Sejumlah item evaluasi khatib, diantaranya materi dan metode dakwah mubalig IMMIM, kefasihan membaca ayat/hadis, ketepatan waktu tiba di masjid, serta penampilan khatib, dan lainnya.
Pada sesi diskusi menampilkan dua narasumber, yakni Dr Nurhidayat dan Dr M Ishaq Shamad yang dipandu Hasan Pinang. Kedua narasumber membahas pentingnya digitalisasi dalam layanan dakwah IMMIM.
Nurhidayat menegaskan, layanan dakwah IMMIM mengacu pada kualifikasi mubalig dan klasifikasi masjid. “Mubalig yang berada pada kualifikasi A, bertugas di masjid klasifikasi A, B, dan C. Namun, mubalig kualifikasi C, hanya di masjid klasifikasi C, tidak bisa ke B atau A,” jelasnya.
Sementara, Dr M Ishaq Shamad yang juga Sekjen IMMIM memastikan program digitalisasi layanan dakwah IMMIM tahun 2021 akan lebih banyak menggunakan media WA Grup, e-Buletin Shautul Masajid, YouTube, Website, dan sejumlah media online lainnya dalam menyampaikan jadwal khatib, baik kepada mubalig maupun kepada pengurus masjid.
“Jadi jika selama ini, banyak mubalig dan pengurus masjid dikontak melalui telepon, maka tahun 2021, penggunaan telepon dibatasi, tetapi lebih banyak penggunaan media online,” jelasnya.
Dr Das’ad Latif yang hadir pada momen tersebut, juga ikut berbagi pengalaman dalam berdakwah dengan menggunakan media digital, seperti YouTube.
Das’ad mengatakan, followenya saat ini telah melampaui follower dai kondang lainnya, yakni mencapai lebih dari 100 juta. Ia mengajak para mubalig IMMIM untuk memanfaatkan teknologi medsos dalam berdakwah, sehingga jangkauan dakwahnya lebih luas. (***)