search
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Debbie Rusdin Konsultasi Publik Ranperda Transformasi Perpustakaan

doelbeckz - Pluz.id Selasa, 28 Desember 2021 23:00
Andi Debbie Purnama Rusdin. foto: istimewa
Andi Debbie Purnama Rusdin. foto: istimewa

PLUZ.ID, MAKASSAR – Pendidikan adalah modal dasar sebuah pembangunan kebangsaan. Tentunya pendidikan tidak berdiri sendiri, melainkan harus ditopang berbagai perangkat, salah satunya adalah literasi yang bersumber dari bacaan, yakni buku.

Untuk itu, sebagai keseriusan menumbuhkan minat baca, DPRD Provinsi Sulsel secara bersama-sama berupaya menghadirkan Peraturan Daerah (Perda) tentang Transformasi Perpustakaan.

Hal tersebut diungkapkan anggota DPRD Provinsi Sulsel dari Fraksi Golkar, Andi Debbie Purnama Rusdin, saat melakukan sosialisasi Konsultasi Publik Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Transformasi Perpustakaan di Hotel Four Points By Sheraton Makassar, Selasa (28/12/2021).

“Sebab buku adalah pembawa peradaban. Tanpa buku, sejarah itu akan menjadi sunyi, buku adalah mesin perubahan, jendela dunia. Untuk itu, kami di DPRD untuk menumbuhkan minat baca berupaya menghadirkan regulasi Rancangan Peratutan Daerah tentang Transformasi Perpustakaan,” kata Debbie Rusdin.

Melalui konsultasi publik yang menghadirkan akademisi, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel, praktisi hukum, media, dan mahasiswa, Debbie Rusdin mengharapkan, mampu melahirkan kesapahaman melahirkan perda yang solutif untuk pembangunan daerah.

“Ide dan panggalangan harapan dari konsultasi publik ini, akan kami jadikan bahan referensi terkait penyempurnaan Ranperda Transformasi Perpustakaan,” harap anggota Komisi E DPRD Sulsel ini.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulsel, Hasan Sijaya, hadir dalam kegiatan ini, menyampaikan apresiasi atas inisiasi DPRD yang mendorong Rancangan Peraturan Daerah tentang Transformasi Perpustakaan.

“Tentu saya orang paling bergembira dan berterima kasih dengan Rancangan Peratutan Daerah tentang Transformasi Perpustakaan yang diInisiasi teman-teman di DPRD. Tentunya ini menjadi payung hukum kami, karena selama ini saya hanya menggunakan pergub (peraturan gubernur) dalam pengelolaan dana hibah,” ujarnya.

Hasan Sijaya menjelaskan, dirinya terus melakukan perubahan-perubahan perpustakaan yang lebih modern agar memberi kenyaman bagi pengunjung dan menumbuhkan minat baca.

“Bagaimana memberi ruang layanan
perpustakaan yang nyaman. Buku lengkap, ruangannya asri, internetnya bagus, dan pelayanan bagus. Selain itu, kami membenahi secara fisik perpustakaan, tapi juga membenahi sumber daya manusianya,” jelas Hasan Sijaya.

Disebutkan, selain perpustakaan umum, saat ini di Sulsel sudah terdapat 50 perpustakaan lorong.

“Jadi kami juga punya program perpustakaan lorong, saat ini sudah ada 50 perpustakaan lorong,” tutur Hasan Sijaya.

Sementara, akademisi dari Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Hasrul, menekankan bagaimana upaya pihak perpustakaan menggerakkan orang agar ramai dikunjungi.

“Bagaimana membuat inovasi
ada upaya untuk mengerakkan orang ke perpustakaan. Saran saya dibuat sesuatu hal yang menarik agar ramai dikunjungi,” ucap akademisi yang akrab disapa Lulu ini.

Dicontohkan, agar perustakaan bagaimana menarik dikunjungi, mengubah kebiasaan anak muda atau pelajar, dan mahasiswa yang biasanya nongkrong di cafe pindah ketemuan nongkrong di perpustakaan sambil membaca.

“Bagaimana mengubah kebiasaan, anak anak-muda, yang tadinya di cafe ke perpustakaan. Dan kegiatan di perpustakaan di posting di medsos (media sosial) ini bisa menarik minat berkunjung di perpustakaan,” harap Lulu.

Hadir sebagai tim perumus, diantaranya Kabag Persidangan DPRD Sulsel Andi Amir Hamzah, Praktisi Hukum Sulaiman Syamsuddin dan Bazra, dan Akademisi UIN Attock Suharto. (***)

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


To top