search
  • facebook
  • twitter
  • instagram

New Normal, BUMN, dan Pemulihan Ekonomi Nasional

doelbeckz - Pluz.id Selasa, 07 Juli 2020 10:32
Taruna Ikrar. foto: istimewa.
Taruna Ikrar. foto: istimewa.

COVID-19 telah menjadi ancaman nyata dalam kehidupan penduduk dunia. Bukan hanya berupa ancaman Kesehatan, ancaman jiwa, bahkan menjadi ancaman resesi ekonomi global yang sangat mengkhawatirkan.

Resesi ekonomi global telah menjadi kenyataan pahit yang begitu menghantui kondisi kekinian kita. Berdasarkan laporan (IMF) International Monetary Fund, pada hari Rabu (25 Juni 2020) melukis potret suram ekonomi global, bahkan pandemi coronavirus telah menyebabkan kerusakan yang lebih luas dari yang diperkirakan sebelumnya.

IMF menjelaskan bahwa ekonomi global akan menyusut tahun ini sebesar 4,9 persen. Dalam resesi ini, tak satupun negara yang lepas dari persoalan ini, termasuk negara adidayapun seperti Amerika Serikat.

Ekonomi Amerika Serikat yang merupakan ekonomi terbesar diduniapun, dipastikan akan terkena dampak dari resesi global ini, dan diperkirakan akan mengalami penyusutan sebesar 8 persen.

Negara-negara yang menggunakan mata uang tunggal Eropa-pun menuju penurunan lebih dari 10 persen, sementara Jepang akan mengalami kemerosotan sebesar 5,8 persen.

Demikian pula Indonesia, dipastikan akan mengalami pukulan yang luarbiasa. Berdasarkan data, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia melaporkan bahwa telah jutaan tenaga kerja Indonesia yang dirumahkan dan di-PHK (Lebih kurang 6 jutaan pekerja).

Selanjutnya, Kementerian Keuangan Republik Indonesia, telah memastikan terdapat kemerosotan pertumbuhan ekonomi nasional menjadi minus 1,6 persen.

Sejak bulan Juni 2020, beberapa negara di dunia termasuk Indonesia, telah melakukan pelonggaran terhadap karantina wilayah.

Dalam istilah yang dipopulerkan oleh WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) disebut NNL (New Normal Life), dalam artian bahwa masyarakat di beberapa wilayah setelah mengalami penurunan jumlah kasus, untuk melakukan pelonggaran dan masyarakat sudah dizinkan beraktivitas di luar rumah, tetapi tetap mengikuti protokol kesehatan secara ketat.

Protokol tersebut berupa: masyarakat tetap diharuskan untuk menjaga jarak (Social Distancing), memakai masker bila keluar rumah, mencegah kerumunan orang banyak, dan tetap menjaga kebersihan tubuh dengan senantiasa mencuci tangan.

Namun, melihat data epidemologi, masih sangat jelas bahwa Covid-19 akan senantiasa berada disekeliling kita dan akan tetap menjadi ancaman Kesehatan dunia.

Berarti Coronavirus Covid-19 akan senantiasa menjadi ancaman dunia, selama belum ditemukan vaksin untuk mencegah infeksi virus yang berbahaya dan mematikan ini.

Potensi BUMN Kesehatan

Mencermati perkembangan dan kondisi ekonomi global dan nasional Indonesia, seharusnya pemerintah Indonesia melakukan strategi khusus untuk mengantisipasi kondisi suram ini. Sehingga kondisi ekonomi Indonesia tidak terjatuh kedalam jurang terdalam.

Salah satu potensi terbesar dalam kondisi pandemi Covid-19 yang menjadi pencetus resesi ekonomi global adalah mewabahnya Corona Virus, yang belum ketahuan kapan akhirnya.

Tentu untuk mengantisipasi hal tersebut diperlukan perhatian yang khusus terhadap kebutuhan (demand) konsumen, baik dalam jangkauan domestik maupun nasional, karena dapat dipastikan masyarkat akan semakin selektif dan berhati-hati dalam mengalokasikan anggarannya.

Namun, dalam sudut pandang tertentu, justru masyarakat dunia termasuk Indonesia akan menjadikan kebutuhan kesehatan, obat-obatan, alat kesehatan dan pelayanan Kesehatan menjadi prioritas utama.

Dari sudut pandang ini, sehingga menjadikan usaha di bidang kesehatan merupakan kebutuhan primer, kebutuhan pokok yang sangat urgen yang tidak bisa ditunda.

Demikian pula, kalau melihat potentsi BUMN nasional yang bergerak di bidang produksi, pelayanan kesehatan, seperti perusahaan farmasi, rumah sakit, dan perusahaan kebutuhan sehari-hari, memiliki aset, dan potensi penghasilan untuk negara sangatlah besar.

Hal ini dapat terlihat pada aset BUMN farmasi, yang berpotensi memberikan pemasukan negara signifikan besar. Perusahaan nasional di bidang farmasi terebut, seperti: PT Bio Farma saat ini telah menjadi induk dari holding BUMN farmasi.

Dengan anak perusahaannya adalah PT Kimia Farma (KF), PT Indofarma (Inaf). Serta cucu perusahaannya, antara lain: PT Phapros, PT KF Trading & Dist, KF Apotik (ketiganya dibawah KF), dan PT IGM (dibawah Inaf). Memiliki aset yang sangat besar.

PT Bio Farma: memiliki pabrik di Bandung dan lahan pemeliharaan hewan di Lembang. Fokus pada produk Vaksin, Sera, Blood Product, Biosimilar, Diagnostik Kit, Stem Cells dll. Pendapatan pertahun sekitar Rp3,6 triliun. Memiliki agen pemasaran di berbagai negara.

Perusahaan ini sudah melakukan ekspor ke lebih 130 negara. Memilki kerjasama dengan berbagai lembaga di luar negeri, antara lain WHO, Unicef, PAHO, dan lain-lain. Juga merupakan leader di bidang Vaksin dan Sera diantara negara-negara berkembang yang pada umumnya dan negara-negara Islam pada khususnya. BUMN ini memiliki karyawan sekitar 1.200.

Demikian pula PT Kimia Farma yang berfokus pada obat paten dan generik, herbal serta alkes. Juga bisnis apotik dan labkes. Memiliki pabrik di Jakarta, Medan, Semarang, Sarolangun, Watudakon, dan Tanjung Morowa.

Kimia Farma memiliki anak usaha PT KF Apotik dengan 1.300 Apotik, PT KF T-D sekitar 50 cabang PBF dan labkes sekitar 45 di seluruh Indonesia, dengan jumlah karyawan sekitar 5.600 dan pendapatan sekitar Rp9 triliun.

Sedangkan PT Phapros yang berfokus pada obat OTC, ethical, medical devices, dan toll manufacturing. Produksi sekitar 342 item obat. Omzet sekitar Rp1,5 triliun. Karyawan sekitar 1.000. Dan, terakhir PT Kimia Farma juga sudah mengekspor produknya ke belasan negara

Ditambah PT Indofarma yang berfokus pada obat generik dan memiliki fasilitas khusus mesin extract. Serta mempekerjakan karyawan sekitar 1.400. Omzet Rp2 triliun. Anak usahanya PT IGM memiliki sekitar 35 cabang PBF diseluruh Indonesia.

Sehingga kalau dijumlahkan, holding BUMN farmasi nasional, memiliki total karyawan 9.200, dengan omzet puluhan triliun. Yang jika dimaksimalkan bisa meningkat secara cepat sehingga bisa menopang kekuatan ekonomi nasional. Sehingga dengan mengamati kasus Coronavirus Covid-19 yang telah menjadi ancaman dunia yang menginfeksi jutaan penduduk dunia. Oleh karena itu, semua penyakit akibat infeksi virus, drag of choices, atau pengobatan utamanya adalah vaksin.

Berdasarkan kondisi nyata diatas, dan memperhatikan keseimbangan kebutuhan (demand) dan pengeluaran (output) masyarakat, serta besarnya potensi BUMN nasional, seperti contohnya Bio Farma dan berbagai anak perusahaannya, bisa berperan sangat strategis untuk kepentingan penopang ekonomi nasional dalam kondisi resesi ekonomi dewasa ini.

Dalam makna, menjadi pemasukan ratusan trilliun rupiah untuk kepentingan nasional, bahkan jika biofarma dikelola dengan baik beserta BUMN kesehatan lainnya (rumah sakit, serta obat-obatan, dan alat Kesehatan) dipastikan mampu menjadi buffer atau andalan pemerintah untuk menopang ekonomi nasional. (***)

Taruna Ikrar
Profesor, Ahli Farmakologi dan Anggota American College of Clinical Pharmacology, Amerika Serikat.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


To top