Silih bergantian mahasiswa dari seni UNM dan Unsimuh mencermati setiap lukisan yang terpajang di dinding galeri lukisan tersebut.
Menurut Penanggung Jawab Galeri, yang selalu melakukan pameran lukisan sudah generasi yang sudah berjenjang. Demikian Muh Azis (62), awalnya hanya beberapa orang saja.
“Saya hanya beberapa orang saja seperti Zainal Beta (seniman lukis tanah liat) dan beberapa teman ingin memfungsikan tempat ini. Sebagai wujud perhatian kepada seni dan budaya. Apalagi, tempat ini sebelumnya hanya menjadi tempat nongrong orang lewat dan terkesan jorok,’’ kata Azis yang merupakan seorang putra mantan Wali Kota Makassar ini.
Generasi selanjutnya, seperti Zam Kamil dan sekarang masuk pada generasi ketiga.
’’Sekarang sudah genrasi ketiga di bawah Zam Kamil. Kita selalu bersyukur tempat ini bisa menjadikan sarana edukasi karya anak bangsa dari sisi seni dan budaya. Jika sabtu dan minggu, selalu ribuan orang yang datang menikmati karya-karya pelukis hebat di tanah Bugis Makassar ini,’’ ungkap Azis yang pernah mengecap pendidikan di Amerika ini.
Sore pelan turun jelang Magrib, suasana galeri makin ramai. Cerita yang singkat, tapi sungguh sarat makna dalam sebuah filosifi perabadan.
’’Kita bangsa yang sebenarnya sudah sangat maju dalam sisi peradaban. Makin tinggi bahasa suatu kelompok maupun negara makin besar kita semua. Bugis Makasar membuktikan sejak dulu,’’ ungkap Ibul, seorang Fotografer yang hadir dalam diskusi lepas hingga matahari tenggelam pertanda malam telah hadir menghiasi sudut kota Losari Makassar.
‘’Pengakuan karya besar itu ada di luar, bukan hadir di dalam.’’ Tutup penulis kepada Zam Kamil pelukis yang sudah memamerkan karya ke beberapa negara di luar dengan harga fantastis dan Hasbullah, dosen foto di beberapa kampus ini. (***)
Andi Fadli
Pemerhati Seni Budaya