Sementara, alumni UNM lainnya, Wahyu Pratama, melihat banyaknya sikap tendensius dan serangan pribadi dari paslon lain ke Danny-Fatma justru semakin menunjukkan kalau mereka tak mampu lagi bersaing secara sehat. Bukan lagi saling mengadu pemikiran, malah sibuk menjatuhkan kesalahan pribadi Danny-Fatma yang jauh dari konsep dan tema debat.
“Saya yakin masyarakat Kota Makassar sudah cerdas menilai. Paslon yang hanya mampu menyerang pribadi paslon lainnya itu karena tak mampu membuktikan apa-apa. Saya sendiri sudah mantap mendukung pasangan Adama, karena penjabarannya yang berbasis data dan fakta,” paparnya.
Senada disampaikan alumni Universitas Muslim Indonesia (UMI), Achan Rusli. Menurutnya, calon pemimpin sejatinya memberikan contoh yang baik kepada masyarakat.
“Generasi milenial itu melihat siapa yang mampu berkarya untuk Makassar. Bukan yang justru mempertontonkan ajang adu domba. Adama pilihan tepat, bukti kedewasaan seorang kandidat ditunjukkan dalam panggung debat,” kata Achan Rusli.
Lain lagi dengan alumni Universitas Hasanuddin (Unhas), Fadel M. Ia mengaku, salut dengan Danny-Fatma yang konsisten menyampaikan visi misinya tanpa terpengaruh gaya kandidat lain yang mencoba memainkan emosionalnya.
“Ini bukti kematangan Danny-Fatma dalam sebuah kontestasi politik. Keduanya on the track menyajikan gagasan pemikirannya untuk kemajuan Kota Makassar,” bebernya.
“Danny-Fatma pasangan komplet. Di ajang debat keduanya terlihat saling melengkapi. Ini modal awal untuk membangun Kota Makassar. Debat kedua ini membuat saya semakin yakin mendukung pasangan Adama. Saya yakin banyak anak muda Kota Makassar yang memutuskan mendukung Danny-Fatma pasca debat kedua ini,” timpal Lukmanul Hakim, alumni STMIK Dipanegara. (***)