search
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Petrus Yalim dan Thiawudy Wikarso Blak-blakan Setor Uang ke Nurdin Abdullah

doelbeckz - Pluz.id Jumat, 30 Juli 2021 09:00
SIDANG NA. Sidang dugaan Tipikor dalam bentuk suap dan gratifikasi yang menyeret Gubernur Sulsel nonaktif, Nurdin Abdullah (NA), sebagai terdakwa kembali digelar di Ruang Sidang Utama Pengadilan Tipikor Negeri Makassar, Kamis (29/7/2021). foto: istimewa
SIDANG NA. Sidang dugaan Tipikor dalam bentuk suap dan gratifikasi yang menyeret Gubernur Sulsel nonaktif, Nurdin Abdullah (NA), sebagai terdakwa kembali digelar di Ruang Sidang Utama Pengadilan Tipikor Negeri Makassar, Kamis (29/7/2021). foto: istimewa

PLUZ.ID, MAKASSAR – Sidang dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dalam bentuk suap dan gratifikasi yang menyeret Gubernur Sulsel nonaktif, Nurdin Abdullah (NA), sebagai terdakwa kembali digelar di Ruang Sidang Utama Pengadilan Tipikor Negeri Makassar, Kamis (29/7/2021).

Agenda sidang kali ini mendengarkan keterangan saksi dari Jaksa Penuntut Umum dari Komisi Pemberantasan Korupsi (JPU KPK). Mereka adalah Direktur PT Putra Jaya sekaligus bos PT Timur Jaya Konstruksi, Petrus Yalim. Lalu kontraktor, Thiawudy Wikarso, dan Sekretaris Direktur Utama Bank Sulselbar Riski Anggriani.

Di muka persidangan, Petrus Yalim dan Thiawudy Wikarso alias Thiaw blak-blakan pernah menyetor uang untuk pembangunan masjid di atas lahan milik Nurdin Abdullah di Dusun Arra, Desa Tompo Bulu, Kecamatan Tompo Bulu, Kabupaten Maros, Provinsi Sulsel.

Uang tersebut disetor setelah mendapat permintaan dari ajudan Nurdin Abdullah, Syamsul Bahri yang berstatus anggota Polri. Masing-masing mereka menyetor uang sebesar Rp100 juta.

Dalam sidang, Petrus Yalim mengaku, uang Rp100 juta yang disetor untuk pembangunan masjid di Pucak Maros dikirim melalui rekening Yayasan Masjid.

Petrus menuturkan, bantuan tersebut merupakan bagian tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).

Di mana, area dibangunnya Masjid Pucak, Maros, kata Petrus, perusahaannya mengerjakan proyek milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel, yakni pembukaan lahan dan pengaspalan.

Petrus mengakui, uang sumbangan pembangunan masjid di Pucak Maros diberikan setelah mendapat permintaan dari ajudan Nurdin Abdullah, Syamsul Bahri.

Petrus menambahkan, permintaan itu disampaikan Syamsul Bahri ketika dirinya diundang pihak Nurdin Abdullah mengikuti peletakan batu pertama pembangunan Masjid Pucak Maros.

“Pada waktu itu kami diundang peletakan batu pertama. Dari ajudan Syamsul Bahri, bilang mau minta bantuan masjid, saya langsung minta rekening dan saya langsung transfer. Atas permintaan Syamsul Bahri, saya berikan Rp100 juta, saya transfer ke rekening Yayasan Masjid. Setelah saya kirim, saya kirimkan bukti transfer ke Syamsul Bahri, ” kata Petrus menjawab pertanyaan JPU KPK.

Terkait jumlah sumbangan Rp100 juta, kata Petrus, merupakan inisiatifnya sendiri. Diakuinya, dia menyumbang untuk pembangunan masjid Pucak Maros, karena melihat ada sosok Nurdin Abdullah di balik itu.

“Iya, saya menyumbang, karena ada sosok NA, ” jawab Petrus Yalim ketika ditanya Ketua Majelis Hakim, Ibrahim Palino, terkait niat menyumbang untuk pembangunan masjid.

Petrus mengemukakan, dirinya mengenal Nurdin Abdullah sejak menjabat Bupati Bantaeng. Dia diperkenalkan Almarhum Malkan Amin.

Petrus membeberkan atas perkenalan itu, dirinya kerap mendapatkan pekerjaan paket proyek dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantaeng selama Nurdin Abdullah menjabat bupati. Kemudian itu berlanjut ketika Nurdin Abdullah duduk sebagai Gubernur Sulsel periode 2018-2023.

“Saya kenal Pak Nurdin Abdullah lewat Pak Malkan Amin. Kebetulan kami dari dulu kegiatan di Bantaeng. Hampir setiap tahun kami dapat pekerjaan (proyek Bantaeng), ” kata Petrus di muka persidangan.

Sedangkan untuk paket proyek milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel di saat Nurdin Abdullah menjabat sebagai Gubernur.

Petrus membeberkan, perusahaannya PT Putra Jaya juga mendapatkan paket proyek di tahun 2020 dan 2021.

“Putra Jaya pernah mengerjakan proyek di tahun 2020 dan 2021. 2020 2 item, 2021 3 item,” ungkapnya lagi.

Sedangkan, Thiawudy Wikarso alias Thiaw selaku pemegang saham di PT Kristal Mandiri dan PT Tiga Bintang turut mengungkapkan proses penyaluran sumbangan terhadap Masjid Pucak Maros.

Thiaw beralasan, dirinya menyerahkan uang sumbangan Rp100 juta untuk pembangunan Masjid Pucak Maros dengan spontanitas. Karena mengetahui rekannya sesama kontraktor, Petrus Yalim ikut menyumbang untuk pembangunan masjid ketika peletakan batu pertama.

“Kami duduk meja makan, makan siang. Saya disampaikan Pak Petrus mau sumbang masjid 100 juta, saya spontanitas langsung ikut juga.
Saya memberikan secara transfer lewat Bank Sulselbar,” kata Thiaw di muka persidangan.

Saksi lain, Sekretaris Direktur Utama Bank Sulselbar, Riski Angriani, juga mengungkapkan, jika ia pernah menyetor uang senilai Rp100 juta atas perintah seseorang yang datang bertamu di ruangan direktur waktu itu. Namun ia tidak tahu namanya, hanya mengingat ciri-cirinya berbadan tinggi dan berkulit sawo matang.

“Ada tamu minta tolong disetor uang nilainya Rp100 juta dalam bentuk cash. Rekening tujuannya ke Yayasan Pengurus Masjid. Setelah itu dia masuk ke ruangan direktur utama,” ungkap wanita kelahiran tahun 1998 silam ini.

Kuasa Hukum Nurdin Abdullah, Arman Hanis, mengatakan, tiga saksi yang dihadirkan sudah tegas memberikan informasi. Dimana disampaikan, tidak ada sama sekali permintaan dari Gubernur Sulsel non aktif, Nurdin Abdullah secara langsung untuk sumbangan pembangunan masjid.

“Dua kontraktor menyampaikan itu inisiatif mereka, jumlahnya juga ditentukan sendiri, tidak ada juga arahan langsung dari gubernur,” katanya.

Arman Hanis mengatakan, fakta tersebut adalah poin penting yang harus diketahui. Apalagi penyetorannya juga langsung ke rekening yayasan, bukan ke rekening gubernur.

“Pak Nurdin waktu pidato peletakan batu pertama menyampaikan bahwa pembangunan masjid itu untuk masyarakat. Kontraktor lah yang inisiatif menyumbang untuk masjid yang akan digunakan masyarakat,” katanya.

Sementara, JPU KPK, Andry Lesmana, mengungkapkan, beberapa kejanggalan terkait keterangan Petrus Yalim di muka persidangan yang mengatakan, sumbangan pembangunan Masjid Pucak Maros merupakan CSR.

“Dilihat dari nilai maupun argumen atau fakta hukum terkait CSR. CSR-kan prosedur seperti apa. Harus ada proposal. Namun, tidak ada proposal dari pihak Yayasan Masjid kepada para saksi. Dari situ kan kita tahu nilai proposal RAB (Rencana Anggaran Biaya) berapa, dan sewajarnya nyumbangnya berapa, istilahnya kalau misalkan memang benar- benar CSR sumbangan masjid,” kata Andry ditemui seusai sidang.

Kejanggalan lainnya, kata Andry, pemberian CSR untuk pembangunan Masjid Pucak Maros di sekitarnya tidak ada permukiman penduduk. Yang ada, kata dia, hanya perkebunan milik Nurdin Abdullah.

“Dan memang dari keterangan saksi,
tidak ada penduduk masyarakat di sekitar masjid, yang ada kebun durian milik terdakwa, Nurdin Abdullah. Jadi kita lihat tujuan utama pemberiannya untuk apa,” imbuh Andry.

Diketahui, lokasi berdirinya Masjid Pucak Maros berada di atas lahan milik Nurdin Abdullah. Lahan tersebut telah disita Komisi Pemberantasan Korupsi. (***)

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


To top