search
  • facebook
  • twitter
  • instagram

PPKM Level 4 dan Perhatian Khusus bagi Pelaku Usaha

doelbeckz - Pluz.id Sabtu, 31 Juli 2021 11:00
Dr Isradi Zainal. foto: istimewa
Dr Isradi Zainal. foto: istimewa

PPKM Level 4 merupakan istilah yang digunakan sebagai pengganti istilah PPKM Darurat yang untuk pertama kalinya dimuat di Instruksi Mendagri nomor 22 tahun 2021 tanggal 20 Juli 2021.

PPKM Level 4 pada awalnya dilaksanakan di Jawa dan Bali lalu lanjut ke sejumlah provinsi di luar Jawa sesuai dengan Instruksi Menteri Dalam Negeri No 23 tahun 2021 tanggal 20 Juli 2021. PPKM Mikro berbasis level 4 dimulai pada tanggal 21-25 Juli 2021. Menurut Luhut, istilah ini berdasarkan Instruksi Presiden Joko Widodo.

Dengan memperhatikan sejumlah aspek, Presiden Jokowi menginstruksikan untuk memperpanjang PPKM Level 4 mulai dari tanggal 26 Juli 2021 sampai 2 Agustus dengan tetap memperhatikan keberlangsungan usaha bagi pedagang kecil dan kaki lima. Kebijakan Jokowi terkait PPKM Level 4 kemudian ditindaklanjuti Menteri Dalam Negeri dengan Inmendagri No 24 dan 25 tahun 2021. Selain itu, diterbitkan juga PPKM Level 3 sesuai Inmendagri No 26 tahun 2021 tanggal 25 Juli 2021.

Instruksi Menteri Dalam Negeri No 24 tahun 2021 tentang pemberlakuan PPKM Level 4 dan 3 Covid-19 di Jawa dan Bali. Inmendagri No 25 tahun 2021 tentang Pemberlakuan PPKM Level 4 Covid-19 di wilayah Sumetra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

Berdasarkan Instruksi Mendagri No 24 dan 25 tahun 2021 yang ditetapkan tanggal 25 Juli 2021, terdapat perhatian khusus dan kelonggaran bagi pelaku usaha/pedagang.

Berdasarkan Inmendagri No 24 tahun 2021 tentang PPKM Level 4 dan 3 untuk wilayah Jawa dan Bali, untuk supermarket, pasar rakyat, toko kelontong, dan pasar swalayan yang menjual kebutuhan sehari hari dibatasi jam operasional sampai pukul 20.00 waktu setempat dengan kapasitasi pengunjung 50 persen. Untuk pasar rakyat yang menjual barang non kebutuhan sehari hari dapat beroperasi dengan kapasitas maksimal 50 persen dan jam operasi sampai pukul 15.00 waktu setempat. Pedagang kaki lima, toko kelontong, agen/outlet voucher, barbershop/pangkas rambut, laundry, pedagang asongan, bengkel kecil, cucian kendaraan, dan lain-lain yang sejenis diizinkan buka dengan protokol kesehatan ketat sampai dengan pukul 20.00 waktu setempat dan teknisnya diatur pemerintah daerah.

Selanjutnya, PPKM Level 4 untuk Jawa dan Bali yang diberlakukan bagi warung makan/warteg, pedagang kaki lima, lapak jajanan dan sejenisnya diizinkan usaha buka dengan protokol kesehatan yang ketat sampai dengan pukul 20.00 waktu setempat dengan maksimal pengunjung tiga orang dan waktu makam maksimal 20 menit. Restoran/rumah makan, kafe dengan lokasi yang berada dalam gedung/toko tertutup baik yang berada pada lokasi tersendiri maupun lokasi yang tersendiri maupun yang berlokasi pada pusat pembelanjaan/mal hanya menerima delivery/take away dan tidak menerima makan di tempat (dine-in).

Kegiatan pada pusat perbelanjaan, mal/ pusat perdagangan ditutup sementara kecuali akses untuk pegawai toko yang melayani penjualan online dengan maksimal tiga orang setiap toko, supermarket dan pasar swalayan.

PPKM Level 4 untuk luar Jawa dan Bali (Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua) berdasarkan Inmendagri No 25 tahun 2021 dalam kaitannya dengan pelonggaran berusaha bagi pelaku usaha/pedagang diinstruksikan untuk pasar tradisional, pedagang kaki lima, toko kelontong, agen/outlet voucher, barbershop/pangkas rambut, laundry, pedagang asongan, pasar loak, pasar burung/unggas, pasar basah, pasar batik, bengkel kecil, cucian kendaraan, dan lain-lain yang sejenis diizinkan buka dengan protokol kesehatan ketat, hand sanitizer, dan lain-lain. Untuk supermarket dan pasar swalayan yang menjual kebutuhan sehari hari dibatasi jam operasional sampai pukul 20.00 dengan kapasitas pengunjung 50 persen. Untuk apotik dan toko obat buka 24 Jam.

Menurut Inmendagri No 25 tahun 2021 terkait PPKM Level 4, untuk warung makan/warteg, pedagang kaki lima, lapak jajanan dan sejenisnya diizinkan buka dengan protokol kesehatan ketat, makai masker, mencuci tangan, hand sanitizer, yang pengaturan teknisnya diatur pemerintah daerah, rumah makan dan kafe skala kecil yang berada pada lokasi sendiri dapat melayani makan di tempat/dine in dengan kapasitas 25 persen dan menerima makan di bawah pulang/delivery/take away dengan protokol kesehatan ketat. Restoran/rumah makan, kafe dengan skala sedang dan besar yang berada pada lokasi tersendiri maupun yang berlokasi pada pusat perbelanjaan/mal hanya menerima delivery/take away dan tidak memerima makan di tempat (dine in).

Kegiatan pada pusat perbelanjaan/mal/pusat perdagangan ditutup sementara kecuali akses untuk restoran, supermarket, dan pasar swalayan dapat diperbolehkan dengan protokol kesehatan ketat dengan kapasitas pengunjung 50 persen dan jam operasional sampai dengan jam 20.00 malam.

Kebijakan khusus yang diberikan pemerintah hendaknya disikapi pelaku usaha kecil, pedagang dan mereka yang menggantungkan hidupnya untuk cari makan dengan pemasukan harian hendaknya disikapi dengan bijak dengan cara menjadi bagian dari warga yang turut serta memerangi pandemi Covid-19. Pelaku usaha harus secara otodidak dan secara bersama sama dengan warga lainnya untuk memerangi Covid-19.

Pelaku usaha jangan membiarkan pemerintah bekerja sendiri dalam menangani Covid-19, begitu juga pemerintah mesti memastikan tidak ada warganya yang kelaparan dan melarat karena pandemi Covid-19.

Semua harus bergotong royong. Pemerintah, pengusaha mapan, perusahaan, media, akademisi, dunia kampus, karyawan harus bergandengan tangan dalam menghadapi musuh Covid-19 yang bisa menjadi penghancur negara. (***)

Dr Isradi Zainal
Rektor Uniba – Ketua Komisi Dewan Kesehatan dan Keselamatan Kerja Nasional (DK3N)

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


To top