasi itu juga diarahkan untuk memperkuat kepercayaan pemangku kepentingan terhadap praktik pertambangan yang bertanggung jawab. Pada saat yang sama, angka produksi dan kinerja keuangan menunjukkan perusahaan terus mengembangkan bisnisnya. Produksi nikel matte naik 19 persen secara kuartalan. Pendapatan mencapai AS$290 juta. EBITDA naik 45 persen dan laba bersih tumbuh 39 persen.
Pertumbuhan tersebut berjalan bersama investasi pada proyek strategis dan pengembangan tiga hub pertambangan di Sorowako, Bahodopi, serta Pomalaa. Pertanyaan besarnya kemudian bukan sekadar seberapa besar produksi bertambah. Pertanyaannya juga bagaimana pertumbuhan tersebut berjalan bersama tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.
Di Danau Matano, pertanyaan itu terlihat melalui pengelolaan air. Di area bekas tambang, jawabannya terlihat melalui reklamasi dan revegetasi. Di Taman Kehati Sawerigading Wallacea, pendekatan tersebut terlihat melalui konservasi flora dan fauna.

Petugas memantau aktivitas pendukung pertambangan PT Vale Indonesia di Kabupaten Luwu Timur, Sulsel. foto: pluzid
Sementara itu, keterlibatan masyarakat dalam program Matano Iniaku menunjukkan bahwa konservasi juga membutuhkan partisipasi warga.
Eru N Dahlan dari Balai Besar KSDA Sulsel mengingatkan, kerja bersama menjadi kebutuhan penting dalam menjaga Danau Matano. Baginya, banyak pihak yang bekerja sendiri-sendiri dapat membuat program tumpang tindih atau meninggalkan kebutuhan yang belum tertangani.
Karena itu, pertumbuhan pertambangan dan perlindungan lingkungan pada akhirnya tidak hanya bergantung pada satu program. Ia membutuhkan sistem, pengawasan, reklamasi, konservasi, keterlibatan masyarakat, dan kolaborasi multipihak.
PT Vale sendiri menyatakan komitmennya untuk terus memperkuat tata kelola dan keberlanjutan. Perusahaan juga menempatkan prinsip no net loss dan net positive impact sebagai target yang ingin dicapai secara bertahap.
Di Sorowako, aktivitas pertambangan terus bergerak. Namun, bersamaan dengan itu, perusahaan juga menghadapi tuntutan untuk memastikan air tetap terjaga, lahan dipulihkan, biodiversitas dilindungi, dan masyarakat ikut terlibat.
Bagi PT Vale, keberlanjutan pertambangan pada akhirnya bukan hanya soal menambah produksi nikel. Ia juga berkaitan dengan bagaimana alam dan masyarakat tetap menjadi bagian dari perjalanan pertumbuhan tersebut. (***)
Penulis: Abdullah Rattingan
Redaksi pluz.id