search
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Guru Honorer di Maros Terabaikan, Harapan Baru Itu Bernama Tahfidz

doelbeckz - Pluz.id Minggu, 08 November 2020 18:00
Andi Awaluddin Patarai. foto: istimewa
Andi Awaluddin Patarai. foto: istimewa

KLAIM Juru Bicara HatiKita Keren, Chaerul Syahab bahwa kondisi pendidikan di Maros dari sisi infrastruktur dan kualitas pendidikan sudah sangat baik di periode Hatta Rahman, dipertanyakan.

Faktanya, berdasarkan data Dapodik, ada 303 ruang kelas SD dan 115 ruang kelas SMP di Maros dalam kondisi rusak. Meskipun ada juga sekolah yang tampak sangat mewah.

Ini berarti, Hatta Rahman sukses membangun ketimpangan dan ketidakmerataan dalam dunia pendidikan di Maros.

Apakah kesejahteraan guru di Maros sudah bagus? Guru-guru honorer di Maros mendapatkan honor jauh dari kata layak. Honor mereka maksimal hanya Rp300.000 per bulan. Itu pun diterima 3 bulan sekali. Honor ini sangat jauh dari upah minimum Kabupaten Maros yang mencapai Rp3.871.052 per bulan.

Jika tata kelola pendidikan di Maros sudah sangat baik maka seharusnya kabupaten Maros sejajar dengan wilayah di Provinsi DKI Jakarta serta Bekasi, Surabaya dan kabupaten/kota lain di Indonesia yang sudah memberikan upah minimum kepada para gurunya.

Berdasarkan data Dapodik, ada 7.300 guru dan tenaga kependidikan di Kabupaten Maros, 1.929 atau 26, 42 persen diantaranya sampai hari ini belum memiliki NUPTK.

Sementara itu 379 guru di jenjang SD dan SMP akan pensiun dalam 4 tahun ke depan. Itu berarti bahwa akan ada 2.308 guru dan tenaga kependidikan yang terancam tidak akan menerima honor sebagai guru.

Halaman

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


To top