
PLUZ.ID, MAKASSAR – Anggota DPRD Kota Makassar, Irwan Djafar, menggelar sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) nomor 17 tahun 2006 tentang Pengelolaan Parkir Tepi Jalan Umum dalam Daerah Kota Makassar di Hotel Grand Town Makassar, Minggu (12/12/2021).
Irwan Djafar mengatakan, regulasi ini terbilang lama, sudah memasuki usia 15 tahun. Namun, masih sedikit masyarakat memahami konten Perda tentang Pengelolaan Parkir. Sehingga, perlu edukasi yang masif.
“Saya kira ini perda lama. Makanya, kita bahas dasar-dasarnya saja terutama hak dan kewajiban. Lebih ke edukasi masyarakat soal parkir,” jelasnya.
“Ini yang menjadi penting, dengan meminta karcis parkir, maka itu bentuk transparansi pendapatan,” tambahnya.
Irwan Djafar menilai, perparkiran menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sehingga, ia meminta agar melakukan penataan ulang parkir di Makassar.
“Kami ingin pengelolaan parkir berjalan dengan baik, sehingga nantinya bisa dinikmati pengguna. Apalagi, jika tertata dengan baik, maka berdampak pada PAD,” ungkapnya.
Irwan Djafar menjelaskan, aktivitas kendaraan di Makassar semakin meningkat. Jika tidak ditata dengan baik, maka berdampak pada arus lalu lintas. Perumda Parkir Makassar Raya harus memberikan solusi terkait semrawutnya perparkiran saat ini.
Terpisah, Narasumber Kegiatan, Asrul Baharuddin, menyampaikan, kewenangan direksi Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Parkir Makassar Raya ditentukan wali kota. Salah satu diantaranya mengenai titik atau tempat parkir.
“Direksi berwenang mengatur kembali atau merubah tata ruang dan desain peruntukan tempat parkir dengan persetujuan wali kota,” jelasnya.
Dikatakan, perda ini mengatur jenis pungutan dan tarif jasa. Berdasarkan pasal 5 menyebutkan jenis pungutan dan tarif jasa parkir ditetapkan direksi. Termasuk dalam menetapkan tarif progresif.
“Tarif progresif ini dapat dikenakan kepada orang atau badan hukum. Itu, setelah mendapat persetujuan wali kota,” katanya.
Dijelaskan, setiap orang atau badan hukum yang melanggar regulasi ini akan mendapat sanksi. Ancamannya kurungan penjara enam bulan atau denda Rp50 juta yang selanjutnya disetor ke kas daerah. (***)