search
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Guru Honorer di Maros Terabaikan, Harapan Baru Itu Bernama Tahfidz

doelbeckz - Pluz.id Minggu, 08 November 2020 18:00
Andi Awaluddin Patarai. foto: istimewa
Andi Awaluddin Patarai. foto: istimewa

Dengan memiliki NUPTK maka guru sudah memiliki izin mengajar sebagaimana SIM bagi pengendara kendaraan bermotor. Selain guru memiliki ijin mengajar, guru pun akan mengikuti PPG (Program Profesi Guru).

Guru yang dinyatakan lulus PPG akan berstatus guru bersertifikasi dan akan mengajukan tunjangan profesi guru yang besarnya hampir sama dengan gaji guru. Dengan memperoleh Tunjangan Profesi Guru maka pendapatan guru sudah baik, status guru jelas sebagai guru profesional dan gurupun memiliki izin untuk mengajar di sekolah pendapatan guru juga tak terpengaruh konstalasi politik daerah.

Lalu mengapa ada paslon yang tidak mau menerbitkan SK Bupati, semua itu kembali pada pengetahuan mereka dan tim sukses mereka.

Di Kalimantan Selatan, 13 Kabupaten/kota ditambah Pemprov Kalsel sudah menerbitkan SK bagi huru dan tenaga kependidikan. Maka itu sebaiknya guru dan tenaga kependidikan di Maros beserta keluarganya harus berpikir ulang untuk memilih pasangan calon yang enggan menerbitkan SK Bupati.

Lebih baik Guru dan Tenaga Kependidikan di Maros memastikan pilihan mereka kepada paslon yang jelas komitmennya terhadap guru.

Seperti diberitakan sejumlah media, calon Bupati, Andi Tajerimin Nur menemui khusus ketua Umum Ikatan Guru Indonesia, Muhammad Ramli Rahim untuk memastikan komitmen membangun dunia pendidikan di Maros. Tajerimin dan calon wakil bupati Havid S Fasha (paket ini berakronim Tahfidz) berkomitmen “Hari ini dilantik, besok SK Bupati untuk guru diterbitkan”.

Selain itu, sebagai bentuk komitmennya bagi upaya perbaikan kualitas pendidikan di Maros, Tajerimin akan “menyerahkan” pendidikan ke MRR. Kata menyerahkan adalah permintaan Haji Tajerimin agar MRR turun ke Maros memberikan pendampingan, masukan, saran dan upaya konkret dalam mengelola pendidikan, tentu saja Dinas Pendidikan tetap menjalankan peran sentralnya dengan MRR sebagai advisor-nya.

Langkah mengajak MRR tentu saja adalah sebuah langkah cerdas Tajerimin. MRR adalah tokoh muda putra asli Maros yang menjadi tokoh nasional di bidang pendidikan pada usia yang masih sangat muda.

Di usia 37 tahun, MRR telah memimpin organisasi level nasional dan memberikan warna begitu jelas dalam dunia pendidikan terutama peningkatan kualitas guru, Kegemilangan ini ditulis oleh para guru dari seluruh penjuru Indonesia dalam buku “Strategi MRR Mengubah Wajah Pendidikan Indonesia” yang langsung menjadi best seller. Sebanyak 1.000 eksamplar cetakan pertamanya langsung terjual kurang dari seminggu.

Oleh karena itu, Tajerimin sesungguhnya datang setelah 32 tahun mengais rezki di tanah Papua, kembali ke tanah kelahiran yang telah membawa sukses di negeri ingin memperbaiki kampung halamannya, terutama dalam dunia pendidikan. (***)

Andi Awaluddin Patarai
Bendahara AMPG Maros

Halaman

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


To top